Komisi IV DPRK Banda Aceh melakukan pertemuan dengan Kepala Dinas Kesehatan dan para kepala Pukesmas di Kota tersebut. Pertemuan ini membahas penanganan COVID-19 yang terus merambah di ibu Kota Provinsi Aceh. Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Tati Meutia Asmara mengharapkan untuk daerah tersebut agar dilakukan pengadaan alat tes uji swab oleh Pemerimntah setempat. "Turut juga bertemu dengan direktur RSUD Meuraxa, dari pertemuan itu sangat banyak menemukan permasalahan baru, yaitu claster-claster baru yang terbentuk di Kota Banda Aceh," kata Tati Meutia Asmara kepada wartawan usai pertemuan dengan mitra kerja,Kamis (6/8/2020).

Yuk Intip Composting House Milik DLHK3 Banda Aceh

Diskominfotik Banda AcehPembuatan Composting House
A A A

BANDA ACEH — Pemerintah Kota Banda Aceh terus berupaya mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan di sekitaran kota. Salah satu upaya yang sedang dilakukan yaitu dengan pembuatan Composting House yang berada di Desa Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Hamdani SH mengatakan program Composting House ini sudah berlangsung sejak lima tahun lalu, dimana lewat program ini pihaknya akan mengambil sampah organik yang ada di Pasar Ulee Kareng dan desa sekitarnya untuk diolah kembali menjadi pupuk kompos.

“Terkait program kompos skala komunal di gampong Ilie itu sudah sekitar lima tahun yang lalu telah kita bangun namun tidak nampak karena tidak tereskpos,” kata Hamdani di Kantornya, Selasa (16/6).

Setiap bulannya, Composting House ini mampu menampung sebanyak dua (2) ton sampah organik dari kapasitas keseluruhan sebanyak 50 ton. Proses pengolahan sampah menggunakan metode windrow.

Sampah yang diambil tersebut akan melewati beberapa tahap terlebih dahulu, diantaranya pencacahan menggunakan mesin pencacah sampah, lalu ditumpuk dan diaduk sebanyak 1-2 kali dalam seminggu.

Proses penumpukan ini memakan waktu 3-6 bulan lamanya, tergantung bahan baku sampah organiknya.

“Proses pembusukan ini tergantung dari bahan baku itu sendiri, kalau sampah buah, sayur itu lebih cepat yaitu selama 3 bulan, sedangkan untuk sampah seperti ampas tebu itu bisa sampai 6 bulan baru siap diproses,” jelas Kasi Teknologi Pengelolaan Sampah DLHK3 Kota Banda Aceh Rosdiana ST MT di lokasi pengolahan sampah, Selasa (16/6).

Setelah ditumpuk, sampah tersebut akan dikeringkan selama dua pekan. Kemudian baru diayak dan didiamkan selama sehari sebelum dikemas.

“Setelah kita ayak, kita diamkan selama sehari agar binatang pemakan akar yang ada di kompos itu hilang,” kata Sugimin, pekerja di Composting House.

Menurutnya, proses perawatan ini harus dilalui agar pupuk terlihat halus dan tidak kasar.

Setelah dikemas, kompos tersebut dibagikan untuk warga sekitar dan beberapa dijual ke pengusaha garden yang ada di Kota Banda Aceh. Namun, harga yang dibandrol oleh pengusaha garden tergolong murah, hanya Rp1500 per kilogram.

“Selain untuk garden disekitar Kota Banda Aceh, untuk masyarakat sekitar juga kita bagi secara cuma cuma, kadang juga digunakan pemupukan untuk taman disekitar Kota Banda Aceh,"katanya.

Rubrik:BANDA ACEH

Komentar

Loading...