Ketua Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A), Dr. Samsuardi, MA, menjadi narasumber peHTem edisi Senin, 3 Oktober 2022 episode ke 13 Tahun ke 3 dengan tema: Benarkah di Bawah Tangan Alhudri Pendidikan Aceh Terpuruk? yang dipandu oleh host Siti Aminah, S.IP, M.MLS, Jangan lupa like share comment and subsribe.

Yang Penting Rakyat Sejahtera

Istimewa.
A A A

Resikonya bila harga-harga naik dikhwatirkan semakin tertekan daya beli masyarakat dan akan dengan sendirinya kemiskinan akan bertambah

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

HARI–hari dipenghujung bulan Agustus 2022 setelah perayaan HUT RI dikagetkan dengan berita akan dinaikan harga BBM.

Respon berbagai macam atas keluarnya berita itu, ada yang menganggapnya biasa saja dan ada pula yang menganggap ini sesuatu yang serius. Bagi yang menganggap biasa saja itu berfikir bahwa pencetus berita itu lagi melemparkan isu dan melihat sejauh mana respon publik itu mendukung atau tidak, bila banyak yang mendukung dan analisisnya tidak ada gejolak yang berarti maka kemudian harga BBM benar-benar akan dinaikkan dengan alasan untuk mengurangi beban APBN.

Bagi yang menganggap hal tersebut sesuatu yang serius itu memiliki pandangan kepekaan terhadap kehidupan sosial masyarakat yang beranjak pulih dari terpaan covid-19 dan tiba-tiba tidak ada angin dan hujan terbebani lagi dengan tingginya biaya hidup akibat dari akan melambungnya harga-harga dari dampak naiknya harga BBM, dan pada kalangan ini langsung bersuara bahwa sebaiknya jangan dulu dinaikkan harga BBM untuk menjaga tren positif pertumbuhan yang sedang berlangsung, walaupun mereka mengetahui subsidi yang besar itu akan ditanggung oleh APBN dan itu sejatinya tidak mengapa karena tujuan bernegara (APBN) itu adalah untuk kesejahteraan rakyat semua.

Bila sebuah pengumuman resmi yang terucap dari kaum elit yang mengurusi Negara, maka pasar akan langsung merespon.

Seperti halnya pengumuman kenaikan harga BBM, maka begitu diucapkan langsung pasar akan merespon dan biasanya pelaku usaha sedikit banyak langsung menaikan harga-harga dan begitu harga BBM benar-benar dinaikan dengan sendirinya harga-harga langsung dinaikkan lagi. Maknanya, adalah semestinya formula kenaikan harga harus dirumuskan secara matang terlebih dahulu baru kemudian diumumkan dan antara pengumuman dengan tindakan tidak memiliki jeda waktu terlalu lama, maka harga-harga barang naiknya sekali saja sejalan naiknya harga BBM itu sendiri.

Selanjutnya, bila harga BBM benar-benar naik itu mestinya harus transparan tentang item-item pembentukan harga BBM itu sendiri jangan cuma hanya membandingkan dengan harga yang ada di Negara lain.

Alasan subsidi dikurangi dari yang sudah ada disektor energy khusus BBM karena dengan agar dapat mengurangi beban di APBN atau menyelamatkan APBN itu sendiri, dan rakyat meyakini bila BBM naik akan memicu inflasi yang akan menanjak naik.

Resikonya bila harga-harga naik dikhwatirkan semakin tertekan daya beli masyarakat dan akan dengan sendirinya kemiskinan akan bertambah, maka tujuan bernegara (APBN) untuk mensejahterakan masyarakat sungguh tidak bisa terjadi.

Ketika demikian adanya, maka muncul pertanyaan mengurangi subsidi itu dengan mempertahan subsidi mana yang jauh lebih mudharat?.

Jika mengurangi subsidi BBM mudharatnya lebih sedikit dibandingkan dengan mensubsidikan BBM, maka kemudian menaikan harga BBM merupakan pilihan terbaik. Bila mengurangi subsidi (manaikan harga BBM) mudharatnya lebih besar dari tidak dinaikkan harga BBM, maka pilihan terbaik tetap disubsidi seperti yang selama ini terjadi.

Kemudian, jika kita sebagai rakyat berandai andai keputusan menaikan harga BBM tidak bisa ditunda, maka dapat dipastikan akan semakin murung perekonomian masyarakat terutama kaum ekonomi lemah yang pendapatan harian dari upahan karena tidak mungkin upahnya naik dan pada sisi lain harga-harga kebutuhan sudah pasti naik. Akibatnya kemudian lonjakan kemiskinan tidak bisa dihindari, terutama yang tercatat termiskin akan semakin miskin lagi. Semoga keputusan terbaik yang diambil oleh pemangku kepentingan harus selalu mempertimbangkan kemaslahatan rakyat agar sebuah kebijakan tidak seharusnya membuat rakyat menderita. Salam dari bumoe Serambi Mekkah.[]

*) Dr. Zainuddin, SE, M.Si
Dosen Fakultas Ekonomi Serambi Mekkah Banda Aceh

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...