Komisi IV DPRK Banda Aceh melakukan pertemuan dengan Kepala Dinas Kesehatan dan para kepala Pukesmas di Kota tersebut. Pertemuan ini membahas penanganan COVID-19 yang terus merambah di ibu Kota Provinsi Aceh. Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Tati Meutia Asmara mengharapkan untuk daerah tersebut agar dilakukan pengadaan alat tes uji swab oleh Pemerimntah setempat. "Turut juga bertemu dengan direktur RSUD Meuraxa, dari pertemuan itu sangat banyak menemukan permasalahan baru, yaitu claster-claster baru yang terbentuk di Kota Banda Aceh," kata Tati Meutia Asmara kepada wartawan usai pertemuan dengan mitra kerja,Kamis (6/8/2020).

Warga Blokir Pintu Masuk PLTU Nagan Raya

SITI AISYAHPuluhan Warga Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, melakukan aksi pemblokiran pintu masuk lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3-4 Nagan Raya
A A A

NAGAN RAYA - Puluhan Warga Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, melakukan aksi pemblokiran pintu masuk lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3-4 Nagan Raya, Rabu 3 Juni 2020.

Aksi pemblokiran yang didominasi kaum perempuan itu bertujuan untuk meminta pihak PLTU 3-4 menggantikan sementara aktivitas pengangkutan material terutama tanah timbunan untuk kebutuhan PLTU tersebut dengan alasan debu yang bertebangan di pemukiman mereka.

Salah seorang peserta aksi Darna mengatakan, pihaknya tidak bermaksud menggangu aktivitas pembangunan PLTU itu, namun mereka hanya meminta ganti rugi segera dilakukan.

"Kami tidak ada urusan dengan pembangunan di dalam silahkan. Tapi untuk angkut material berupa tanah kami minta berhenti dulu, kami tidak sanggup lagi makan abu," ujar Darna warga Kuala Pesisir Helaina.

Warni, warga yang ikut aksi juga mengatakan jika selama ini banyak mobil perusahan yang keluar masuk namun jalan tidak disiram. Bahkan saat mereka memberhentikan mobil-mobil tersebut tidak pernah menghiraukan.

"Udah banyak kali mobil yang jalan tidak disiram, kami stop pun ngk mau mereka berhenti. Ya kami pagar aja jalannya biar tahu pihak perusahaan di dalam sana," kata Warni

Dikatakannya, sudah enam tahun dijanjikan relokasi namun sampai saat ini warga masih tinggal di area pembangkit listrik PLTU 1-2 dan perusahaan tambang batu bara, malahan saat ini ditambah lagi kegiatan perluasan pembangunan area PLTU 3-4 Nagan Raya.

"Sudah sejak 2015 kami dijanjikan relokasi, tapi sampai sekarang kami masih di sini, setiap saat hirup debu. Persoalan ganti rugi belum selesai ditambah lagi pembangunan PLTU 3-4, hidup kami benar-benar sudah sangat sekarat," tambahnya.

Sementara itu Adi Irwansyah, pimpinan kontraktor pekerja PLTU 3-4 dari perusahaan PT Perdana Dinamika Persada (PDP), menyampaikan, bahwa pekerjaan proyek mereka baru berjalan sekitar 1 tahun lalu dan semua keluhan warga akan direspon.

"Keluhan warga sudah kita terima, mobil pengakut material tidak boleh lagi bermuatan penuh, tidak boleh ngebut, wajib menutup bagian atas. Soal debu akan kita siram secara rutin. Kalau ada pihak rekanan tidak mengindahkan akan disanksi," tegasnya.

Menyangkut dengan persoalan ganti rugi dan relokasi warga setempat kata Adi, perusahaannya tidak begitu mengetahui karena berkaitan dengan perusahaan-perusahaan lain dan yang bekerja lebih awal dari mereka.

Aksi tersebut dilakukan sekitar pukul 15.30 WIB dengan memasang kursi dan bambu serta menduduki lokasi, sehingga membuat ratusan mobil truk pengangkut material pembangunan PLTU 3-4 tersebut tidak dapat keluar dan terhenti

Pantauan dilokasi juga terlihat kemacetan yang terjadi di jalan lintas Provinsi Medan - Aceh, truk terparkir di sebagian badan jalan sementara debu di kawasan ini sangat banyak, beruntung warga menggenakan masker di tengah pandemi covid-19.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...