Direktur Dana dan Jasa Bank Aceh Syariah, Amal Hasan menjadi narasumber peHTem edisi Senin 10 Mei 2021 Episode 37 Tahun ke 2 dengan Tema: Sahuti Kebutuhan Masyarakat, Bank Aceh Luncurkan Kartu Debit yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Undang Dua Legislator Perempuan, Diaspora Indonesia di Turki Gelar Webinar Peringatan Hari Kartini

Dyah Roro Esti, M.Sc
A A A

ANKARA – Caraka Muda Nusantara, komunitas diaspora Indonesia di Turki menggelar Webinar Kartini dengan tema “Peranan Perempuan dalam Demokrasi Mencapai Visi Indonesia Maju 2045” pada Rabu, 21 April 2021.

Agenda tersebut menghadirkan Hetifah Sjaifudian selaku Wakil Ketua Komisi X DPR RI, dan Dyah Roro Esti Anggota Komisi VII DPR RI sebagai narasumber. Kegiatan ini juga menghadirkan Haka Fajriana seorang mahasiswa Master Biochemistry, Sakarya University sebagai moderator.
Selain itu, Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Ankara, Sinta Agathia, juga memberikan welcoming speech dan secara resmi membuka acara tersebut.

“Hari ini kita memperingati napak tilas perjuangan Ibu Kartini. Berkat perjuangan Ibu Kartini, posisi perempuan Indonesia sekarang equal dengan kaum pria, yang dahulunya tidak demikian. Sejatinya, perempuan berperan penting dalam mendidik generasi penerus bangsa yang cerdas dan unggul. Sehingga, kemajuan suatu bangsa itu tergantung dari kemajuan kaum perempuan itu sendiri,” kata Sinta Agathia.

Selanjutnya moderator Haka Fajriana memantik pertanyaan mengawali seminar kali ini. “Ada dua tema yang akan disampaikan dalam webinar ini, pertama adalah peranan perempuan dalam politik kebangsaan. Sedangkan tema kedua adalah peranan milenial dalam pelestarian lingkungan hidup. Kemudian, bagaimana sebenarnya Ibu Kartini menginspirasi perubahan bagi perempuan Indonesia saat ini?”

Menanggapi pertanyaan tersebut Hetifah Sjaifudian menyebutkan, “Kita mencapai banyak kemajuan terkait tingkat keterwakilan perempuan dalam politik dibandingkan periode sebelumnya."

Menurutnya dalam pemilu 2019, persentase caleg perempuan telah mencapai 40,08 persen tetapi yang terpilih sebagai anggota dewan adalah 20,8 persen. Tingkat keterpilihannya masih rendah sehingga dibutuhkan upaya lebih untuk mencapai keterwakilan 30 persen perempuan di parlemen.

“Kehadiran perempuan dalam demokrasi adalah simbol terkait nilai perilaku dimana perempuan dianggap lebih bersih, lebih partisipatif, dan lebih peduli terhadap kaum marjinal. Selain itu juga kehadiran legislator perempuan bisa menghasilkan kebijakan yang pro-perempuan. Para Kartini masa kini diharapkan dapat melanjutkan cita-cita dan perjuangan Ibu Kartini dalam memajukan kaum perempuan," ungkap Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut.

Terkait representasi perempuan dalam posisi publik dan pemerintahan, Hetifah menyatakan, “tugas kami adalah membukakan pintu agar lebih banyak perempuan berpeluang menduduki posisi publik. Kami berupaya untuk membuka sistem agar partai politik lebih ramah dan terbuka untuk perempuan."

"Selain itu juga saat ini kita telah memiliki ketua DPR, ketua komisi dan bahkan para menteri perempuan. Kita harus ubah pola pikir dan menegaskan bahwa perempuan Indonesia sudah selayaknya mampu untuk berkontribusi di dunia politik,” tambah Hetifah.

Sementara itu Dyah Roro Esti menjelaskan peran perempuan dalam isu lingkungan. Menurutnya salah satu faktor dalam mencapai Indonesia Emas 2045 adalah ketahanan energi dan komitmen lingkungan hidup dan pembangunan rendah karbon.
"Sebagai anggota parlemen perempuan saya terlibat untuk mendorong kebijakan yang mendukung pembangunan berkelanjutan dalam mencapai visi tersebut,” kata Dyah.

Dyah selanjutnya menyampaikan partisipasi milenial dalam aksi penyelamatan lingkungan. “Harus ada bottom up approach, kita pernah terjun bersama anak muda melakukan riset lingkungan dan menemukan bahwa 60 persen sampah yang ditemukan di kawasan pantai adalah plastik. Jadi ini merupakan masukan tersendiri bagi pemerintah daerah dan pusat dalam merumuskan suatu kebijakan lingkungan yang komprehensif," kata Co-Founder The Indonesian Energy and Environmental Institute tersebut.

Dyah menjelaskan motivasinya untuk terlibat dalam aktivitas politik di usianya yang masih muda.

“Saya merasa terpanggil untuk masuk ke dalam politik, karena jika kita berada di dalam sistem kita dapat melakukan perubahan dalam lingkup yang lebih besar dan dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat luas.”

Webinar Kartini ini dihadiri secara online oleh puluhan diaspora dan pelajar di Indonesia dan Turki. Agenda ini juga didukung oleh berbagai organisasi diaspora seperti PPI Ankara, Radio PPI Turki, Gelin Indonesia Ankara, KAMMI Turki, Bale Institute, Seputar Kampus dan Indonesia Youth Foundation.[]

Sumber:rilis
Rubrik:DUNIA

Komentar

Loading...