Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

TKA – China Masuk, Pemerintah Aceh Diam?

ISTIMEWAAkademisi dan pengamat sosial dari Universitas Muhammadiyah Aceh, Dr Taufiq Abdul Rahim.
A A A
Buya krueng teudong-dong, buya tamong meuraseki

BANDA ACEH - Seminggu terakhir isu Tenaga Kerja Asing (TKA) asal negara China terus masuk ke Aceh, bahkan langsung ke Nagan Raya untuk dipekerjakan di proyek Perusahaan Listrik Tenaga Uap (PLTU)-Batubara dengan perlakuan istimewa.

Bahkan dengan berbagai alasan yang sangat dipaksakan, seolah-olah mesti diterima agar dapat menjalankan tugas sehingga aktivitas industri tersebut tidak tersendat serta terhenti.

Hal itu menjadi perhatian dari akademisi dan pengamat sosial dari Unmuha Aceh, Dr Taufiq Abdul Rahim. Dia mempertayakan,
apakah benar teknologi permesinan dan aktivitas industri modern yang digunakan oleh PLTU Nagan Raya sangat dan atau demikian canggihnya?

"Sehingga aktivitas dan pekerjaanya tidak dapat dilakukan oleh tenaga kerja dalam negeri, domestik, putra daerah dan orang Nagan Raya sendiri," tanya Taufiq Abdul Rahim, Sabtu (12/9/2020).

Yang mengherankan katanya, ditengah melonjaknya jumlah pengangguran di Aceh akibat Covid-19, tetapi ada usaha secara masif dan sistematik memasukkan TKA-China ke daerah ini, dan Pemerintah Aceh diam saja.

"Hebatnya Pemerintah Aceh dibuat tidak berdaya dan mesti menerima mereka. Yang terbaru datang sebanyak 41 orang," katanya.

Pada saat ini pengangguran yang meningkat di Aceh, "apakah masih juga merasa pura-pura tidak menganggur?"

Sehingga biar dianggap, inilah salah satu cara provinsi Aceh dan Pemerintahannya dinilai sangat terbuka serta kompetitif menerima tenaga kerja dari mana saja, dengan harapan dapat merangsang investasi dan penanaman modal dapat masuk ke Aceh.

"Ini jelas menggadaikan harga diri serta martabat, karena ingin dikenal sebagai daerah terbuka, sementara pengangguran di Aceh tidak dan belum tentu diterima bekerja pada proyek investasi asing," ujarnya.

"Ataukah ini ada agenda tersembunyi yang tidak mampu dihadapi Pemerintah ataupun elite Aceh terhadap penerimaan dan perlakuan istimewa TKA-China yang masuk ke Aceh," kata Taufiq mempertanyakan kondisi terakhir terkait TKA tersebut.

Jika ini dibiarkan dengan alasan ekonomi, politik ataupun lainnya, maka tindakan pemerintah Aceh sungguh tidak bijak. Karena ditengah kesulitan ekonomi dan pengangguran di Aceh terus bertambah, tenaga keja domestik atau lokal karena tidak adanya lapangan kerja.

"Adanya tempat kerja tapi tidak atau belum tentu diterima bekerja seperti pada proyek PLTU tersebut, ibarat pepatah Aceh "buya krueng teudong- dong, buya tamong meuraseki". ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini sangat naif di diamkan oleh Pemerintah Aceh, apalagi dalam kondisi kepastian hidup masyarakat dan angkatan kerja serta pengangguran yang tidak pasti.

Oleh karena itu, diperlukan sikap bijaksana serta tegas Pemerintah Aceh terhadap gencarnya TKA-China yang masuk ke Aceh.

"Rakyat Aceh sebagai angkatan kerja masih banyak yang menganggur, jika terus dibiarkan dengan alasan ekonomi, politik dan ketidakberdayaan Pemerintah Aceh menghadapinya membela rakyatnya, tentunya sangatlah naif," tuturnya.

Pemimpin Aceh Mandul

Dia menegaskan, jelas Aceh hari ini tergadaikan oleh Pemimpin atau Elite Aceh yang mandul.

"Pemimpin kita saat ini mandul dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, dan
hanya berfikir untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya pada saat menjadi penguasa dan pemimpin Aceh," cetusnya.

Tentu saja kondisi pemimpin seperti ini menambah daftar ketidakpercayaan rakyat Aceh kepada pemimpin atau elitenya, karena mareka hanya berfikir kepentingan ekonomi dan politik serta kekuasaan jangka pendek, yang hanya menguntungkan dirinya, partai dan kelompoknya.

"Jadi sama sekali abai dan tidak perduli terhadap pemasalahan serta persoalan rakyat yang banyak serta berat." demikian kata Dr Taufiq A Rahim.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...