Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Jumat (26/2) malam. Nurdin sendiri tercatat memiliki harta kekayaan sebesar Rp51,3 miliar. Dikutip dari laman Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), kekayaan tersebut dilaporkan Nurdin pada 31 Desember 2019 saat menjabat sebagai gubernur. "Benar, Jumat, (26/2) tengah malam, KPK melakukan tangkap tangan terhadap kepala daerah di Sulawesi Selatan terkait dugaan tindak pidana korupsi," kata Plt. Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri, Sabtu (27/2).

Pilu Warga Aceh Besar di Tanah Gayo

Tinggal di Gubuk Reyot Hingga Anak-anak Putus Sekolah

SAMSUDDINM Yusuf bersama keluarga dengan latar gubuk miliknya
A A A

BENER MERIAH – Akibat kebun gadai takjua ditebusin oleh pemilik kebun, Keluarga M Yusuf S terpaksa harus rela tinggal di gubuk reyot yang terbuat dari terpal di Kampung Pulo Tige Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah.

Secara administrasi, keluarga M Yusuf tercatat sebagai warga Kampung Lam Bada Lhok, Kecamatan Baitulssalam, Kabupaten Aceh Besar.

Hasil pernikahannya dengan Rita Afrida dikarunia tujuh orang anak diantaranya, Nanda Septritama (25), Rhanda (20), Ninda Regina Putri (16), Miken Aryani Putri (12), Risky Putra (10), Anisa Salsabilla Fadilah (8), dan Aufar Rijal Rais (6).

“Pertama saya yang pindah ke Bener Meriah karena sudah tidak punya pekerjaan dan tak punya apa-apa di Aceh Besar, namun seminggu kemudian istri dan anak-anak saya ikut menyusuk ke sini,"kata M Yusuf saat ditemui awak media, Rabu (3/2/2021).

Dari penuturannya, mereka nekat tinggal di rumah reot tersebut dengan alasan menungu pemilik kebun segera menebusi kebun yang digadainya itu. “Janjinya segera ditebusi dari dulu-dulu, hingga hari ini belum juga ditebusi jadi karena hanya ini pengharapan untuk memberikan kebutuhan keluarga saya,"ujarnya.

Pernah Bekerja sebagai Satpam

M Yusuf kepada wartawan meceritakan, sebelum musibah tsunami menimpa serambi mekkah, dirinya mengakui pernah bekerja sebagai Satpam di ICRS, kemudian menjadi tukang becak, kerena kebutuhan keluarga semakin besar dan rumah juga masih sewa dia mencoba untuk pindah ke Bener Meriah.

"Kebetulah saat bekerja disatpam dulu saya punya tabungan, lalu adik saya minta bantuan untuk ambil kebun gadai disini karena dia tidak punya uang sehingga terpakailah uang saya disini,"ceritanya.

Setelah sekian lama proses gadai kebun berjalan, lalu dia memberi kabar kepada sang adik untuk dapat membatu dirinya kembali lantaran sudah mogok kerja alias tidak punya kerja lagi.

Namun, sang adik tidak dapat menyambung asa sang abang, lantaran pemilik kebun tak kunjung menebus kebun yang sudah digadai oleh mereka.

"Kemudian setelah sekian lama kebun itu diambil, saya kasih tau sama adik agar menolong saya karena saya udah mogok kerja,"tutur Yusuf.

Lalu apa jawaban adik?

"Bukan saya yang tidak memberikan uang abang, tapi pemilik kebun ini yang belum ada rezkinya untuk menebusi,"cerita M Yusuf mengutip penyampaan adiknya.

Itu sebabnya, setelah dua pekan Yusuf pun berangkat ke Bener Meriah tanpa membawa anggota keluarga untuk meihat kondisi disana.

“Awalnya cuma saya sendiri, ternyata setelah dua minggu keluarga nyusul semua,"tutur M Yusuf.

Anak-anak Putus Sekolah

Sangat menyedihkan, Sembilan anggota keluarga ini selain harus menempati gubuk reot, sang buah dari M Yusuf bersama Rita Afrida terpaksa putus sekolah.

"Enam orang anak-anak saya harus putus sekolah lantaran akibat terhimpit ekonomi, selain itu kami belum mengatongi surat pindah dari Aceh Besar ke Bener Meriah,"keluhnya.

Memang diakuinya, semenjak awal-awal sudah pernah urus surat pindah lalu di bawa ke Blok C dan dipengang oleh adik, namun karena belakangan hubungan dengan adik sudah tidak harmonis.

"Namun karena hubungan dengan adik sudah enggak bagus lagi saya engak tau lagi surat pindah saya itu dimana,"cerita M Yusuf sambil menitiskan air mata.

Mereka berharap pemilik kebun segera menebusi, agar mereka dapat membeli kebun sendiri. Yusuf menjelaskan, sebenarnya ia merupakan penduduk Kampung Bale Keramat Kecamatan Timang Gajah.

"Lalu dulu sekolah SGO (Sekolah Guru Olahraga) pada tahun 1981 di Banda Aceh. Dan setelah itu saya mulai ngangur terus, lalu mulai membawa becak,"ujarnya.

Kepada awak media M Yusuf mengaku, beberapa hari ini sudah banyak yang mendatangi rumah mereka dan memberikan bantuan . Seperti BPBD Kabupaten Bener Meriah yang telah memberikan seng, beras dan makanan.

“Kami udah terima bantuan dari BPBD, dan kemarin dari Kominitas S3 (Sedekah seribu sehari) mereka memberikan beras, snack, minyak goreng, dan uang Rp400.000,"ungkap Yusuf.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...