Dr. Zainuddin, SE, M.Si, Pakar Ekonomi dan juga Dekan Fakultas Ekonomi USM, narasumber peHTem edisi Kamis 17 Juni 2021 episode 48 dengan tema: Setelah Pedagang Dipaksa Hengkang, Tepatkah Pasar Penayong Jadi Wisata Kuliner? dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Tenang.! Migrasi Siaran TV Digital, Milik Lama di Rumah Tak Perlu Dijual

Nonton Televisi
A A A

JAKARTA - Migrasi ke TV digital secara bertahap mulai diberlakukan oleh pemerintah. Rencananya, siaran TV analog akan mulai dihentikan secara bertahap pada 17 Agustus 2021 mendatang. Masyarakat tak perlu khawatir dengan perpindahan ke TV digital, karena TV lama yang ada di rumah akan tetap bisa digunakan untuk menikmati siaran TV digital.

Penghentian siaran TV analog dan ke TV digital akan dilakukan serentak mulai 2 November 2022 mendatang. Meskipun teknologi penyiarannya telah beralih ke digital, televisi analog tetap bisa digunakan. Artinya, TV Anda yang ada di rumah tak perlu diganti. TV analog masih bisa digunakan.

Terdapat sebuah komponen penting dalam migrasi teknologi TV dari analog ke digital. Dengan adanya komponen ini, masyarakat dapat menonton TV siaran digital dengan kualitas yang  lebih baik dari analog. Komponen tersebut bernama Set Top Box (STB). STB biasa juga disebut sebagai decoder. Ada pula yang menyebutnya receiver.

Sederhananya, STB merupakan piranti teknologi informasi dengan chip processor dan memori sebagai komponen utamanya. Kerja utama dari STB ialah memproses sinyal digital menjadi sinyal analog. Sinyal yang ditangkap oleh antena UHF, lalu dikeluarkan dalam bentuk gambar dan suara ke TV analog. STB membuat pesawat TV analog dapat membaca sinyal digital yang ditangkap oleh antena.

Secara ringkas, STB dapat disebut sebagai ‘penerjemah’. Siarannya juga bisa pula disesuaikan dengan usia penontonnya. Dengan demikian, orang tua dapat mengatur tontonan anak-anak mereka. Selain itu, STB juga menyediakan fitur tambahan seperti informasi kebencanaan.

Dunia penyiaran Indonesia menggunakan sinyal Digital Video Broadcast Terrestrial Second Generation atau DVB-T2. Sinyal DVB-T2 ini adalah jenis sinyal digital yang dibaca dan diterjemahkan dari sistem pengolahan transmisi digital terbaru. Sinyal ini dikembangkan oleh DVB project.

Sedangkan huruf T pada T2 [Terrestrial] mengandung informasi penting, yakni STB-nya dimaksudkan untuk siaran terestrial atau melalui udara. Kemudian angka 2 menunjukkan teknologi yang diterapkan pada sistem adalah generasi kedua. Teknologinya sudah ditingkatkan dari generasi sebelumnya. Sistem DVB-T2 mampu merubah ukuran fail sebuah video menjadi lebih kecil tanpa mengurangi kualitas video.

Penyiaran televisi juga bisa dilakukan melalui kabel, satelit, ataupun internet. STB-nya pun berbeda-beda. Ada STB DVB-C (Cable), DVB-S (Satellite), serta DVB-IPTV (Internet Protocol TV).

Proses migrasi ke teknologi digital kini sudah dilakukan. Penghentian siaran analog atau analog switch off (ASO) tahap pertama dijadwalkan paling lambat 17 Agustus 2021, hitungan bulan lagi.

Pada tahap satu ini, layanan yang dimatikan di sebagian wilayah Aceh (Kab. Aceh Besar, Kota Banda Aceh), Kepulauan Riau (Kab. Bintan, Kab. Karimun, Kota Batam, Kota Tanjung Pinang), serta Banten (Kab. Serang, Kota Cilegon, Kota Serang). Juga di Kalimantan Timur (Kab. Kutai Kartanegara, Kota Samarinda, Kota Bontang), dan Kalimantan Utara (Kab. Bulungan, Kota Tarakan, Kab. Nunukan).

Penghentian tahap kedua akan dilakukan pada 31 Desember 2021. Sebagian besar Pulau Jawa dijadwalkan masuk ASO tahap kedua. Lalu tahap ketiga hingga kelima dijadwalkan tahun 2022. Begitulah seterusnya, migrasi ke televisi digital dilakukan bertahap.

Karena itu, skalipun nanti telah berlaih ke teknologi siaran TV digital, namun televisi lama yang analog masih tetap bisa digunakan. Caranya, cukup dengan menambahkan STB untuk DVB-T2. Dan rangkaikan dengan televisi lama.[]

Sumber:tempoco
Rubrik:TEKNO

Komentar

Loading...