Teuku Raja Keumangan SH MH, Sekretaris Fraksi Partai Golkar narasumber peHTem edisi Kamis 29 Juli 2021 episode 60 dengan tema: DPRA Diminta Bentuk Pansus Dana Siluman, Kemana Mengalir Dana Apendiks? dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Takbir dan Berkurban Memiliki Nilai Ekonomi dan Akan Dibuka Pintu Langit Untuk Keampunan Dosa Serta Dicabut Segala Bala

IlustrasiIlustrasi
A A A

Dimana, doa-doa yang diucapkan oleh fakir dan miskin ketika mereka menyantap daging dan dari daging kurban barangkali membuka pintu-pintu langit untuk diturunkan rahmat serta hidayah bagi kehidupan umat manusia itu sendiri

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

MOMEN kemenangan umat manusia diberikan Allah SWT salah satunya ketika digantikan Nabi  Ismail as dengan kibas pada saat sang ayahanda Nabi Ibrahim as menyembelihnya sebagai kurban atas Perintah Allah SWT untuk menguji tingkat keimanan Nabi Ibrahim as itu sendiri.

Momen ini Allah SWT abadikan menjadi ibadah wajib untuk umat Baginda Rasullullah Nabi Muhammad SAW yang beriman bagi yang mampu untuk berkurban. Tingkatan fadilah dari berkurban amat sangat tinggi disisi Allah SWT bagi siapa saja yang dengan ikhlas dan semata-mata karena Allah SWT melakukan ibadah berkurban diharai raya Idul Adha. Karena Allah SWT hanya menghitung sebagai ibadah kurban apabila dilakukan penyembelihan hewan kurban pada hari-hari tasyrik dalam masa hari raya Idul Adha saja. Dan dapat dinyatakan bahwa ibadah ini hanya terbatas waktunya dan bila dilakukan penyembelihan diluar waktu tersebut tidak dihitung sebagai ibadah kurban melainkan dihitung sebagai sedekah biasa.

Umat muslim di dunia sangat antusias menyambut hari raya kurban karena dibukanya pintu-pintu taubat untuk menambah pundi-pundi amal dan keampunan dosanya. Oleh sebab itu, menjadi sesuatu sangat menyayat hati apabila pada hari-hari itu umat tidak bisa ke masjid-masjid dengan alasan apapun jua. Kenapa menyayat hati umat muslim tidak bisa ke masjid atau surau kalau di Indonesia karena gema takbir mulai dimalam hari raya hingga tiga hari berturut-turut  disertai menyembelihkan hewan kurban mengandung nilai dan makna yang amat tinggi bagi kaum muslimin. Gema takbir yang bersaut-sautan bisa membangkitkan gairah spiritual dan ketenangan jiwa yang pada akhirnya tercipta tubuh yang kuat, dan secara lahiriyah yang bertakbir itu adalah manusia-manusia yang suci dari kotoran dan bersih, dan dengan sendirinya tidak ada keraguan bagi kita untuk takut datang ke masjid.

Bila kita kaitkan dengan apa yang sedang terjadi sekarang ini dengan adanya wabah corona  disertai lahir kebijakan-kebijkan publik yang membatasi umat untuk berkerumun sebagai ikhtiar menghindari keterpaparan corona itu ada benarnya, tetapi hendaknya masjid jangan ditutup melainkan diatur saja tata cara keramaian dan kebersihannya. Karena bagi umat muslimin yang beriman ibadah kepada Allah SWT merupakan hal paling utama dan akan mengalahkan segalanya walaupun dihadapkan dengan penyakit sekalipun “manusia diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT”.

Dilihat dari sisi ekonomi bahwa ibadah kurban itu bisa kita hubungkan dengan menciptakan kesejehateraan bersama atau sebagian kecil momen distribusi pendapatan secara merata. Walaupun sesungguhnya tidak banyak dampaknya pada sisi ekonomi masyarakat kecil karena hanya berupa konsumsi sekali saja berupa daging saja. Namun, tidak dipungkiri bagi rakyat kecil amat sangat senang dengan mendapatkan satu kupon atau beberapa kupon untuk pengambilan daging ditempat atau masjid masing-masing. Nah, atas kegembiraan rakyat kecil ini sebenarnya mengandung makna yang sangat besar pada kehidupan itu sendiri.

Dimana, doa-doa yang diucapkan oleh fakir dan miskin ketika mereka menyantap daging dan dari daging kurban barangkali membuka pintu-pintu langit untuk diturunkan rahmat serta hidayah bagi kehidupan umat manusia itu sendiri, dan bila kita hubungkan dengan keimanan kita sebagai muslimin pasti doa yang dijabah itu amat besar dampaknya pada sisi kehidupan kita termasuk barangkali akan segera dicabut wabah covid di negeri kita dan malah di dunia, dan dengan catatan umat harus menggemakan takbir segema gemanya dihari raya Idul Adha.

Tidak ada yang salah sebuah kebijkan dalam ikhtiar maksimal bagaimana kiranya agar corona pergi dari negeri ini, tetapi perlu juga kita memikirkan apa sesungguhnya tugas kita sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT. Ingat kematian itu pasti dan setelah kematian itu sendiri dalam masa waktu yang tak terbatas akan kita pertanggungjawabkan apa-apa yang kita lakukan di dunia ini, maka takutlah kepada Rabb Mu bukan pada makhluk Nya agar kita lebih kuat dan hidup normal sebagaimana hidup sebagai hambanya sang Maha Kuasa. Merdeka*

*) Penulis: Dr. Zainuddin, SE, M.Si
[Akademisi Universitas Serambi Mekkah]

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...