Sekretaris Pusham Unsyiah, Suraiya Kamaruzzaman, menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 20 Januari 2022 episode ke 44 Tahun ke II dengan tema: Apakah Cambuk Solusi Terakhir Bagi Predator Seksual?, yang dipandu oleh host Siti Aminah Jangan lupa subsribe like share dan comment.

PKS soal Selamat Natal:

Tak Boleh Ada Paksaan Ucapkan atau Tak Ucapkan

IstimewaAnggota Komisi VIII DPR RI F-PKS Bukhori Yusuf
A A A

ACEHIMAGE.COM — Anggota Komisi VIII DPR RI F-PKS Bukhori Yusuf menanggapi Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi yang berbicara tentang polemik boleh atau tidaknya umat Islam memberi ucapan selamat Natal kepada umat kristiani. Bukhori menilai tidak boleh ada paksaan bagi pihak yang mau mengucapkan ataupun tidak mengucapkan.
Awalnya Bukhori menjelaskan hal tersebut dari perbedaan antara moderasi beragama dan moderasi agama. Menurutnya, kedua hal itu memiliki arti yang berbeda.

"Moderasi beragama bukan moderasi agama, dua hal yang berbeda. Moderasi agama berakibat berubahnya syariat atau ajaran atau keyakinan agama, sedangkan moderasi beragama itu sikap moderat atau wasati dalam berperilaku agama," kata Bukhori saat dihubungi, Sabtu (18/12/2021).

Bukhori lantas mengaitkan kedua perbedaan itu dalam konteks ucapan Natal. Menurutnya, tidak ada kaitan orang yang mengucapkan Natal disebut moderat sedangkan yang tidak mengucapkan disebut radikal.

"Dalam kaitan ucapan Natal itu terkait dengan pribadi-pribadi seseorang karena itu tidak boleh dipaksakan untuk melakukan atau tidak melakukan, sehingga tidak ada kaitannya jika mengucapkan disebut moderat dan jika tidak disebut radikal dan seterusnya," ucapnya.

Lebih lanjut, Bukhori menjelaskan ucapan Natal tidak bisa dipaksakan lantaran masing-masing pihak memiliki lingkungan dan pergaulan yang berbeda. Dengan demikian, kata dia, tidak boleh ada paksaan dan tidak boleh juga pihak yang mengucapkan dianggap keluar dari agama.

"Karena masing-masing punya lingkungan dan ruang pergaulan yang berbeda-berbeda sehingga pihak atau lembaga atau komunitas yang tidak relevan ya jangan dipaksa-paksa demikian, sebaliknya pihak-pihak atau orang yang memiliki keluarga atau teman-teman dekat dan memerlukan hal tersebut ya tidak boleh dianggap keluar agama," ujarnya.

Wamenag Buka Suara
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi berbicara tentang polemik boleh atau tidaknya umat Islam memberi ucapan selamat Natal kepada umat kristiani. Zainut, yang juga Wakil Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, memberi penjelasan.

Zainut mengatakan ada perbedaan pandangan ulama terkait ucapan selamat Natal. Dia mengatakan sebagian ulama melarang dan sebagian lagi tak melarang.

"Sebagian ulama ada yang melarang dan sebagiannya lagi membolehkan," kata Zainut kepada wartawan, Sabtu (18/12/2021).

"MUI Pusat sendiri belum pernah mengeluarkan ketetapan fatwa tentang hukumnya memberikan tahniah atau ucapan selamat Natal kepada umat kristiani yang merayakannya, sehingga MUI mengembalikan masalah ini kepada umat Islam untuk mengikuti pendapat ulama yang sudah ada sesuai dengan keyakinannya," sambungnya.

Zainut mengatakan menghormati pendapat ulama yang menyatakan mengucapkan selamat Natal hukumnya haram atau dilarang oleh agama. Hal itu didasari argumentasi bahwa mengucapkan selamat Natal itu bagian dari keyakinan agamanya.

"Begitu juga sebaliknya, saya menghormati pendapat ulama yang menyatakan mengucapkan selamat Natal itu hukumnya mubah atau boleh dan tidak dilarang oleh agama, karena didasarkan pada argumentasi bahwa hal itu bukan bagian dari keyakinan agama, tetapi sebatas memberikan penghormatan atas dasar hubungan kekerabatan, kekeluargaan, dan relasi antarumat manusia," jelasnya.

Zainut mengimbau seluruh masyarakat bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut. Dia berharap perbedaan pendapat ulama itu tidak dijadikan polemik yang justru mengganggu kerukunan antarumat beragama.

"Sebaiknya kita mengembalikan masalah ini pada keyakinan kita masing-masing dengan tidak saling menyalahkan, bahkan mengafirkan," ujarnya.

Zainut juga mengajak semua pihak untuk terus menjaga dan memelihara kerukunan dan persaudaraan (ukhuwah). Baik persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan atas dasar kemanusiaan (ukhuwah basyariyah), maupun persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyyah). Ini semua demi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis, rukun, dan damai.[]

Sumber:detik.com
Rubrik:NASIONAL

Komentar

Loading...