Zikrayanti, MLIS, PhD (Cand) menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 23 September 2021 episode 10 Tahun ke II dengan tema: Terkait Vaksin Siswa, Wali Murid Minta Gubernur Pecat Kadisdik Aceh, yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Tak Bisa Lagi Jadi Presiden, Duterte Resmi Maju Cawapres Filipina

Rodrigo Duterte
A A A

Manila - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, menerima pencalonan dirinya sebagai Wakil Presiden (Wapres) untuk pemilihan umum (pemilu) tahun 2022 mendatang. Hal ini berarti Duterte melanjutkan rencana yang dikritik oleh para rival politiknya sebagai langkah untuk mempertahankan kekuasaan politiknya.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (9/9/2021), Duterte yang berusia 76 tahun, dilarang oleh Konstitusi Filipina untuk mencalonkan diri sebagai presiden periode kedua. Pada Rabu (8/9) waktu setempat, Duterte menerima pencalonan dirinya sebagai cawapres untuk Partai PDP-Laban yang menaungi dirinya.

Ketertarikan Duterte pada jabatan Wapres yang sebagian besar hanyalah jabatan seremonial belaka ini dikecam oleh rival politiknya sebagai upaya agar tetap berkuasa demi menghindari potensi tindakan hukum yang bisa menjeratnya baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Namun, Duterte yang selalu menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang enggan ini, menyebut keputusannya maju cawapres didorong oleh rasa cintanya kepada negara.

"Ini benar-benar karena saya ingin melihat kelanjutan upaya-upaya saya meskipun saya mungkin bukan yang memberikan arahan, saya mungkin bisa membantu," ucap Duterte.

Balas dendam politik tergolong sering terjadi di Filipina dan sejumlah mantan pemimpin negara itu, yang kehilangan kekebalan jabatannya, telah diadili bahkan dijebloskan ke penjara setelah tidak lagi berkuasa.

Seorang jaksa pada Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, sedang berupaya menyelidiki Duterte terkait ribuan pembunuhan dalam kampanye 'perang melawan narkoba' selama masa kepemimpinannya.

Para pakar meyakini Duterte yang dikenal merangkul China dan meremehkan Amerika Serikat (AS) sekutu Filipina ini, bisa melakukan permainan demi menjaga dirinya tetap berkuasa melalui pengambilalihan presiden di bawah skenario jika penggantinya nanti mengundurkan diri.

Duterte diketahui mendorong Senator Filipina, Christopher 'Bong' Go, yang juga loyalis terdekatnya untuk menggantikan dirinya. Namun Go menolak pencalonan itu dengan menegaskan bahwa 'hari dan pikirannya fokus melayani rakyat'.

Partai PDP-Laban menyatakan pihaknya ingin Go mengubah pikirannya. "Kami tahu dia kompeten dan memenuhi syarat untuk mencalonkan diri," ucap seorang pejabar senior partai, Melvin Matibag.

Di sisi lain, penolakan Go maju capres itu justru semakin membuka peluang bagi putri Duterte, Sara Duterte Carpio (43) untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Carpio yang menggantikan Duterte sebagai Wali Kota Davao dan bergabung dengan partai lainnya ini, memberikan pesan beragam soal pencalonannya.

Meskipun berbagai polling terbaru menempatkannya sebagai capres terdepan, Carpio menuturkan kepada Reuters pada awal tahun ini bahwa dirinya tidak tertarik maju capres. Namun pekan lalu, dia mengakui sejumlah politikus membujuknya untuk maju capres.

Kepada Reuters pada Rabu (8/9) waktu setempat, Carpio menjawab 'No comment' saat ditanya apakah akan maju capres. Duterte sebelumnya menyatakan akan mundur jika putrinya memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi presiden.[]

Sumber:Detik.com
Rubrik:DUNIA

Komentar

Loading...