Wakil Ketua DPR Aceh, Safaruddin, S.Sos, MSP, menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 30 September 2021 episode 12 Tahun ke II dengan tema: Pantaskah Alhudri Ultimatum Kepala Sekolah? yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Prilaku Konsumtif

Tak Berempati Pada Rakyat yang Sedang Menjerit

IlustrasiIlustrasi
A A A

Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa disebuah negeri terpraktekan prilaku jeumoeh, itu bisa dengan mudah dijumpai bahwa banyak rumah gedongan ditengah-tengah rumah reok kebanyakan rakyat, ada transportasi yang super mewah ditengah-tengah jelata berjalan kaki dengan alas kaki

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

SUDAH berbilang tahun bala COVID-19 ditakdirkan dimuka bumi yang penuh kesedihan dan kemelaratan dampaknya bagi rakyat jelata. Begitu dahsyat dan nyata bala ini menggerogoti kehidupan rakyat terutama bagi yang kehidupan ekonominya lemah dan kelas pekerja harian, walaupun masih bisa tersenyum dan ketawa ketawi itu hanya bagian menutupi ratapan kesedihan dan kegundahannya menatapi hidup hari demi hari. Seakan-akan tidak ada lagi harapan apa yang bisa dia gantungkan dihari depan, tetapi karena keteguhan keyakinannya pada agama yang dia anut terpercik secercah harapan bahwa akan bisa dia lalui semua ini atas kehendak yang kuasa pada masanya kelak. Sekilas diskusi kecil ditepi jalan dengan kaum papa terbesit kegundahan dan ketakutan yang amat mendalam tentang hidup dan lehidupannya dimasa depan, tentang hari-hari kehidupan keluarganya hingga terucap kata pasrah sepasrahnya entahlah.

Begitu sulit kaum jelata menjalani hidup hari-hari dimasa pandemi sekarang yang berbanding terbalik dengan kaum birokrat dan kaum kaya yang tetap memiliki penghasilan yang bertambah-tambah setiap bulanya, begitu ceria anak-anaknya, dan begitu berseri seri sang istrinya berdandan karena memang mereka dijamin oleh Negara tentang pendapatannya. Yang paling terperangah bagi kaum jelata adalah  ketika kaum birokrat dan kaya bisa membangun istana yang megah dan berkenderaan mewah baik kedinasan maupun pribadi ditengah-tengah kesulitan yang digembar gemborkan. Padahal kaum jelata kadang-kadang harus terusir karena tidak sanggup membayar sewa kontrakan setiap bulannya, belum lagi bila dilihat bagaimana uang jajan anak-anak yang hampir tidak bisa dipenuhi setiap hari dan anak-anak kaum jelata pasti lebih sering menelan ludahnya menonton saudaranya yang dari keluarga berada beria ria jajan apa saja. Itulah segelumit potret yang menjadi hari-hari kehidupan di sebuah Negara yang menjujung tinggi demokrasi dan persaudaraan.

Bila kita mau jujur, kehidupan disebuah Negara atau negeri tidak boleh ada yang super atas segalanya ditengah-tengah masyarakat kebanyakan yang sulit, artinya ada sebagian yang sangat tercukupi dan dilain pihak ada banyak yang hidup serba kekurangan. Coba direnungkan untuk apa ada Negara dengan seabrek peraturan yang bertujuan menjamin warga Negara hidup pada taraf tingkat kesejahteraan yang sama dan walaupun ada perbedaan tidaklah terjadi gap yang amat jauh, seperti siang dan malam. Jika begitu adanya bahwa kehidupan disebuah Negara yang memiliki gap yang terlalu lebar antara simiskin dan sikaya berarti ada yang salah pada prilaku pemangku kepentingan dan sebagian kecil kaum kaya dalam memahami penguasaan kekayaan tanpa peduli rasa keadilan atau berbagi kepada rakyat yang lain. Artinya bila seperti prilaku tersebut dalam istilah bahasa Aceh berprilaku “jeumoeh”. Bila pemangku kepentingan dan sebagian diantara rakyat sudah berprilaku jeumoeh, maka di negeri tersebut bakal ada kaum yang super kaya disatu sisi dan akan banyak kaum jelata teramat miskin disisi yang lain.

Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa disebuah negeri terpraktekan prilaku jeumoeh, itu bisa dengan mudah dijumpai bahwa banyak rumah gedongan ditengah-tengah rumah reok kebanyakan rakyat, ada transportasi yang super mewah ditengah-tengah jelata berjalan kaki dengan alas kaki seadanya, ada restoran kelas kakap dikhususkan bagi kaum borjuis dan rakyat kebanyakan ada yang makan dari nasi emping alias nas bekas yang dikeringin, ada tempat pendidikan yang berkelas khusus bagi yang berduit sedangka rakyat ditempat biasa-biasa saja dan lain sebagainya. Begitu kiranya bila sudah diperbudak pada status sosial yang diukur dengan tingkat konsumtif dan malah demi menjaga status sosial bagi kaum yang sudah merasa kaya akan berusaha dengan (bahkan tidak peduli dengan halal-haram) segala cara demi menjaga tetap berada dalam lingkungan kaum kaya. Tulisan ini tak bermaksud menyerang siapa-siapa tetapi hanya sebagai buah fikiran untuk refleksi kehidupan agar lebih bernilai dan berwibawa dimasa depan. Atjeh loen sayang.

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...