Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Utara Dr A Murtala yang baru saja dilantik pada akhir Desember tahun lalu sebagai orang nomor wahid dibidang administasi, ternyata sosok lulusan S3 ini memiliki karakter maupun cara ampuh tersendiri untuk menghindari konfirmasi dengan wartawan, Sabtu (23/01/2021). Sikap orang nomor tiga di jajaran pemerintahan Aceh Utara, terkesan seakan-akan tidak paham terhadap fungsi dan tugas seorang wartawan, Seharusnya seorang Sekda harus koperatif dengan wartawan sesuai fungsinya yang diatur seusai dalam undang undang nomor 40 tahun 1999.

Sriwijaya Air Yang Jatuh Ternyata Sudah 26 Tahun Beroperasi

NETIlustrasi, Sriwijaya Air
A A A

BANDA ACEH - Kecelakaaan pesawat kembali tejadi di Indonesia pada Sabtu, 9 Januari 2021. Kali ini menimpa maskapai Sriwijaya Air saat terbang Jakarta- Pontianak.

Pesawat dengan kode penerbangan SJ182 itu jatuh di sekitar kepulauan seribu, saat itu mengangkut lebih dari 50 peumpang.

Pesawat tersebut dinyatakan hilang kontak setelah terbang selama kurang lebih 4 menit

Direktur Utama Sriwijaya Air, Jefferson Irwin Jauwena, memastikan kondisi pesawat dengan kode penerbangan SJ-182 yang sudah dipastikan jatuh, dalam keadaan sehat.

Pesawat Sriwijaya Air yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bandara Supadio Pontianak hilang kontak sekira pukul 14.40 WIB pada Sabtu (9/1/2021).

Padahal pesawat tersebut sebelumnya juga sudah terbang PP dengan rute Pontianak-Pangkal Pinang.

"Kondisinya sehat, sebelumnya juga sudah terbang ke Pontianak PP dengan ke Pangkal Pinang. Ini rute kedua ke Pontianak, jadi harusnya tidak ada masalah," jelas Jefferson seperti di lansir Liputan6.com.

Pihak Sriwijaya menyediakan tiga posko informasi terkait pesawat Sriwijaya Air yang hilang kontak. Salah satu posko berada di Bandara Soekarno- Hatta.

"Kami sudah siapkan posko dibantu pihak AP II. Satu posko di sini (bandara Soetta), satu di Pontianak, dan satu di kantor kami," ungkap Jefferson.

Berganti Kepemilikan

Pesawat dengan kode registrasi PK-CLC ini ternyata sudah berusia 26 tahun pada 2020.

Dikutip dari planespotters.net, pesawat ini sudah berganti kepemilikan sebanyak 3 kali. Pertama, pesawat Boeing 737-524 ini dimiliki maskapai asal Amerika Serikat, Continental Air yang dioperasikan perdana pada 31 Mei 1994 dengan kode registrasi N27610.

Kemudian, pesawat ini berpindah kepemilikan oleh United Airlines pada 1 Oktober 2010 dengan kode registrasi yang sama.

Sriwijaya Air sendiri baru menggunakan pesawat ini pada 15 Mei 2012 dengan kode registrasi PK-CLC.

Dalam situs tersebut, saat ini status pesawat sudah dinyatakan 'Crashed' usai diduga jatuh di wilayah Kepulauan Seribu.

FAA, peringatkan maskapai di dunia soal dampak covid-19

Otoritas penerbangan Amerika Serikat (AS), Federal Aviation Administration (FAA) pada pertengahan 2020 memberikan peringatan kepada seluruh maskapai di dunia tentang dampak dari pandemi Covid-19 terhadap performa pesawat, khususnya untuk jenis Boeing 737 NG dan Classic.

Pesawat Boeing 737 NG meliputi seri 600, 700, 800, dan 900. Sedang Boeing 737 Classic meliputi seri 300, 400, 500 dan jenis ini masih banyak dipakai maskapai Indonesia, termasuk Sriwijaya Air.

Menurut FAA, ada sekitar 2.000 pesawat jenis tersebut yang saat ini dioperasikan maskapai, namun tak terbang karena dampak pandemi Covid-19.

Tak beroperasinya pesawat selama kurang lebih tujuh hari, memberikan risiko korosi yang kemudian menyebabkan kegagalan mesin ganda.

FAA mengeluarkan arahan tersebut setelah inspektur menemukan katup pemeriksaan udara yang rusak saat akan kembali mengoperasikannya.

"Jika ditemukan korosi, katup harus diganti sebelum pesawat kembali beroperasi," kata FAA.

Atas arahan FAA ini, Boeing telah menyarankan operator di seluruh dunia untuk memeriksa pesawat dan memeriksa katup udara apakah masih dalam kondisi layak atau tidak. Salah satunya Sriwijaya Air.

Rubrik:NEWS

Komentar

Loading...