Ketua Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A), Dr. Samsuardi, MA, menjadi narasumber peHTem edisi Senin, 3 Oktober 2022 episode ke 13 Tahun ke 3 dengan tema: Benarkah di Bawah Tangan Alhudri Pendidikan Aceh Terpuruk? yang dipandu oleh host Siti Aminah, S.IP, M.MLS, Jangan lupa like share comment and subsribe.

Aceh

Solusi Hidup Miskin Di Daerah Subur Menjadi Sejahtera

AK JailaniIlustrasi Sawah di kawasan Blang Bintang, Aceh Besar
A A A

Bila ini mampu dilakukan para kawula muda akan termotivasi untuk terjun kepertanian dan pada akhirnya profesi pertanian itu memiliki gengsi secara ekonomi serta bisa menjadi keberhasilan pemerintah dalam hal mengurangi pengangguran yang selama ini sudah cukup besar.

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

NEGERI yang sangat subur hingga banyak pujangga menyebutkan bahwa “tongkat dilempar tumbuh tanaman”. Sekilas terlihat permukaan bumi di Aceh sangat bersahabat dengan pertanian, baik dataran maupun pergunungannya dan kesuburannya sungguh nyata, baik di dataran berupa persawahan maupun di pergunungan berupa perkebunan.

Kenapa bisa daerah Aceh tergolong subur dan sangat menjanjikan utuk dunia pertanian karena wilayah Aceh yang terletak paling barat dari Republik Indonesia berada pada daerah tropis yang memiliki dua musim, yaitu kemarau dan penghujan.

Disamping itu, konjungtur bumi banyak dialiri sungai sebagai sumber air untu kehidupan yang membuat daerah ini menjadi sangat subur untuk tanaman pangan dan sangat cocok untuk usaha peternakan.

Di balik kesuburan bumi Aceh banyak ditemukan kehidupan rakyatnya masih berada dalam kemiskinan terutama para petani yang mediami daerah pedesaan. Pertanyaan besar muncul disetiap pemikir yang ada di Negeri khatulistiwa kenapa hal itu terjadi?. Jawaban atas pertanyaan tersebut hampir–hampir tidak punya jawaban, karena logika sederhana itu tak mungkin terjadi tetapi itu nyata terjadi.

Mari kita coba ulas kenapa kemiskinan tertutama sang petani terjadi di Aceh menurut sejauh analisis mata melihat dan dikomper dengan kemampuan yang lemah. Faktor pertama yang membuat petani miskin karena tidak ada aksi Pemerintah untuk memelihara luas lahan pertanian yang ideal, artinya bila mau para petani hidup makmur tentu tidak bisa dipisahkan dengan ketersediaan lahan.

Sepanjang mata memandang bahwa lahan pertanian dari waktu ke waktu terendus atau berkurang secara signifikan yang berbanding terbalik penambahan jumlah populasi yang setiap tahun tersu bertambah.

Ada bebarapa tindakan pemangku kepentingan yang bisa diterapkan dalam menjaga luas lahan pertanian, yaitu tidak memberi izin membangun pembangunan fisik diatas lahan sawah dan atau lahan subur disamping secara terus menerus membuka lahan baru atau area sawah baru, dan pada faktor ini mungkin disarankan di manage seperti teori lokasi.

Faktor kedua yang membuat petani Aceh miskin adalah menyangkut harga jual produk pertanian di tingkat petani rendah. Akibat rendahnya harga jual membuat motivasi petani turun karena muncul rasa tidak percaya diri bila berprofesi sebagai petani karena tidak menjanjikan secara ekonomi.
Solusi terhadap bagaimana kiranya harga produk di tingkat petani bisa memberi return kepada petani harus ada tindakan nyata dari pemangku kepentingan untuk membeli produk-produk petani itu sendiri dengan cara pemerintah hadir ditengah-tengah pasar dalam arti tidak ada pasar persaingan sempurna secara total tetapi harus ada campur tangan pemerintah dalam pembentukan harga itu sendiri.

Faktor ketiga yang membuat petani harus miskin adalah tingginya harga-harga modal untuk bertani. Pada bagian ini mestinya pemangku kepentingan bisa bertindak mensubsidikan secara nyata terhadap apa-apa saja yang dibutuhkan oleh petani untuk bertani, seperti contoh pupuk, bibit, pestisida dan lain sebagainya. Bila dibiarkan seperti harga pasar terhadap barang-barang sebagai kebutuhan petani, maka pastilah para petani tidak akan mendapatkan hasil apa-apa disaat panen karena habis untuk membayar utang dalam rangka untuk bertani.

Berdasarkan tiga faktor tersebut muncul faktor keempat, yaitu menurunnya motivasi kerja dan tidak sistematis jam kerja. Hal ini bisa kita jumpai pada masyarakat petani tidak termanage pekerjaan melalui jam kerja yang terjadwal setiap hari, bahkan terkesan bahwa bertani itu seperti suka-suka banyak menghabiskan waktu hanya bergurau di warkop-warkop. Keadaan seperti ini mestinya pemangku kepentingan harus hadir untuk memotivasi dan bila perlu buat peraturan kunjungan ke warkop harus dibatasi, dan hal ini mungkin bisa dilakukan dengan mengerahkan penyuluhan pertanian dan bahkan penegak hukum serta memberi insentif kepada para petani yang rajin setiap bulannya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan solusi agar para petani bisa merangkak hidup lebih sejahtera tidak bisa dilepaskan kepada kemauan si petani seratus persen harus ada kehadiran pemangku kepentingan dalam memanage agar petani berkerja baik dan bagaimana agar petani itu bisa mendapat laba dari hasil pertanian itu sendiri.

Bila ini mampu dilakukan para kawula muda akan termotivasi untuk terjun kepertanian dan pada akhirnya profesi pertanian itu memiliki gengsi secara ekonomi serta bisa menjadi keberhasilan pemerintah dalam hal mengurangi pengangguran yang selama ini sudah cukup besar.

Akhirnya kita mohon maaf, tulisan ini hanya sebagai penambah atau penghangat suasana dan tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Hidup petani hidup negeri, mati petani mati negeri. Salem aneuk nanggroe.

*) Dr. Zainuddin, SE, M.Si
Dosen Fakultas Ekonomi Serambi Mekkah Banda Aceh

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...