Personel Satuan Reskrim Polres Aceh Timur menangkap pelaku diduga merampas telepon genggam seorang gadis di kabupaten itu serta memperkosanya. Kasubbag Humas AKP Muhammad Nawawi di Idi, Minggu, mengatakan tersangka berinisial SA (23) warga Tano Ano,[ Kecamatan Idi, Aceh Timur. Sedangkan korban berinisial LI (18), warga Kecamatan Darul Ihsan, Aceh Timur.

Sentimen Politik dan Sentimen Kedekatan Bupati Bener Meriah

ISTIMEWAdr. Jawahir Syahputra
A A A

Oleh: dr. Jawahir Syahputra

Beberapa masyarakat memandang bahwa pernyataan mundur Bupati Bener Meriah adalah bentuk kekecewaannya terhadap relasi politik dengan parpol koalisi maupun oposisi yang berbeda kepentingan.

Ada juga yang memandang karena ketidaksanggupannya untuk mengelola komunikasi politik antara eksekutif dan legislatif. Namun secara faktual, beberapa yang lain menyoal itu karena melihat keadaan BM ditengah pandemi Covid 19 yang belum menunjukkan kinerjanya dengan baik.

Jika kita amati, dari pernyataan dukungan mundur dan dukungan bertahan. Semuanya adalah narasi yang diarahkan pada skema politik praktis tanpa ada ukuran yang jelas. Yang mendukung mundur karena kuatnya relasi dengan parpol, tapi yg mendukung bertahan karena kuatnya hubungan dengan sang Bupati dan mungkin saja punya kepentingan lain.

Kedua hubungan itu merupakan relasi politik yg di setiap daerah terjadi. Oleh karena dibutuhkan keuletan dan kecerdasan seorang kepala daerah untuk mengelola dan memastikan semua tetap berjalan sesuai hukum dan fungsi tatanan kepemerintahan.

Pernyataan mundur, disambut dengan surat klarifikasi dari legislatif di BM. Pernyataan tersebut di anggap serius karena dikeluarkan melalui protokolorer pemerintah BM secara resmi ia sebagai Kepala daerah.

Wajar jika legislatif menyahuti ini sebagai sebuah keseriusan, karena legislatif perlu memastikan jika apa yang disampaikan Bupati tidak mengancam proses pembangunan dan penanganan masyarakat yang terdampak pandemi.

Sayangnya upaya ini dianggap sebagai alat untuk mengakuisisi oleh sebahagian pihak. Mereka mungkin belum memahami fungsi legislasi yang penting merespon secara darurat jika terjadi kekosongan sebagaimana mandat UU.

Ada hal lain yang menarik, sambutan itu juga menempatkan seolah Bupati maju sebagai melalui jalur independen, hal ini terlihat ketika dukungan datang dari luar parpol, yang notabene harus jauh dari politik praktis.

Kita tidak tahu, apakah dukungan bertahan atau dukungan mundur ini murni, karena tidak memiliki alat ukur yang jelas. Elemen sipil yang selama ini mengktitik kebijakan, malah nimbrung pada dinamika politik BM. Akhirnya masyarakat menjadi bigung, mana yang sebenarnya sentiment politik dan mana yang sentiment perjuangan Rakyat.

Untuk sementara coba kusimpulkan, menjadi kepala Daerah harus kuat, tidak mudah curhat, dan rangkul semua pihak. Jangan membawa pandangan sendiri menjadi benar, seolah masukan dari orang lain menjadi mangsa. Pelajaran penting dari pristiwa juga adalah jebakan ini bukan hanya untuk parpol, tapi juga untuk elemen sipil yang menggaungkan diri independen.

Tulisan ini sepenuhnya tanggunggjawab penulis

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...