Sembilan warga Aceh Selatan dilaporkan positif COVID-19 setelah dilakukan uji swab yang dikirim dari Balitbangkes Aceh ke Jakarta. Direktur RSDYA dr Erizaldi MKes SpOg menyampaikan sembilan warga Aceh Selatan yang positif terdiri S (46), l (45),N (46), G (12), A (35), D (25), T (42), M (5), R (24) "Swab secara mandiri yang dilakukan RSUDYA lalu simpelnya dikirim litbankes Aceh, berhubung alat itu sekali pakai sudah habis lalu dikirim ke jakarta hasilnya positif covid 19, ”kata Direktur dr Erizaldi, Minggu (9/8/2020).

Selamatkan Petani dan Hasil Produksi dari Dampak Akibat Covid-19

HT ANWAR IBRAHIMDr Mukhlis Yunus SE MM.
A A A

BANDA ACEH -Di tengah pandemi Covid-19, suplai pasokan pangan yang cukup dan lancar semakin menjadi tantangan ke depan.

Berdasarkan amatan,sekarang ini sebagian besar petani tidak lagi turun kesawah sehingga akan mempengaruhi produksi padi pada tahun ini (2020) atau produksinya diperkirakan akan turun.

Beranjak dari data Distanbun Aceh, produksi padi di  Provinsi Aceh pada 2019 sebesar 1,71 juta ton GKG dan pada 2020 dengan kondisi Covid-19 diperkirakan akan mengalami penurunan.

"Produksi tahun ini bisa-bisa Gabah Kering Giling (GKG) akan turun lagi dibandingkan 2019," kata Dr Mukhlis Yunus SE MM.

Hal itu diungkapkan oleh pakar ekonomi Unsyiah, Banda Aceh itu kepada acehimage.com, Selasa (30/6/2020).

Berkaca dari kondisi saat ini katanya, maka antisipasi pemerintah amat diperlukan jika terjadi penurunan produksi pangan terlebih di masa krusial seperti Covid-19 ini. Salah satunya harus dilakukan pemerintah Aceh dengan menggenjot produktivitas sektor pertanian.

"Tetapi alih-alih menjaga produksi tetap aman, justru petani Aceh saat ini dihadapkan pada "mimpi buruk" imbas Covid-19," ujarnya.

Ditambah lagi dengan berbagai kebijakan pembatasan aktivitas di luar rumah tampaknya makin membebani petani.

Berjuang sebagai garda terdepan dalam menyediakan pangan, sebagian dari para petani mau tak mau terpaksa harus pergi juga ke sawah, terlebih di saat panen raya.

Padahal sebagian besar penduduk yang bekerja di sektor pertanian berusia lanjut akibat minimnya regenerasi milenial (petani muda) di Aceh.

Sementara itu banyak yang menyebutkan, usia diatas 50 tahun merupakan salah satu kelompok paling berisiko terpapar Covid-19.

Oleh karena itu, memastikan para pelaku sektor pertanian sehat dan sejahtera menjadi salah satu kunci agar ketahanan pangan dapat terjaga.

Menurutnya, panen raya yang seharusnya menjadi peluang emas bagi petani dengan harapan agar dapat menyambung hidup. Namun impian tersebut sirna akibat pandemi Covid-19 yang cukup memukul petani.

Hal itu dikarenakan terganggunya proses distribusi hasil produksi ditambah menurunnya permintaan di banyak tempat seperti warung makan/restauran.

Harga komoditi meningkat, tapi petani justru lapar

Belum lagi harga produk pertanian yang diterima petani menurun seakan bak jatuh tertimpa tangga juga ketika dibarengi dengan harga kebutuhan sehari-hari yang kian meroket.

"Berbagai hal itu pun turut berimbas terhadap kesejahteraan mareka (petani)," kata Mukhlis.

"Jadi sudah tidak diragukan lagi bahwa sektor pertanian menjadi tumpuan hidup penduduk usia kerja yang bekerja," ujar dosen pasca sarjana Unsyiah ini.

Karena itu lanjut Mukhlis, dirinya menyarankan kepada pemerintah Aceh agar cepat mengambil langkah dan solusi untuk menyelamatkan petani dari dampak lebih luas akibat Covid-19.

"Saya rasa solusi untuk membantu petani mutlak harus dilakukan pemerintah Aceh. Sehingga tubuh petani yang sehat akan sangat mempengaruhi keberlangsungan produksi pangan," imbuhnya.

Namun Mukhlis menyarankan kepada pemerintah perlu menggenjot produktifitas menjaga efisiensi, dan memperpendek rantai pemasaran.

Kemudian pemerintah perlu meintervensi harga agar petani tak rugi sekaligus tidak juga memberatkan masyarakat pembeli.

"Kadang memang dilematis, harga komoditas pangan gabah, beras meningkat, tapi petani justru lapar. Sebab mereka itu rata-rata prosumer 3 bulan, tapi produsen 9 bulan sebagai kondumen.

Jadi pemetintah perlu memantau harga pasar. Syukur kalau ada BUMD yang mau menjadi badan penyangga," ujar dosen.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...