Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

Tour Hari Damai Aceh

Sekda dan BRA yang Hura-hura

ISTIMEWAMantan Presma UIN Ar-Raniry, Rizki Ardial
A A A

Kami nilai sangatlah tidak beretika

Rizki Ardial Mantan Presma UIN Ar-Raniry

BANDA ACEH - Jam menunjukan pukul 12:23 WIB, Smarphone wartawan media ini bergetar dan bunyi notifikasi pesan WhatsApp masuk, ternyata salah seorang Mahasiswa dari Universitas UIN Ar-Raniry mengirimkan foto selembar surat dengan kop Pemerintah Aceh.

Isi surat itu ternyata menyangkut dengan peringatan Hari Damai Aceh ke-15 tahun 2020 yang ditujukan kepada 10 Bupati/Wali Kota di Aceh yang ditandatangani oleh Sekda Aceh dr Taqwallah Mkes.

Surat yang ditembuskan kepada Gubernur Aceh, Kapolda Aceh dan Ketua Badan Reintegrasi Aceh memiliki tiga poin penting, dimana pada poin pertama menyebutkan sehubungan surat ketua Badan Reintegrasi Aceh nomor 028/290/2020 tanggal 5 Juni 2020 memberitahukan bahwa dalam rangka peringatan Hari damai Aceh ke-15 tahun 2020, salah satu kegiatan akan menyelenggarakan "Tour Hari Damai Aceh" bekerjasama dengan Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI) yang dijadwalkan pelaksanaannya mulai tanggal 12 s/d 14 Agustus 2020.

Sementara pada poin dua menegaskan, berkenaan hal tersebut di atas kami harap saudara memfasilitasi pengamanan sepanjang rute perjalanan touring sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas sebagaimana rundown terlampir

"Demikian harapan kami dan terima kasih,"begitu tertulis dalam surat dengn sifat segera.

Lantas apa kata Mahasiswa yang bernama Rizky Ardial ini?, menurutnya Tour Hari Damai Aceh tersebut sangat tidak beretika dikarenakan lebih kepada kegiatan hura-hura.

Mantan Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry itu mengatakan Perdamaian Aceh merupakan harapan besar masyarakat Aceh untuk dapat merasakan hidup lebih aman, damai dan sejahtera. Kondisi masyarakat Aceh sekarang belum sampai ke taraf tersebut, jadi seharusnya pemerintah Aceh harus berpikir bagaimana cara masyarakat Aceh dapat memperbaiki taraf hidup masyarakat terlebih dahulu bukan dengan hura-hura show motor mewah di atas penderitaan dan air mata korban konflik, seperti yang direncakan itu.

"Kami nilai sangatlah tidak beretika,"tegas Mahasiwa asal Bireuen ini.

Bahkan, Rizky menilai apa yang dilakukan oleh pemerintah Aceh hari ini sangatlah tidak reflektif dan tidak substantif dari makna peringatan damai dan tujuan damai itu sendiri.

"Berapa banyak korban jiwa, baik dari masyarakat sipil, eks kombatan GAM dan aparat keamanan saat terjadinya konflik, apa yang sudah pemerintah berikan untuk keluarga korban, sudahkah keluarga korban hidup lebih layak, restorative justice dilakukan, pengadilan HAM? serta anak korban mendapat pendidikan yang memadai," tegasnya.

Seharusnya di usia perdamaian ke-15 tahun refleksi tersebut yang harus dilakukan oleh pemerintah Aceh. Sementara gaya peringatan damai yang dilakukan oleh pemerintah Aceh hari ini, menurut aktivis Mahasiswa dari UIN Ar-Raniri sangat melukai hati keluarga korban, sangat tidak etis dilakukan dengan kondisi Aceh seperti hari ini.

"Kita tidak melarang perayaan dengan touring Motor Gede, tapi untuk sekarang belum tepat dilakukan. Peringatan damai Aceh haruslah memenuhi rasa keadilan, rasa kemanusiaan, dan kesadaran moral yang baik, agar tidak menimbulkan luka bagi para korban di masa konflik,"cetus Rizky.

Sambung dia, psikologi para korban harusnya menjadi pertimbangan pemerintah Aceh dan BRA, dimana BRA seharusnya mengkaji sebelum memutuskan acara touring agar damai Aceh lebih substantif, kuat dan berdampak ke depan.

Tugas Badan Reintegrasi mestinya bukanlah untuk tampil penuh hura-hura, masih banyak persoalan perdamaian yang belum selesai di Aceh, kemudian masih banyak korban konflik yang belum merasakan kesejahteraan pasca perdamaian.

"Di usia 15 tahun perdamaian belum berdampak pada penguatan pertumbuhan ekonomi rakyat, hanya saja dirasakan oleh pejabat, politisi dan elite pengusaha di lingkaran pemerintahan. Ini yang harus dipikirkan oleh BRA, belum lagi berbicara poin-poin MoU yang belum selesai, dan masih menjadi tarik ulur pemerintah Aceh dengan pemerintah pusat," urai Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Oleh karena itu, ia sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh pemerintah Aceh dan BRA hari ini, semangat perdamaian yang seharusnya dirawat bersama ternodai dengan pola yang dilakukan oleh BRA.

"Maka dari itu kami meminta kepada Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) agar segera memberikan rekomendasi tertulis kepada Gubernur Aceh untuk memecat ketua BRA karena telah mengkhianati semangat perdamaian Aceh, dan melukai hati para korban konflik, terutama dari masyarakat sipil dan eks kombatan GAM. Ketua BRA dinilai telah melakukan kesewenang-wenangan atas penderitaan rakyat Aceh, dan tidak mampu menerjemahkan substansi perdamaian Aceh,"harapnya.

Selain itu, dia juga meminta Presiden Republik Indonesia untuk mencopot Sekda Aceh, karena dengan cara pemerintah Aceh memperingati hari perdamaian seperti ini, maka sangat melukai hati rakyat, terutama korban konflik.

"Kita tidak ingin muncul konflik-konflik baru di Aceh, dan kami meminta gaya-gaya baru melukai hati orang Aceh seperti tour motor gede di hari perdamaian segera dihentikan,"demikian tegas Pemuda asal Kota Sate ini.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...