Ketua Komisi VI DPR Aceh, Tgk. H. Irawan Abdullah, S.Ag menjadi narasumber peHTem edisi Senin 9 Agustus 2021 episode 63 dengan tema: Biaya Pendidikan Dayah MUQ Pagar Air Selangit, Kucuran Dana Dayah Aceh Kemana? yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Trail Aceh Lhee Sagoe

Sejarah Benteng Indra Patra Tinggal Kenangan

AK JailaniBenteng Indra Patra
A A A

ACEH BESAR - Bangunan di komplek Benteng Indra Patra, situs sejarah peninggalan abad ketujuh Masehi, di Kawasan Pantai Ujoeng Kareung, Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Senin 21 Juni 2021.

Benteng Indra Patra dibangun oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indra Patra) pada masa sebelum kedatangan Islam di Aceh (abad 7) kurang mendapat perawatan dan beberapa bangunan di dalamnya rusak dan keaslianya pada fisik bangunan benteng telah berubah setelah direnovasi.

Benteng Indra Patra di Aceh Besar, Provinsi Aceh digunakan sebagai bangunan pertahanan dari serangan musuh ke wilayah Aceh yang dibangun pada masa Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu di Aceh sebelum masa kerajaan Islam. Benteng ini menjadi salah saksi bisu masa keemasan Kerajaan Hindu di Aceh. Selain itu, benteng ini juga merupakan peninggalan sejarah kerajaan Hindu pertama di Aceh yang masih berdiri hingga sekarang. Namun kini beberapa bangunan benteng ini hancur, sehingga perlu direvitalisasi.

“Kita perlu merevitalisasi sejarah yang begitu tua di Aceh ini. Kita melihat insfratruktur jalan menuju situs sejarah yang belum terbangun dengan baik. Situs sejarah Benteng Indra Patra yang sudah tidak terawat dengan baik. Kami dari Komisi X ingin merevitalisasi situs ini, sehingga sejarah peradaban di Indonesia bisa terjaga dengan baik sehingga sejarah bangsa ini tidak hilang begitu saja,” tutur Anggota Komisi X DPR RI Illiza Sa’aduddin Djamal dalam Kunker Komisi X DPR RI ke Banda Aceh seperti dilansir web dpr.go.id.

Benteng Indra Patra terdiri dari sebuah benteng utama yang berukuran 4.900 m2, serta tiga benteng lainnya yang dua di antaranya telah hancur. Benteng ini dibangun sekitar tahun 604 Masehi dan menjadi sejarah proses masuknya pengaruh Hindu dari India ke Aceh. Illiza melihat Benteng Indra Patra perlu direvitalisasi, karena banyak bangunan yang sudah hancur. Dalam Kunker Komisi X DPR RI ingin melihat situs-situs cagar budaya yang sudah ditetapkan menjadi situs ataupun belum ditetapkan menjadi situs di Aceh.

Anggota Komisi X DPR RI Desy Ratnasari menuturkan situs-situs sejarah yang cenderung disukai oleh wisatawan mancanegara adalah situs-situs sejarah yang serba natural dan alami dan bersejarah. Oleh karena itu situs sejarah Benteng ini harus direvitalisasi, sehingga bisa mendatangkan wisatawan lokal ataupun asing. “Situs ini menjadi representasi budaya masyarakat Indonesia dari zaman dulu, baik dari tata cara kehidupannya ataupun cara membangun bangunan dan dari segi arsiteknya, kami ingin situs ini direvitalisasi, sehingga sejarah bangsa kita tidak hilang,” tutur legislator asal Jawa Barat IV tersebut.

Semasa Kesultanan Aceh, benteng ini berperan besar sebagai salah satu garis pertahanan dalam menghadapi Portugis. Benteng ini direbut dari Portugis oleh Darmawangsa Tun Pangkat (Iskandar Muda). Semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) benteng ini, bersama Benteng Inong Balee, Benteng Kuta Lubok dan beberapa benteng lainnya menjadi pusat pertahanan Aceh terutama dalam menghadang serangan dari arah laut. Posisi benteng yang berhadapan dengan Benteng Inong Balee di seberang timur Teluk Krueng Raya berperan strategis dalam mencegah armada Portugis memasuki Aceh melalui teluk ini.

Adonan tersebut dibuat dari campuran kapur, tumbukan kulit kerang, tanah liat dan putih telur. Penggunaan putih telur sebagai perekat bangunan seperti ini juga dapat kita temukan di beberapa bangunan kuno lain di Nusantara seperti Candi Borobudur dan Prambanan.

tidak saja menyimpan sejarah tentang kejayaan peradaban Islam semasa Kesultanan Aceh saja. Jauh sebelum Islam masuk ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, agama Hindu telah terlebih dahulu berkembang di masyarakat. Salah satu saksi bisu masa keemasan kerajaan Hindu di Aceh adalah Benteng Indra Patra yang terletak di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Benteng Indra Patra terdiri dari sebuah benteng utama berukuran 4900 meter persegi dan tiga benteng lain yang dua diantaranya telah hancur. Situs arkeologi ini didirikan sekitar tahun 604 M oleh Putra Raja Harsya yang berkuasa di India, yang melarikan diri dari kejaran Bangsa Huna. Keberadaan benteng ini menjadi peninggalan sejarah mengenai proses masuknya pengaruh Hindu dari India ke Aceh. Diperkirakan pada saat itu, Kerajaan Hindu, Lamuri, mulai berkembang di daerah Pesisir Utara Aceh Besar. Benteng ini merupakan satu dari tiga benteng yang menjadi penanda wilayah segitiga kerajaan Hindu Aceh, yaitu Indra Patra, Indra Puri dan Indra Purwa.

Foto udara yang dijepret melalui Drone Phantom 4 pro plus. Berikut foto-foto pilot drone AK Jailani.

Rubrik:FOTO

Komentar

Loading...