Sebanyak 20 orang warga di Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh reaktif COVID-19 berdasarkan hasil tes cepat yang dilakukan Tim Satgas Gugus Penanggulangan COVID-19 kabupaten setempat. "Dari lebih kurang 100 orang yang dilakukan rapid tes, saat ini yang positif rapid test di Nagan Raya sebanyak 20 orang," kata Koordinator Dokter Satgas Penanggulangan COVID-19 Kabupaten Nagan Raya, Dr Edi Hidayat SPPD.

5 Fakta No Bra Day

Sehari Tanpa Beha untuk Kampanye Kanker Payudara

thinkstockIlustrasi
A A A

JAKARTA - Dari tahun ke tahun, No Bra Day atau Hari Tanpa Beha selalu diperingati tiap tanggal 13 Oktober. Konon ditujukan sebagai bagian dari kampanye kepedulian terhadap bahaya kanker payudara.

Peringatan ini tidak lepas dari kontroversi. Beberapa kalangan menilai tidak ada hubungan langsung antara bra dengan kanker payudara, tetapi sebagian lainnya menganggap ini sebagai cara paling efektif untuk menarik perhatian.

Bagi para pendukung 'No Bra Day', keterkaitan dengan kanker payudara bisa disamakan dengan 'Ice Bucket Challenge' pada kampanye kepedulian Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Tidak secara langsung berhubungan, tetapi membuat orang jadi penasaran akan pesan yang ingin disampaikan.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 5 fakta 'No Bra Day' yang perlu diketahui.

  1. Sejarah No Bra Day

Tidak diketahui pasti kapan dan bagaimana tradisi No Bra Day bermula. Namun diyakini, kampanye ini mulai ramai sejak 2011 di Amerika Serikat, dengan muatan pesan untuk melakukan deteksi dini kanker payudara. Kampanye ini meluas ke seluruh dunia lewat media sosial.

  1. Tidak ada kaitan bra dengan kanker payudara

Terlepas dari tujuan No Bra Day, ada banyak mitos beredar yang mengaitkan bra dengan kanker payudara. Salah satunya menyebut memakai bra berkawat atau terlalu ketat bisa memicu kanker payudara. Dipastikan mitos-mitos tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan dan tidak perlu dipercaya.

  1. Dinilai efektif sebagai kampanye

Meski tidak berhubungan, sebagian kalangan menganggap No Bra Day sah-sah saja dijadikan sebagai kampanye kepedulian terhadap bahaya kanker payudara. Terlebih, kampanye ini diperingati pada bulan Oktober, yang memang menjadi Bulan Kepedulian Kanker Payudara. Soal ada keterkaitan atau tidak, kurang lebih sama seperti ketika orang memviralkan Ice Bucket Challenge untuk meningkatkan kepedulian tentang Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).

"Itu adalah sebuah kebebasan berpendapat ya. Dari CISC sendiri sebagai suatu institusi sangat menghargai karena awareness masyarakat tentang kanker payudara jadi semakin bertambah, dengan catatan perayaan ini harus sesuai dengan norma yang ada," ujar Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Umum CISC (Cancer Information & Support Center).

  1. Picu kontroversi

Kampanye No Bra Day tidak lepas dari kontroversi. Karena tidak ada kaitan langsung antara lepas beha dengan kanker payudara, banyak yang menganggap kampanye ini menjadikan image kanker payudara menjadi sangat seksual. Tagar #NoBraDay di media sosial lebih didominasi gambar perempuan bertelanjang dada dibandingkan pesan-pesan untuk melakukan deteksi dini kanker payudara.

  1. Sesekali melepas bra tetap ada manfaatnya

Bagaimanapun, sesekali melepas bra akan membuat peredaran darah menjadi lebih lancar dan disarankan untuk tidak memakai bra saat tidur. Namun yang lebih penting, sempatkan sesekali untuk melepas bra dan melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri), salah satu metode deteksi dini kanker payudara paling praktis tapi sangat efektif.

Sumber:Detik.com
Rubrik:KESEHATAN

Komentar

Loading...