Aksi unjuk rasa yang yang dilakukan oleh Petani Kopi Menangis (PKM) di depan gedung DPRK Bener Meriah terjadi saling dorong dengan petugas keamanan. Satpol PP dan Personel Polres Bener Meriah menjadi benteng terdepan untuk menahan para pendomo untuk menerobos gedung DPRK Bener Meriah. Senin (19/10/2020)

Siap Pisah dari Aceh

Reje di Bener Meriah Kecewa dengan Keputusan DPRA

SAMSUDDINKetua Forum Reje Kampung Syiah Utama Iskandar
A A A

BENER MERIAH – Reje Kampung Wihni Durin Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Nasaruddin meluapkan rasa kekecewaanya terhadap Anggota DPRA yang meminta proyek pembangunan jalan di daerah pinggiran yang dibalut dalam proyek tahun jamak atau Multi Years dibatalkan.

Kepada acehimage.com, Senin (21/9/2020), Nasaruddin mengatakan, proyek Multi Years untuk membagun jalan pingiran mulai jalan Samar Kilang, Gayo Lues, Aceh Timur Lukub Serba Jadi dan Aceh Tamiang pihaknya mendengar banyak anggota DPRA tidak mendukung proyek tersebut padahal itu merupakan harapan masyarakat yang terisolir untuk menikmati jalan yang layak.

"Justru itu, kami mempertanyakan apa keinginan dari pada anggota DPRA tidak mendukung proyek Multi Years tersebut sementara meraka itu duduk di parelemen itu dipilih oleh rakyat, apakah mereka tidak mengayomi masyarakat sama sekali, atau kalau mau untuk membunuh masyarakat,"ucap Nasaruddin penasaran.

Ia selaku reje kampung disalah satu wilayah Syiah Utama mengatakan semenjak tahun 1983 pernah sekolah ke Samar Kilang masih kondisi jalan hutan dan saat ini sudah tembus pembukaan jalan, namun belum menikmati jalan beraspal.

"Apakah kami masyarakat disini tidak ada dari bagian kemerdekaan republik Indonesia, kalau memang itu keinginanan anggota DPRA Aceh yang tidak mendukung proyek Multi Years tersebut maka saya selaku Reje Kampung menyatakan sikap siap berpisah dari Aceh dan mendukung sepenuhnya pemekaran Provinsi ALA,"tegas Nasaruddin.

Sementara itu, Iskandar ketua Forum Reje kampung Syiah Utama menolak keras upaya DPRA membatalkan proyek Multi Years, pasalnya dalam proyek Multi Years tersebut salah satunya adalah peningkatan pembangunan jalan Pondok Baru –Samar Kilang.

“Setelah saya sikapi kebijakan DPRA itu kami sangat menentang dan menolak kebijakan tersebut, karena selama ini setelah MoU damai 15 tahun damai, kami tidak pernah minta apapun dari Aceh, kami hanya meminta infarastruktur kami ke Kecamatan Syiah Utama daerah yang terisolir di Kabupaten Bener Meriah itu lancar dan mudah dilalui oleh siapapun tidak seperti yang sudah-sudah ini,"cerita Iskandar ketika diwawancara oleh acehiage.com.

Dikatakan Iskandar, ketika ada kebijakan Gubernur untuk melanjutkan Multi Years ada upaya DPRA untuk membatalkannya, bahkan inggin mengulingkan Gubernur. Oleh sebab itu, ketua Forum Reje kampung Syiah Utama menerangkan dimana DPRA itu pilihan rakyat, begitu juga Gubernur merupakan pilihan rakyat. Nah jika pembatalan proyek multi years itu betul-betul terjadi maka pihaknya menegaskan tidak akan memilih DPRA lagi dalam Pileg yang akan datang.

"Terhadap kebijakan Gubernur kami sangat mendukung, sebab kebijakan yang akan dijalankan Gubernur itu adalah betul betul kebijakan yang menyetuh rakyat. Selama 15 tahun sudah Aceh damai kalau kebijakan Gubernur tidak berpihak kepada rakyat, sebab yang ditempel hanya di perkotaan saja, sementara di daerah terisolir dibiarkan begitu saja,"imbuh Iskandar.

Dirinya juga menceritakan bahwa dia merupakan mantan Tahanan Politik (Tapol) di kedah waktu itu bersama Irwandi dan Rizal Fahlevi yang kini sebagai Anggota DPRA.

"Jika ini terus bergejolak, maka kami siap mendukung ikrar pemekaran Provinsi ALA dan kami sangat mendukung kalau DPRA tetap membatalkan proyek Multi Years dan kami akan menentang DPRA siapapun orangnya,"ancam Iskandar.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...