Mantan Anggota Parlemen RI Ghazali Abbas Adan menyebutkan Wali Nanggroe Memang bukan maqam (neuduek)-nya Malik Mahmud Al Haytar. Dimana seharusnya sosok Wali Nanggroe sebagai pemersatu masyarakat Aceh. Ini disampaikan Ghazali setelah Aktivis Kebudayaan sekaligus Pendiri Institut Peradaban Aceh, Haekal Afifa meminta Wali Nanggroe Aceh menegur dan memperingatkan DPRA terkait polemik yang terjadi dengan Pemerintah Aceh saat ini.

PUSP Ungkap Pelaku Pemerkosa Gadis Dibawah Umur

SAMSUDDINKetua Perkumpulan Umah Sunting Pirak Railawati SH
A A A

BENER MERIAH – Kasus Pemerkosaan terhadap Gadis dibawah umur yang merupakan warga Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah menjadi perhatian serius beberapa kalangan salah satunya Perkumpulan Umah Sunting Pirak (PUSP).

Pasalnya, pasca mencuatnya pemberitaan media tentang kasus pemerkosaan terhadap gadis dibawah umur yang diduga dilakukan oleh dua orang remaja yang berinisial Y (14 ) dan Z (16).

Perkumpulan Umah Sunting Pirak yang diketua Railawati SH dan teman-teman langsung bergerak menyambangi keluarga korban.

“Tujuan kami melakukan kunjungan kekeluarga korban, selain mencoba mendengarkan langsung persitiwa yang menimpa gadis X (16) sembari memastikan bahwa hak-hak korban dan keluarga terpenuhi," ungkap Railawati melalui keterangan tertulis, Jumat ( 11/9/2020).

Dari penelusuran PUSP itu, diduga pelaku Z (16) masih dalam masa penanguhan tahanan karena terlibat dalam kasus pemerkosaan lebih dari satu orang pelaku ( anggota geng rape ) sekira pada bulan Agustus 2020 lalu.

Bagi keluarga korban, setelah mengetahui salah satu pelaku pemerkosa itu merupakan “anggota geng rape“ justru menjadi ketiknyaman pihak keluarga, sehingga hal itu menjadi terror bagi keluarga korban dan pihak korban merasa kecewa dengan penegakan hukum.

Berdasarkan teuman PUSP, mereka mengeluarkan beberapa rekomendasi terhadap pihak-pihak terkait.
Diantaranya, meminta pemerintah untuk tetap komit dalam pendampingan korban khususnya perempuan dan anak, dan dalam hal ini Perkumpulan Umah Sunting Pirak siap bersinergi bersama pemerintah setempat.

Selanjutnya, dalam proses penegakan hukum, Sunting Pirak mengingatkan kepada aparat penegak hukum untuk berhati-hati dalam mengambil kesimpulan tentang upaya hukum (penangguhan penahanan) atau bentuk apapun yang menempatkan pelaku dapat berkeliaran dan mengulangi tindak pidana yang sama. Yang akhirnya sangat merugikan korban dan juga menimbulkan korban-korban baru yang lain. Sunting Pirak merasa sangat prihatin karena pengawasan yang lemah.

Sementara secara statistic kita mengetahui bahwa Bener meriah merupakan wilayah dengan angka kekerasan seksual yang memprihatinkan.

"Penanganan psikologi bagi korban semestinya sudah diberikan sejak awal kasus ini ditangani sehingga korban dan keluarga korban mendapatkan layanan psikologi/psikiatri sehingga korban dan keluarganya merasa nyaman.
Peran P2TP2A dalam hal ini sangat diharapakan untuk dapat meningkatkan koordinasi dalam penanganan kasus dan memastikan pendampingan efektif dan hak hak korban dapat terpenuhi," harap Railawati.

Selanjutnya, dibutuhkan sosialisasi oleh pemerintah dan institusi hukum yang cukup kepada masyarakat tentang penerapan hukum dalam payung hukum qanun Jinayah bagi pelaku pemerkosaan yang merupakan kebijakan khusus di provinsi Aceh. Korban sering merasa tidak cukup terlindungi dari pelaku pemerkosaan apabila pelaku mendapat hukuman cambuk.

"Dan itu yang selama ini menjadi momok bagi masyarakat dan khususnya korban.
Khususnya bagi pelaku anak perlu upaya yang sangat serius dari APH dan institusi hukum untuk memastikan bahwa dalam lembaga pemasyarakatan anak- anak yang berhadapan dengan hukum ini dapat direhabilitasi dan dipastikan untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya,"pinta Railawati.

Perempuan yang berprofesi pengacara itu juga menyebutkan, dari pengakuan pihak keluarga korban dan Reja Kampung setempat, jiwa korban masih dalam keadaan terguncang.

"Kepada kami secara langsung korban mengatakan malu sambil menagis, karena teman-temanya semua sudah tau apa yang terjadi padanya akibatnya korban takut keluar rumah. Saat ini korban belum sangup untuk mengikuti proses belajar mengajar," katanya.

Selain korban, ibu korban yang dalam kondisi stroke juga bertambah menderita karena ikut juga tertekan. Apabila ada tamu ibu korban panic dan meminta pintu rumah untuk segera di tutup. Saat ini kondisi ibu korban lumpuh total dan sangat sulit untuk bergerak dan mengurus kebutuhannya sehari hari.

"Bahwa sejak awal korban diperiksa sudah didampingi oleh petugas P2TP2A, yang tidak didampingi pada sidang agenda saksi. Jadi pendampingan dari P2TP2A itu ada namun tidak sampai pada persidangan,"pungkasnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...