Akibat tingginya curah hujan mengakibatkan dua unit rumah warga Kampung Lampahan Timur, Kecamatan Timah Gajah, Kabupaten Bener Meriah tertimbun tanah longsor, Jumat (15/1/2021). Selain itu, satu unit gudang yang berada di dekat rumah ikut tertimbun. Plt Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Bener Meriah, Safriadi melalui Kabid Kedaruratan, Anwar Sahdi menyampaikan, dua rumah warga yang tertimbun bagian dapurnya itu yakni rumah, Musliadi dan Muklis yang merupakan Reje Kampung Setempat.

Proyek Pengendalian Banjir Krueng Buloh Diduga Dibangun Asal Jadi

SAID AQIL AL MUNAWARProyek pembangunan pengendalian banjir Krueng Buloh
A A A

ACEH UTARA - Proyek pembangunan pengendalian banjir Krueng Buloh di Gampong Blang Ara bersebrangan dengan Gampong Krueng Manyang Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara senilai Rp10 Milyar lebih disinyalir dibangun asal jadi.

Kondisi bangunan proyek yang baru rampung dibangun sebulan yang lalu oleh pihak rekanan dari sumber Anggaran APBA tahun 2020  tersebut sudah ambruk ke sungai bahkan terlihat beberapa bagian bangunan sudah mulai retak dan hancur.

Menurut informasi yang diperoleh media ini dari salah seorang tokoh masyarakat setempat, Jailani Zakaria, dimana faktor patah atau ambruknya bangunan tersebut tidak adanya kualitas bangunan dan penyebabnya.

"Ambruk atau patahnya tebing beton bukan karena banjir akibat air sungai, tetapi beton tersebut tidak mampu menahan tanah timbun yang tidak padat atau labil,"kata Jailani dengan nada kesal melihat kondisi proyek asal jadi tersebut.

Jailani menambahkan, pembangunan proyek yang menelan biaya begitu besar hingga mencapai sepuluh milyar ini perlu kita pertanyakan kepada instansi terkait apakah kwalitas sudah sesuai dengan kontrak.

"Mungkin kwalitas beton yang perlu kita pertanyakan ke Dinas Pengairan Aceh, menyangkut penggunaan material besi, artinya secara umum kwalitas bangunan apakah sudah sesuai dengan kontrak,"kata Jailani kepada media ini.

Selain itu kata Jailani, Ironisnya sudah beberapa pekan bangunan proyek yang sudah ambruk ke dalam sungai dengan lebih kurang 10 meter hingga kini belum juga ada juga respon dari Pihak rekanan atau dinas untuk melakukan perbaikan ke lokasi.

Karena menurutnya, dari sejak awal tahap dikerjakan pembangunan proyek tersebut, ia sudah curiga kurangnya kualitas bangunan. karena saat tahap pengerjaan proyek tersebut juga pernah ambruk saat air sungai meluap karena hujan,"pungkanya.

Tentunya sambung Jailani, bangunan yang dibangun untuk kebutuhan masyarakat, ternyata tidak bermanfaat, belum seberapa lama sudah mulai retak dan ambruk.

Maka untuk itu dia sangat berharap kepada pihak berwajib supaya Pembagunan tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, agar tidak ada pihak yang bermain-main dengan uang negara.

Kepala dinas PUPR Aceh Utara, Edi Anwar, dalam sambungan telponya, dirinya tidak tau soal pekerjaan proyek tanggul tersebut, karena itu bukan dibawah tanggung jawabnya, bahkan saat pihak pelaksana ketika bekerja juga tidak ada koordinasi bentuk apapun dengan pihak mereka.

"Pelaksanaaan proyek itu bukan di bawah tangggung jawab kami, maka kami tidak tau atau mengerti."tutup Edi

Sementara Kepala Dinas Pengairan Aceh, Mawardi, saat dihubungi mengatakan, pihaknya sudah menyuruh pihak teknis untuk turun kelokasi melihat kondisi bangunan supaya tau cara menanganinya, karena dengan pihak kami belum serah terima,"sebutnya.

Saat disinggung Kwalitas proyek, mawardi menyebutkan bahwa soal kwalitas pihaknya tidak bisa menyimpulkan, karena disitu ada konsultan pengawas yang sudak dibayar dengan uang negara, maka mereka yang harus tau bagaimana Kwalitasnya, apakah sesuai dengan desain atau tidak.

"Namun kita sangat berharap, siapapun rekanan harus bagus dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya,"kata Mawardi.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...