Ketua Komisi V DPRA, M. Rizal Falevi Kirani, kembali menjadi narasumber peHTem edisi Kamis, 6 Oktober 2022 episode ke 14 Tahun ke 3 dengan tema: Peran Anggota DPRA dalam Memperjuangkan JKA yang dipandu oleh host Siti Aminah, S.IP, M.MLS, Jangan lupa like share comment and subsribe.

Tingginya Kasus HIV Mahasiswa

Profesor Zubairi: Generasi Muda Kelompok Rentan

IlustrasiIlustrasi
A A A

ACEHIMAGE.COM - Belakangan tengah ramai kasus ratusan mahasiswa di Bandung, Jawa Barat yang dinyatakan mengidap HIV/AIDS.

Diketahui, ratusan kasus HIV mahasiswa di Bandung adalah kumulatif kasus selama 30 tahun terakhir. Menurut laporan, kelompok pengidap terbanyak adalah anak muda usia produktif, dalam hal ini adalah para mahasiswa.

Merespon berita ini, Prof Dr dr Zubairi Djoerban, SpPD KHOM (penemu kasus pertama sekaligus pionir penanganan HIV dan AIDS di Indonesia), mengatakan kalau generasi muda memang kelompok rentan terinfeksi HIV. Penyebabnya beragam, tapi yang cukup tinggi prevalensinya adalah karena hubungan seksual.

"HIV itu memang paling banyak dialami pada individu berusia 25-40 tahun. Kenapa? Karena mereka selalu ingin coba-coba hal baru," ungkap Prof Zubairi Djoerban saat diwawancarai di Gedung dr R Soeharto, Jakarta. Selasa, 30 Agustus 2022.

Dilihat dari segi faktor risiko, faktor risiko yang paling tinggi itu adalah hubungan seksual, akibat penggunaan narkoba suntik, hingga faktor prostitusi. Alasan ekonomi menjadi penyebab seseorang memilih prostitusi sebagai cara bertahan hidup.

"Ya, banyak sekali remaja yang berasal dari keluarga kurang beruntung yang memerlukan dukungan ekonomi, itu yang membuat mereka menjadi prostitusi anak dan pilihan itu menjadikan mereka kelompok rentan HIV," lanjut Prof Beri, sapaan akrabnya.

Prof Dr dr Zubairi Djoerban, SpPD KHOM (penemu kasus pertama sekaligus pionir penanganan HIV dan AIDS di Indonesia)

Selain tiga faktor risiko penyebab HIV di atas, ada juga penyebab lain seperti transfusi darah maupun tenaga kesehatan yang terpapar darah pasien HIV.

Prof. Beri menekankan kepada masyarakat, bahwa terinfeksi HIV bukanlah akhir dari kehidupan. Sebab, orang dengan HIV AIDS (ODHA) bisa tetap punya kehidupan yang berkualitas asal tidak putus obat (ARV).

"Orang dengan HIV yang tidak putus obat, menjalani hidup sehat secara teratur, tetap memiliki kualitas hidup yang baik, bahkan lebih baik dari masyarakat biasa. Ini sudah saya buktikan di beberapa pasien HIV saya," ungkap Prof Beri.

"Banyak dari ODHA yang saya tangani hidupnya lebih sehat dan fit dibanding masyarakat biasa. Sebab, mereka dituntut untuk hidup sehat seperti konsumsi makanan sehat dan berolahraga secara rutin. Itu membuat mereka lebih fit, bahkan dibanding kelompok seusianya," tutupnya.[]

Sumber:okezone.com
Rubrik:KESEHATAN

Komentar

Loading...