Sekretaris Pusham Unsyiah, Suraiya Kamaruzzaman, menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 20 Januari 2022 episode ke 44 Tahun ke II dengan tema: Apakah Cambuk Solusi Terakhir Bagi Predator Seksual?, yang dipandu oleh host Siti Aminah Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Prilaku Penyumbang Peran Terbesar Pada Kemiskinan Di Aceh

For acehimage.comDr. Zainuddin, SE, M.Si | Dosen Fakultas Ekonomi Serambi Mekkah Banda Aceh
A A A

Pertanyaannya kenapa juga kemiskinan itu sangat betah berada di Aceh?. Jawaban atas pertanyaan tersebut bukan karena umat di Aceh tidak ta'at pada ajaran agama Islam, tetapi barangkali ada perilaku yang sedikit menjauh dari tuntunan agama itu sendiri

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekkah

KAUM muslimin sudah sering mendengar kata-kata bijak “takkan berubah nasib seseorang bila yang bersangkutan tidak mau mengubahnya”. Makna yang terkandung dalam kalimat singkat ini, diantaranya adalah bahwa kehidupan baik pribadi maupun masyarakat salah satunya sangat ditentukan oleh keperilakuan atau prilaku dari yang bersangkutan.
perilaku yang dimaksud adalah bagaimana pola hidup, kebiasaan keseharian dan termasuk adat istiadat serta lainya. Bagi muslimin itu kebiasaan harus menyesuaikan (adjust) dengan tuntutan hukum agama.

Bila demikian kita artikan perilaku, lantas bagaimana hubungannya dengan kemiskinan. Pada tulisan ini yang kita soroti adalalah prilaku para personal masyarakat secara umum dan perilaku yang menerima manfaat dari Negara yang bertugas pada melakukan pelayanan kepada masyarakat, termasuk didalamya merencanakan dan merealisasikan budget pembangunan suatu wilayah untuk mencapai tujuan kesejahteraan bersama.

Umat di Aceh sudah menjadi nyata diidentifikasi sebagai pemeluk agama Islam yang ta'at. Keta'atan umat di Aceh yang sangat nyata adalah kefanatikannya yang tidak tergoyahkan dalam membela agama Islam itu sendiri. Jika kita mau sedikit berfikir bahwa agama Islam pada dasarnya tidak membenarkan ada sebagian umat yang miskin diantara sebagian umat yang sejahtera, artinya bila ditengah-tengah umat yang ta'at pada Islam pasti jurang pemisah diantara si kaya dengan si miskin itu tidak begitu lebar karena perintah agama sangat jelas menyerukan untuk memerangi kemiskinan itu sendiri dengan berbagai cara yang sesuai dengan ajaran Islam.

Pertanyaannya kenapa juga kemiskinan itu sangat betah berada di Aceh?. Jawaban atas pertanyaan tersebut bukan karena umat di Aceh tidak ta'at pada ajaran agama Islam, tetapi barangkali ada perilaku yang sedikit menjauh dari tuntunan agama itu sendiri, seperti orienatsi kepemilikan materi yang tidak menyesuaikan (adjust) dengan dengungan mulut (sering nyatakan Islam) namum prakteknya tidak sesuai atau “nita, ucapan dan tindakan tidak senada”.

Begitu juga dengan tanggung jawab bagi yang diberi mandat untuk bertanggung jawab mengelola budget pembangunan bisa jadi sudah salah menempatkan kekuasaan, seperti bisa jadi terjerumus pada praktik-praktik KKN ria. Sehingga, capaian dari sebuah budget tidak optimal yang berakibat tidak tercipta kesemarakan ekonomi masyarakat dan ujung-ujungnya tidak terjadi peningkatan tingkat kesejahteraan yang berakibat kemiskinan betah berlama-lama di bumi Iskandar Muda.

Diakhir tulisan pendek ini, mari kita sedikit merenungkan bahwa sepertinya keta'atan kita pada agama Islam tidak hanya sebatas fanatik membela agama yang agung saja, melainkan harus totalitas disetiap aspek kehidupan. Dimana, semua tindakan, baik itu pekerjaan mencari nafkah maupun tanggung jawab yang diberikan harus selalu disesuaikan dengan ajaran Islam yang agung, artinya jika sudah begitu adanya pasti di bumi Aceh teulebeh tidak ada yang namanya korupsi, suap dan perdagangan narkoba.

Yakinkan bahwa bila totalitas ta'at pada agama Islam sudah pasti tidak ada yang sangat kaya dan tidak ada yang angat miskin, karena hidup sudah mencapai titel halalan tayiban. Ingat ibadah mu diterima kuncinya nafkah mu harus halal. []

*) Dr. Zainuddin, SE, M.Si
Dosen Fakultas Ekonomi Serambi Mekkah Banda Aceh

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...