Ketua Komisi V DPRA, M. Rizal Falevi Kirani, kembali menjadi narasumber peHTem edisi Kamis, 6 Oktober 2022 episode ke 14 Tahun ke 3 dengan tema: Peran Anggota DPRA dalam Memperjuangkan JKA yang dipandu oleh host Siti Aminah, S.IP, M.MLS, Jangan lupa like share comment and subsribe.

Panitia Pelaksana Tidak Siap

Polisi Diminta Amankan Uang Tiket

For acehimage.comRusuh
A A A

ACEHIMAGE.COM - Tragedi listrik padam menjelang kick off pada laga perdana Persiraja versus PSMS Medan menjadi catatan kelam dalam dunia persepakbola di Aceh. Masyarakat Aceh yang telah lama menanti tim kesayangannya berlaga pada liga 2 harus menelan pil pahit, karena hanya berhasil menonton insiden padam lampu di Stadion Dimurthala Senin, 5 September 2022.

"Ribuan masyarakat pecinta sepakbola telah rela mengeluarkan uang di tengah ekonomi yang sulit untuk membeli tiket hanya demi menonton tim kebanggaannya Persiraja bertanding di Stadion yang selama ini dikenal sebagai andalan tim yang dulu berjuluk lantak laju itu. Maka, kita meminta agar pihak kepolisian untuk mengamankan uang tiket penonton, karena pertandingan telah sah dihentikan," ujar Ketua Forum Paguyuban Mahasiswa dan Pemuda Aceh, Muhammad Jasdi yang merupakan salah satu pecinta tim sepakbola kebanggaan tanah rencong itu kepada Wartawan. Selasa, 6 September 2022.

Pihak kepolisian, kata Jhon Jasdi juga tak bisa menyalahkan massa hang tengah dirundung kecewa, namun harus menjadi pihak yang adil dalam menjaga kepentingan publik pecinta sepak bola di Aceh.

"Sungguh miris, ketika kita disibukkan dengan sensasi permainan sepakbola berbasis syari'ah sebagai bentuk kearifan lokal dan syiar, namun justru fakta yang memilukan kesiapan teknis lainnya malah terabaikan oleh pihak pelaksana yang telah sekian lama diberi waktu untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk laga persiraja versus PSMS tersebut.

Ini merupakan insiden memilukan sekaligus memalukan bagi masyarakat Aceh. Sementara, mengenai adanya tragedi lainnya seperti pembakaran jaring gawang dan fasilitas yang disebabkan oleh amukan massa penonton merupakan akibat dari keteledoran panitia yang telah merugikan masyarakat pecinta sepakbola.

Seharusnya sepakbola dapat mengangkat marwah daerah, ini justru sebaliknya memalukan daerah hanya karena ketidaksiapan panitia," katanya.

Memang kita lihat secara nominal, uang yang dikeluarkan oleh setiap penonton itu hanya berkisar mulai dari paling rendah Rp50.000 dan paling tinggi Rp200.000. "Jumlah perorang yang mengeluarkan tiket, bagi orang kaya memang relatif sangat murah. Tapi bagi masyarakat biasa ini adalah harga yang mesti dikeluarkan untuk menyaksikan tim kesayangannya berlaga.

Untuk itu, secara tegas kita minta pihak kepolisian mengamankan uang tiket penonton dan panitia harus melaporkannya secara transparan kepada publik, ini penting," tegasnya.

Pihaknya juga mengingatkan panitia agar ke depannya lebih siap dalam laga-laga berikutnya agar insiden buruk seperti ini tak terulang lagi. "Manajemen dan panitia harus benar-benar siap, bukan hanya bicara sensasi penggunaan lejing dalam permainan bola.

Tapi bahkan hal-hal teknis juga harus dipersiapkan dengan matang, jika tidak lagi-lagi masyarakat Aceh khususnya pecinta sepakbola tanah rencong akan dirugikan. Dimana letak martabat laskar tanah rencong jika diawal laga saja sudah terjadi pembakaran stadion.

Kami minta manajemen dan panitia harus mempertanggungjawabkan kepada masyarakat Aceh.

"Bek gara-gara panitia hana siap, lampu matee, ban saboh Aceh malee," imbuhnya.[]

Rubrik:SPORT

Komentar

Loading...