Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Selatan Yenni Rosnizar SKM, merasa kecewa dengan kondisi pelayanan di RSUD dr Yulidin Away (RSUD YA) Tapaktuan, menyusul meninggalnya seorang warga yang berprofesi sebagai perawat saat menjalani Operasi melahirkan di RSUDYA, (7/8/2020). “Mungkin karena keterbatasan tenaga medis sehingga penanganan terhadap pasien menjadi tidak efektif, apalagi banyak tenaga medis yang diisolasi akibat Covid-19", Kata Yenni Rosnizar SKM

Pemerintah Tetapkan Aturan Baru Pemecatan PNS:

PNS Diberhentikan Bila Mencalonkan Diri Kepala Daerah dan Legislatif

NETIlustrasi ASN
A A A

BANDA ACEH - Pemerintah akan memecat Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mencalonkan diri untuk kepala daerah maupun legislatif.

Untuk memperkuat kebijakan tersebut, Pemerintah mengeluarkan aturan baru soal Pegawai Negeri Sipil (PNS), sebagaimana termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 17/2020 tentang Perubahan atas PP No. 11/2017 tentang Manajemen PNS.

Seperti dilansir Kompas.com, dalam peraturan tersebut terjadi sejumlah perubahan, mulai dari urusan cuti hingga pemberhentian PNS.

Salah satu yang menjadi atensi publik stau paling disorot dari aturan baru tersebut adalah soal pemberhentian PNS.

Setidaknya dalam aturan tersebut, ada tiga hal pokok yang bisa membuat PNS diberhentikan, baik dipecat atau diminta mengundurkan diri.

Pemberhentian tidak hormat

Pertama, dalam pasal 250, disebutkan bahwa PNS dapat diberhentikan secara tidak hormat apabila melakukan hal-hal berikut:

1. Melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

2. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan Jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan.

3. Menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.

4. Dipidana dengan pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan hukuman pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan pidana yang dilakukan dengan berencana.

Pengunduran diri
Kedua, menurut pasal 254, PNS wajib mengundurkan diri dengan ketentuan berikut:

1. PNS wajib mengundurkan diri sebagai PNS pada saat ditetapkan sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden, Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah, Gubernur dan Wakil Gubernur, atau Bupati/Wali Kota dan Wakil Bupati/Wakil Wali Kota oleh lembaga yang bertugas melaksanakan pemilihan umum.

2. Pernyataan pengunduran diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat ditarik kembali.

3. PNS yang mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dengan hormat sebagai PNS.

4. PNS yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan tidak dengan hormat sebagai PNS.

5. Pemberhentian dengan hormat sebagai PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku terhitung mulai akhir bulan sejak PNS yang bersangkutan ditetapkan sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden, Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah, Gubernur dan Wakil Gubernur, atau Bupati/Wali Kota dan Wakil Bupati/Wakil Wali Kota oleh lembaga yang bertugas melaksanakan pemilihan umum.

Ketiga, pada Pasal 280, diatur terkait PNS yang menjadi tersangka. Mereka akan diberhentikan sementara sejak dilakukan penahananan Pemberhentian itu bukan pada akhir bulan sejak ditahan, tapi sejak yang bersangkutan ditahan, maka langsung dihentikan sementara.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...