Innalilahi wainnailaihi rojiun, Dimas Muhammad Andrean balita yang berusia 2 tahun ditemukan meninggal tenggelam dalam kolam di depan Cafe Pondok Indah, Kampung Karang Rejo Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Selasa (19/1/2021). Kapolres Bener Meriah, AKBP Siswoyo Adi Wijaya SIK melalui Kasubbag Humas Iptu Jufrizal SH menyebutkan, Dimas Muhammad Andrean pertama sekali ditemukan di dalam kolam oleh Kamarudin karyawan cafe Pondok Indah tersebut.

Plus – Minus Kepala Daerah Dipilih Oleh DPRA

ISTIMEWAUsman Lamreng
A A A

BANDA ACEH - Wacana Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) yang mengusulkan kepada pemerintah pusat agar mekanisme Pilkada di Aceh dapat dilakukan perubahan.

Hal itu diapresiasi oleh pengamat sosial dan politik dari Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh, Usman Lamreung.

Sebelumnya YARA meminta kepada pemerintah supaya Kepala Daerah mulai Gubernur, Bupati/Walikota tidak lagi dipilih secara langsung oleh rakyat, melainkan, dipilih oleh DPR di masing- masing tingkatan.

Terkait dengan usulan YARA tersebut kata Usman Lamreung menarik untuk dianalisis dan di diskusikan. Pasalnya dari tahun 2006 hingga 2017 kemarin, produk hasil pilkada langsung terbukti belum mampu membawa daerah (Aceh) dari ketertinggalan dengan propinsi/kota lainnya.

Malah lebih parah dampak produk pilkada langsung katanya, membuka lebar KKN (korupsi, nepotisme dan kolusi).

"Jadi, sudah sangat wajar jika YARA mengusulkan Pilkada dengan sistem pemilihan di pilih oleh DPRA," kata Usman Lamreung, Selasa (24/11/2020).

Menurutnya kata Usman, perlu di lihat plus-minus Pilkada langsung dan sistem perwakilan.

Sistem Pilkada langsung oleh rakyat ujarnya, legitimasi lebih tinggi meski potensi terjadinya konflik sosial besar.

Pilkada langsung tentu mencerminkan partisipasi dan kedaulatan rakyat bagian dari perwujudan hak rakyat dalam memilih dan dipilih juga memperkuat legitimasi.

Menurutnya, Pilkada langsung juga mendekatkan hubungan pemimpin dengan rakyat, adanya pendidikan politik dan menjamin terpilihnya pemimpin yang kapabel dan berkualitas, serta proses pendalaman pemahaman demokrasi pada rakyat.

Selanjutnya yang menjadi plus serta keunggulan dalam Pilkada dengan sistem perwakilan adalah pelaksanaan lebih sederhana, efisien, minim potensi konflik sosial, dan memungkinkan terjadinya harmonisasi DPRD dan kepala daerah.

Adapun minus pelaksanaan pilkada langsung adalah politisasi birokrasi, anggaran yang besar, rawan konflik sosial, selain pranata demokrasi yang belum siap.

Bila fungsi Parpol berjalan, Pilkada langsung lebih baik

Kemuadian minus dan kelemahan pelaksanaan Pilkada dengan sistem perwakilan adalah mendorong terjadinya oligarki kekuasaan, politik uang di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan mereduknya proses demokratisasi politik lokal.

Dari semua uaraian tersebut kata Usman, sudah sepatutnya pilkada langsung lebih baik.

"Bila partai politik benar-benar menjalankan peran, fungsi dan pengkaderan dengan SDM yang baik, pasti akan melahirkan pemimpin yang andal dan berkualitas," ungkap Usman Lamreung.

Pilkada langsung ujar Usman, berpontensi berkualitas, tapi pelaksananya harus netral, jangan ada keberpihakan pada calon.

"Jika netralitas pelaksanaan terjamin, jangan sampai ada transaksional, politisasi ditingkat birokrasi dan kekerabatan dalam politik. Pasti pilkadasung lebih baik bagi pendidikan politik rakyat," tegasnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...