Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah kembali didemo oleh Mahasiswa, Kamis (17/9). Aksi unjuk rasa kali ini dilakukan oleh Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar- Raniry Banda Aceh. Massa aksi unjuk rasa meminta Kepala Pemerintahan Aceh menjamin perlindungan terhadap petani dan nelayan sebagai upaya memastikan ketahanan pangan. Para pendemo membawa berbagai poster seperti "Buya Krueng Teudong-dong Buya Tamoeng Meuraseki"

Harga Naik

Petani Kelapa Sawit di Abdya Mulai Bergairah Lagi

ANTARAPetani mengangkut Tandan Buah Segar kelapa sawit dengan mengunakan perahu dikawasan Kuala Batu, Kecamatan Kuala Batee, Aceh Barat Daya belum lama ini.
A A A

ACEH BARAT DAYA - Para petani kelapa sawit di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Provinsi Aceh mulai bergairah lagi merawat dan membersihkan lahan kebun mereka setelah harga komoditas non migas tersebut alami kenaikkan signifikan sejak dua bulan terakhir ini.

Muazam, salah seorang petani yang memiliki kebun kelapa sawit dikawasan Teluk Surin, Desa Lama Tuha, Kecamatan Kuala Batee, Abdya saat dikonpirmasi wartawan, Selasa, mengaku sangat lega dengan naiknya harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit tersebut.

“Alhamdulillah sudah lumayan lega. Kemarin saat memasuki bulan suci ramadhan harga sawit kami hanya dibeli Rp700 perkilogram ditingkat petani. Sekarang harga TBS ditampung pabrik kelapa sawit di Kabupaten Nagan Raya sudah mencapai Rp1.500 perkilogramnya,” ucap Muazam

Muazam mengatakan dengan naiknya harga pembelian TBS tersebut tentu membuat para petani di daerahnya kembali bergairah terutama dalam merawat, dan melakukan pemupukan tanaman kelapa sawit mereka serta membersihkan lahan kebun dari serangan gulma atau rumputan liar.

Sebab, tambah dia, upah pekerja pembersihan lahan dan aplikasi pupuk untuk perawatan tanaman dan obat-obatan yang dikeluarkan pemili kebun sudah sesuai dengan pendapatan, sehingga tidak harus lagi tekor akibat murahnya harga pembelian sawit seperti sebelumnya.

“Sebelumnya harga sawit menurun dratis, kami para pemilik kebun sawit menjerit karena harga jual komoditas non migas yang kami terima usai dipanen tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk, obat-obatan, sehingga kami harus tekor selalu untuk biaya perawatannya,” ujarnya

Ia berharap harga Rp1.500 perkilogram itu bisa stabil atau terus bertambah naik karena masyarakat di Kecamatan Babahrot, dan Kuala Batee ini rata-rata hanya memiliki kebun sawit, tanpa adanya pendapatan lainnya.

Salah seorang pengusaha pengepul kelapa sawit di Kecamatan Babahrot, Abdya, Yusran Adek dikonpirmasi membenarkan bahwa harga TBS saat ini ditingkat pabrik tengah mengalami kenaikkan yang signifikan.

Betapa tidak, jika PKS di Kabupaten Nagan Raya, hanya membeli TBS petani dengan harga Rp 1.500, maka PKS di Kota Subulussalam membeli komoditas non migas tersebut dengan harga Rp1.700 per kilogramnya

“Kalau di Nagan Raya masih murah hanya Rp1.500 per kilogram. Yang lebih mahal lagi di Subulussalam mencapai Rp1.700 per kilogram. Makanya kami pengusaha sawit memilih menjual TBS ke PKS Subulusalam,” ujarnya

Sumber:ANTARA
Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...