Khabib Nurmagomedov bakal segera menggelar jumpa pers terkait masa depannya di UFC. Jumpa pers itu makin menguatkan rumor dia bakal batal pensiun. Dilansir dari Russia Today, Khabib sudah merencanakan konferensi pers pada Rabu (2/12) mendatang. "Khabib akan mengadakan pertemuan dengan media pada tanggal 2 Desember, di mana setiap orang dapat mengajukan pertanyaan mereka tentang proyek baru yang telah dan akan diumumkan."

Pertumbuhan Ekonomi Aceh di Tengah Pandemi

ISTIMEWAAkademisi dan Pengamat Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Rustam Effendi
A A A
Tentu, bukan hal yang mudah mendongkrak kinerja perekonomian dalam masa pandemi ini. Sukar rasanya meramu kebijakan ekonomi yang ideal dalam situasi pandemi, khususnya untuk optimalisasi proses produksi dan menjamin kelancaran arus distribusi

Oleh: Rustam Efendi

BPS Aceh baru merilis kondisi ekonomi Aceh untuk Kuartal I 2020. Pertumbuhannya hanya 3,17 persen, atau lebih rendah dibanding periode sebelumnya (y o y) sebesar 3,88 persen.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi Aceh ini disebabkan adanya faktor pandemi COVID-19, sehingga membuat terjadinya kontraksi, tidak hanya untuk lingkup Aceh (regional), tetapi juga ekonomi nasional.

Data yang dirilis BPS menunjukkan sejumlah lapangan usaha ekonomi di Aceh mengalami perlambatan dan kontraksi.

Kegiatan untuk menghasilkan nilai tambah seperti administrasi pemerintahan, kontruksi, jasa pendidikan, industri pengolahan, termasuk pengadaan air, adalah antara lapangan usaha yang amat signifikan penurunannya, rata-rata minus 14,0 persen.

Selama ini lapangan- lapangan usaha ini amat dominan kontribusinya dalam perekonomian daerah.

Di sisi lain, pandemi membuka ruang gerak lapangan usaha lain, seperti informasi dan komunikasi yang tumbuh 7,28 persen selama Kuartal I 2020 ini. Lapangan usaha pertanian, kehutanan, perikanan, pengadaan listrik dan gas, dan real estate juga tumbuh meski tidak setinggi infokom.

Secara nasional, adanya pandemi telah memberikan dampak bagi ekonomi. Selama Kuartal I 2020, terjadi kontraksi atau pengecurutan pertumbuhan, yakni hanya tumbuh 2,97 persen (year on year), jauh dari yang ditargetkan pemerintah (4,5-4,9 persen).

Terjadi deviasi sebesar 1,53-1,93 poin. Capaian pertumbuhan ini merupakan yang terendah sepanjang catatan sejarah pertumbuhan selama hampir 20 tahun terakhir.

Implikasinya jumlah pengangguran juga meningkat. Data Februari 2020, mereka yang menganggur bertambah sebanyak 1,73 juta orang. Dengan demikian, angka pengangguran naik menjadi 6,88 juta orang.

Jika pandemi COVID-19 terus berlanjut, maka lapangan usaha ekonomi yang masih tumbuh positif dapat berbalik dan ikut terkontraksi juga. Tentu, capaian pertumbuhan ekonomi Aceh pada Kuartal II 2020 diperkirakan terkontraksi lebih dalam lagi.

Begitu juga secara nasional. Diperkirakan oleh Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi akan terkontraksi dengan skenario terburuk, yakni minus 0,4 persen. Implikasi buruk lainnya adalah bertambahnya jumlah mereka yang menganggur karena kian terbatasnya lapangan kerja.

Perkiraan ini ikut pula diutarakan Joseph Stiglish dalam sebuah paparannya. Pemenang nobel ekonomi ini memprediksikan akan terjadi proses deindustrialisasi selama masa pandemi COVID-19 secara global yang semuanya berdampak pada kenaikan angka pengangguran di dunia.

Tentu, bukan hal yang mudah mendongkrak kinerja perekonomian dalam masa pandemi ini. Sukar rasanya meramu kebijakan ekonomi yang ideal dalam situasi pandemi, khususnya untuk optimalisasi proses produksi dan menjamin kelancaran arus distribusi.

Dalam situasi yang sama, kebijakan yang mampu menggairahkan pasar dan menjaga daya beli masyarakat juga harus diramu. Tidaklah mudah.

Dalam masa pandemi, konsentrasi kebijakan akan lebih diarahkan untuk memobilisasi seluruh tenaga atau sumberdaya guna melawan musuh pandemi COVID-19.

Sebab itu, meramu kebijakan ekonomi yang mampu menjadi stimulus yang ampuh untuk mendorong perekonomian daerah rasanya sangat sulit. Sulit memberikan insentif atau regulasi yang menarik agar aktivitas ekspor daerah terdorong atau arus investasi dapat mengalir.

Situasi ini dialami oleh hampir semua negara dan daerah-daerah yang terdampak, termasuk di Aceh. Sukar dibantah, hanya konsumsi sebagai satu-satunya harapan pendorong bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional, juga global.

Pandemi telah merusak semua tatanan ekonomi, baik nasional, regional, maupun global. Kini semua negara dan lingkup daerah-daerah sedang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Berjuang menyelamatkan nyawa rakyat

Pemerintah masing-masing sibuk berjuang menyelamatkan nyawa rakyatnya, mengurus kebutuhan perut rakyat/warganya.

Banyak perusahaan yang telah menghentikan aktivitas produksi dan kreativitasnya.
Terjadi pemberhentian dan merumahkan para pekerja di mana- mana. Yang menganggur kian banyak. Sumber nafkah atau pendapatan/upah hilang. Ikutannya, membuat daya beli masyarakat menurun.

Suasana pasar sehari-hari tampak lesu, kurang bergairah, sepi pembeli. Produk- produk fashion, asesoris, kosmetik, smartphone, dan elektronik sudah kurang dilirik konsumen.

Cenderung lebih mengutamakan barang-barang kebutuhan pokok, proses pembelajaran (e-learning), atau konsultasi kesehatan (kebutuhan medis).

Dalam konteks Aceh, kelesuan pasar telah terlihat sebelum tiba bulan-bulan pandemi. Memasuki masa pandemi kelesuan pasar kian bertambah. Mungkin, yang dialami Aceh ini juga dialami daerah-daerah lain di Tanah Air.

Bagaimanakah menyikapi situasi yang mengkhawatirkan ini? Tak ada pilihan lain, kecuali secepatnya mengatasi serangan wabah COVID-19 ini.

Sebab itu, seluruh energi/sumberdaya terutama anggaran pembangunan harus dikonsentrasikan untuk mengatasi pandemi ini. Kapasitas layanan kesehatan harus diperkuat di seluruh kabupaten/kota dengan segera mungkin mengalokasikan dan merealisasikan belanja untuk kebutuhan tersebut.

Hindari sebijak mungkin menyimpan anggaran (dana) terlalu lama di kas daerah, dengan tetap berpedoman pada arahan dalam aturan yang ada.

Yang penting, lakukan identifikasi kebutuhan layanan kesehatan secara objektif. Dahulukan yang paling dibutuhkan (prioritas), baik oleh pelaku layanan medis maupun korban terinfeksi COVID-19.

Pemerintah pusat dan daerah juga harus bersinerji. Untuk mengamankan kebutuhan perut rakyat, maka kebijakan yang menjamin ketahanan pangan harus diutamakan. Harus diingat, pangan merupakan perkara yang amat serius.
Sebagai salah satu kawasan produksi pertanian unggulan, Aceh penting diperhatikan.

Aceh jangan dibiarkan sendiri

Mengapa, karena Aceh dapat berkontribusi nyata dalam menyangga kebutuhan pangan nasional (khususnya gabah). Surplus gabah Aceh saban tahun dapat menjadi penopang stok pangan daerah lainnya.

Sebab itu Pemerintah Aceh harus dibantu oleh pusat dan tidak boleh dibiarkan sendiri. Karenanya, proyek-proyek yang berkaitan dengan penguatan ketahanan pangan seperti pengadaan benih, pupuk, alsintan, atau input pertanian lainnya perlu diberi ruang dan dieksekusi serta tidak boleh ditunda. Kecuali, proyek- proyek pembangunan jalan, pelabuhan, jalan-jalan, gedung-gedung, pengadaan mobil dinas, dan lainnya yang kurang mendesak, dapat digeser pada tahun berikutnya. Termasuk juga pos perjalanan dinas, patut dikurangi atau ditiadakan sementara ini.

Pemerintah pusat dan daerah harus bersatu dan saling menguatkan. Penting dicatat, kebijakan yang satu dengan kebijakan lainnya yang terkait upaya menghadapi pandemi COVID-19 ini hendaknya saling menguatkan, tidak boleh ada yang berbenturan dan saling melemahkan. Untuk itu, penting dibangun koordinasi antar lembaga yang rapi dan harmonis.

Menurut saya, hanya dengan begitu upaya menghadapi serangan COVID-19 ini akan ampuh, efektif, dan membuahkan hasil. Percayalah !

Penulis merupakan Pengamat ekonomi dari Universitas Syiah Kuala & Kepala FEB Unsyiah

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...