Koordinator Masyarakat Pengawal Otsus (MPO) Aceh, Syakya Meirizal, menjadi narasumber peHTem edisi Senin 20 September 2021 episode 9 Tahun ke II dengan tema: Aset Ratusan Milyar Terbengkalai di Pulo Aceh, Manajemen BPKS Kerja Apa? yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Masa Lalu

Perlakuan yang Membukakan Pintu Langit Turunnya Keberkahan Tuhan Di Aceh

AK JailaniIlustrasi Musim Panen
A A A

para malaikat berdoa untuk keberkahan para petani Aceh tempo dulu karena perlakuan para petani Aceh tempo dulu berikhtiar bukan orientasi untung semata melainkan orientasi pada keinginan menunaikan zakat sebagai bentuk patuhnya mereka pada perintah agama

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

KEHIDUPAN masyarakat Aceh (khususnya para petani) sangat terikat dengan hukum syariah, semua perkara dimulai atau diawali dengan menyebut nama Allah seru sekalian alam. Begitu memulai pagi (awal subuh) para kaum ayah dan ibu sudah siap dengan pakaian ibadah subuh memuji Allah yang disertai zikir, tahlil hingga membaca kitab suci Alqur’an hingga fajar terlihat jelas di ufuk timur baru meranjak dari sajadah untuk mempersiapkan bekal secara sederhana untuk dikonsumsi di pagi hari atau istilah sekarang sarapan pagi.

Cerminan hidup petani yang amat sederhana terus berulang dan berulang dimasa lalu hingga tahun sembilan puluhan, berangkat kesawah di pagi hari dengan berbekal alakadarnya saja dan melangkah menyusuri pematang sawah dengan kaki telanjang seakan-akan menginjak lumpur serasa diatas permandani tak sedikitpun merasa ogah atau takut, karena dijiwanya sudah terpatri dengan satu kata mencari rejeki karena Allah, maka setiap langkahnya juga disertai ucapan zikir didalam hati dan tidak sedikitpun terbayang rasa iri dan dengki terhadap hamparan nikmat yang orang lain rasakan. Begitu ikhlas hari-hari yang dilewati, tak ada spekulasi sedikitpun yang menyalahi aturan syariah karena memang sejak dini niat para petani semoga dapat ditunaikan zakat pada saat panen tiba.

Sebelum kita bercerita tentang bagaimana perlakuan pekerjaan petani tempo dulu, mari sejenak kita coba ingat-ingat suasana kehidupan para penduduk Aceh pada era tahun sembilan puluhan ke bawah. Saya akan bercerita sebuah kenyataan yang didalmnya saya termasuk pelakunya, dimana rumah-rumah pada saat itu selepas magrib yang terdegar para anak-anak mengaji membaca Alqur’an walaupun penerangannya masih mempergunakan lampu ceplok (panyet ceuleet), kami juga belajar membaca dalail khairat dan kemudian kami berguru mengaji pada teungku-teungku (di bale-bale beuet), dan begitu terus berputar setiap hari.

Namun, bukan berarti tidak ada persinggungan atau menayalahi atauran dalam keseharian, dan sengaja dalam tulisan pendek ini tidak kita utarakan karena hanya kita ingin menyajikan yang indah-indah saja tentang kehidupan rakyat Aceh tempo dulu. Kemudian, bagaimana perlakuan masyarakat Aceh dalam berikhtiar mencari rejeki di sektor pertanian khususnya pada bercocok tanam padi disawah yang dalam pandangan saya penuh dengan keberkahan.

Mari kita melihat pada perlakuan diakhir dalam sebuah ikhtiar para petani di Aceh, ketika sudah dihadapkan pada hasil penen sungguh terlihat amat erat hubungannya dengan bagaimana semua hal harus diperlakukan sesuai dengan tuntutan agama. Sebuah keluarga petani yang sedang memperlakukan hasil panen pada masa itu begitu bersahaja dan patuh pada hukum agama, semisal bagaimana perlakuan menghitung satu persatu (takaran naleh) dengan mempergunakan media pelupah rumpia sebagai kertasnya dan lidi sebagai penanya dan mereka menakar satu persatu hingga habis.

Kemudian mereka menghitungnya dengan penuh teliti yang didalam hatinya hanya satu pertanyaan “apakah sampai nisab untuk bayar zakat” dan mereka hanya berharap sampai nisab agar bisa langsung ditunaikan zakat pada waktu itu. Begitu bahagianya keluarga itu ketika takarannya sudah sampai nisab dan sangking bahagia yang disertai peluh keringat terucap kalimat allhuakbar, terlihat mata memerah keluar air mata bahagia karena takdir Allah bahwa kinerjanya tahun ini bisa membayar zakat sebagai bentuk tunduk dan patuhnya seorang hamba kepada perintah yang maha kuasa.

Terjawab sudah kenapa pintu langit dan para malaikat berdoa untuk keberkahan para petani Aceh tempo dulu karena perlakuan para petani Aceh tempo dulu berikhtiar bukan orientasi untung semata melainkan orientasi pada keinginan menunaikan zakat sebagai bentuk patuhnya mereka pada perintah agama. Memang jika kita melihat pada hasil panen pertanian tempo dulu tidak sebesar yang sekarang, namun pintu keberkahan dari hasil tersebut yang nyata-nyata terpancar karena terpraktenya nilai-nilai religiusitas dalam proses pekerjaan mereka. Intinya pada praktek pembayaran zakat yang langsung ditunaikan ditengah-tengah sawah oleh masyarakat Aceh yang berprofesi petani di masa dulu. Hal tersebut membuat daerah ini unggul dalam praktek beragama dan terlihat fungsi meunasah-meunasah sibuk menampung zakat hasil panen setiap masa panen. Kemudian senyum tawa si fakir dan miskin serta yatim-piatu tampak saat menerima bagianya (dari zakat) yang dibagikan oleh teungku imum meunasah.

Selanjutnya, bisa jadi karena para petani Aceh tempo dulu mampu memberikan keadaan senyuman bahagia kepada para fakir-miskin serta yatim-piatu tersebut hingga ketentraman dan keberkahan hidupnya dijaga Allah yang maha kuasa. Tulisan ini sekilas kita menengok kebelakang indahnya hidupa para orang tua Aceh tempo dulu, karena bagi mereka dunia bukan tujuan tetapi hanya semata sebagai ladang menghimpun amal kebaikan buat hidup dimasa depan, Ureung Atjeh yang Peudeng Agama.

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...