Direktur Dana dan Jasa Bank Aceh Syariah, Amal Hasan menjadi narasumber peHTem edisi Senin 10 Mei 2021 Episode 37 Tahun ke 2 dengan Tema: Sahuti Kebutuhan Masyarakat, Bank Aceh Luncurkan Kartu Debit yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Asal dari Luar Ibu Kota

Pengemis di Banda Aceh 99 Persen Berkedok Fiktif

DEMAF dan Dinsos Banda Aceh
A A A

BANDA ACEH - Rata-rata pengemis yang beroperasi di Banda Aceh, berdasarkan hasil penangkapan dan pendataan pihak terkait, diketahui berasal dari luar ibu kota. Banyak trik yang dilakukan selama beroperasi, dari bantuan pembangunan rumah ibadah hingga menggunakan kedok disabilitas.

Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Kota Banda Aceh, Muhammad Hidayat, S.Sos, saat melayani audiensi Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (DEMAF) Psikologi UIN Ar Raniry Banda Aceh. Audiensi tersebut berlangsung di Kantor Dinas Sosial Kota Banda Aceh, Senin, 26 April 2021.

Hadir dalam audiensi tersebut Kasi Rehabilitasi Sosial Anak, Lanjut Usia, dan Disabilitas Terlantar, Kemalahayati, SKM, M.Kes. Ikut mendampingi Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Banda Aceh, TM Syukuri, S.Sos, MAP.

DEMAF Psikologi dalam kesempatan tersebut menyentil tentang taraf dan polemik kesejahteraan yang dialami masyarakat kota Banda Aceh. Mereka fokus membahas tentang maraknya kejahatan yang dialami masyarakat, anak, wanita, serta bagaimana kestabilanan dan kenyamanan Kota Banda Aceh yang terganggu akibat maraknya pengemis di bulan Ramadan.

Ketua Umum DEMAF Psikologi, Alfi Yudha, mengatakan maraknya kejahatan dan rendahnya ekonomi di Aceh membuat masyarakat memilih untuk mencari sumber pendapatan di ibukota. Akibatnya jumlah penduduk di Banda Aceh membludak.

"Mereka sendiri tidak tahu akan berbuat apa di sini, dan pada akhirnya mengemislah opsi yang mereka ambil demi memenuhi kebutuhan hidup mereka," ujar Alfi.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kadis Sosial Banda Aceh, Muhammad Hidayat. Berdasarkan pendataan pihaknya diketahui rata-rata pengemis yang tertangkap dan mendapat pembinaan berasal dari luar kota Banda Aceh.

Biasanya menurut Muhammad, mereka menggunkan kedok keagamaan dengan membawa kotak amal atau sumbangan untuk anak yatim, orang miskin, rumah ibadah, dan sekolah agama (pesantren). Adapula pengemis yang menggunakan kedok disabilitas.

"Itu hanya sekedar trik dan tipu daya mereka dalam upaya memperoleh pandangan iba dari khalayak masyarakat ramai," kata Muhammad Hidayat.

Dia mengimbau masyarakat agar cermat dalam menyikapi hal ini. Pasalnya dari hasil pendataan diketahui sebanyak 99 persen kedok yang dipakai pengemis tersebut adalah fiktif.

"Hal ini berani kami katakan karena kami sudah melakukan survei langsung ke tempat-tempat yang mereka katakan," kata Muhammad lagi.

Dia meminta masyarakat Banda Aceh untuk cermat dalam menyikapi pengemis di kawasan Kota Banda Aceh. Harapan itu disampaikan demi memutus rantai perlakuan tidak terpuji tersebut.

"Pasalnya tindakan perilaku ini sudah menjadi profesi bagi mereka sendiri," ujar Muhammad Hidayat.

Selain maraknya pengemis di Banda Aceh, fenomena lain yang mencemaskan masyarakat ibu kota adalah kasus pelecehan seksual, serta kekerasan dalam rumah tangga.

Terkait hal ini, Kemalahayati, selaku yang menangani Rahabilitasi Sosial Anak, Lanjut Usia, dan Disabilitas Terlantar Dinsos Aceh mengatakan, pihaknya selalu siap mendampingi korban. "Saat ini kita selalu membersamai para korban, kita ayomi, dan kita juga bekerjama sama dengan pihak terkait dalam proses pemulihan trauma yang dialami korban," ujar Kemalahayati.[]

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...