Mantan Ketua Umum Persiraja, Asri Sulaiman, menjadi narasumber peHTem edisi Senin 29 November 2021 episode 29 Tahun ke II dengan tema: Gagal Mentas Di PORA, Sepak Bola Banda Aceh Semakin Terpuruk, yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Pemkab Bener Meriah Wacanakan Terbitkan Regulasi Perlindungan Tenaga Pengajar

SamsuddinPlt Bupati Bener Meriah, Dailami
A A A

BENER MERIAH – Tugas guru tidak sekedar hanya mengajar, namun juga mendidik. Untuk itu bagi peserta pendidik butuh kesabaran. Sebab, tidak jarang guru harus berhadapan dengan hukum akibat bertindak fisik terhadap peserta didik.

Pun demikian, tanggung jawab pendidikan bukan hanya tanggung jawab instansi pendidikan semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.

Oleh karena itu demi kemajuan mutu pendidikan, sinkronisasi antara pihak sekolah dengan murid serta orang tua wali murid harus selalu berjalan sinergi.

Artinya, jika sewaktu-waktu ada seorang guru menjewer atau menghukum anak murid karena melakukan kesalahan tidak perlu wali murid harus melaporkan hal itu kepada pihak yang berwajib dengan dalih undang-undang kekerasan terhadap anak.

Guna memberikan perlindungan terhadap dewan guru, Pemerintah daerah Kabupaten Bener Meriah berwacana akan menerbitkan regulasi semacam Peraturan Bupati ( Perbub ) atau Qanun untuk perlindungan guru yang ada di Kabupaten Bener Meriah.

Hal itu diungkapkan Pelaksana tugas (Plt ) Bupati Bener Meriah, Dailami dihadapan para Kepala Sekolah dan Calon Pengawas sekolah saat penutupan acara Diklat In Service Training 2 bakal calon pengawas (Cawas ), Kamis, 28 Oktober 2021 di aula Dinas Pendidikan setempat.

Menurut Dailami, tujuan diterbitkannya regulasi perlindungan guru agar guru-guru di sekolah tidak dihadapkan dalam keadaan dilematis jika harus bertindak.

“Karena guru itu adalah orang tua kedua bagi siswa dan siswi, saat di rumah wali murid adalah orang tuanya, namun jika di sekolah maka guru menjadi orang tua mereka. Untuk itu hal yang mustahil orang tau mau mencelakakan anaknya,” kata Dailami.

Dailami mengisahkan, pada zaman-zaman dulu, jika orang tua mendaftarankan anaknya baik di sekolah maupun di pengajian maka mereka menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada guru atau pun ulama yang membimbingnya.

“Dimasa orang tua kami zaman dahulu, saat mereka mendaftarkan anaknya ke sekolah maupun ke tempat pengajian mereka juga menyerahkan secarik kain putih, rotan dan pulut atau ketan,” ujar Dailami.

“Dimana kain putih maknanya anak yang diserahkan itu masih dalam keadaan kosong (tidak ada ilmu ) dan gurulah yang mengisinya, sedangkan fungsi rotan adalah jika anak itu nakal atau membuat kesalahan maka rotan itu yang akan menghujamnya , sedangkan pulut maknanya adalah sebagai perekat agar ilmu yang diberikan oleh guru nempel di hati sang anak,”sambung Dailami.

Dailami menyatakan, pihaknya bersama Majelis Pendidikan Daerah ( MPD ), dan Majelis Adat Gayo ( MAG ) akan merumuskan terkait regulasi perlindungan terhadap guru apakah nantinya Perbub atau Qanun yang akan diterbitkan pada tahun 2022 mendatang. Sebutnya.[]

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...