Seorang warga Cot Gapu Kecamatan Kota Juang, Bireuen yang berdomisili di Lampriet, Kuta Alam Banda Aceh meninggal dunia saat sedang menikmati makan siang di salah satu warung nasi yang berada di kawasan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Senin (25/5/2020).

PT Trans Continent Hengkang dari KIA

Pemerintah Aceh Langgar Komitmen Sendiri

ISTIMEWADr Taufiq A Rahim
A A A

BANDA ACEH - PT Trans Continent membuat heboh dunia usaha di bumi Aceh. Perusahaan ini pada 15 Mei 2020 membuat keputusan cukup mengagetkan mitra kerjanya PT PEMA juga Pemerintah Aceh.

Bagaimana tidak, perusahaan kelas internasional milik putra Aceh itu memutuskan untuk "pisah ranjang" atau hengkang dari Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Besar.

"PT Trans Continent secara resmi menarik diri dari KIA dan hal ini diungkap sendiri oleh Ismail Rasyid selaku CEO perusahaan tersebut," kata Akademisi Unmuha Aceh Dr Taufiq Abdul Rahim SE MSi.

Peristiwa mundurnya investor dari KIA, tentu sangat menyentak jantung pemerintah Aceh dan menjadi perhatian kalangan pengusaha dan publik.

"Ini keputusan yang tidak main-main dan tidak boleh dipandang sebelah mata, apalagi dengan diangkutnya peralatan kerja serta seluruh alat beratnya oleh pemilik pada 17 Mei 2020," ujarnya.

Nah kejadian ini kata Taufiq A Rahim menunjukkan bahwa ada kekecewaan berat dirasakan oleh pihak PT Trans Continent terhadap Pemerintah Aceh, yang telah mempercayakan sebagian urusan kepada PT PEMA (Pembangunan Aceh) untuk menjadi penanggung jawab terhadap percepatan realisasi pembangunan kawasan industri di Aceh, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) lainnya, namun tak mampu direalisasikan.

Dosen Unmuha inipun menilai, angkat kaki investor ini dari Aceh sangat miris dan mengecewakan, baru satu perusahaan yang melakukan investasi di Aceh, tapi pemerintah dan PT PEMA sudah tidak bertanggung jawab.

"Heran kita, sesudah mengajak orang berinvestasi, kemudian pemerintah daerah kurang bertanggung jawab. Tentu saja katanya, kerja dan pelayanan seperti ini suatu pengkhianatan terhadap komitmen sendiri dan terhadap rakyat," tegasnya

Yang lebih aneh lagi PT PEMA yang diberikan kewenangan penuh oleh pemerintah Aceh untuk bekerja sama dengan investor tapi justru lalai dan kerjanya tidak maksimal dalam menyelesaikan tugasnya.

Padahal kata Taufiq Abdul Rahim, seluruh gaji dan dana operasional PT. PEMA dianggarkan dalam anggaran belanja publik atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).

DPRA harus panggil PT PEMA yang lalai

Oleh karena itu Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) c.q Komisi 3 harus dan mesti memanggil untuk diminta pertanggung jawaban Pemerintah Aceh, melalui PT PEMA.

Kecerobohan akibat kelalaian tersebut telah merugikan investor, maka DPRA harus meminta penjelasan PT PEMA secara rinci dan transparan, kemudian hasilnya harus diberitahukan kepada publik atau masyarakat.

Selain itu juga harus dijelaskan, sesungguhnya ada apa sehingga peristiwa terjadi ?. Apakah karena ada pihak "mafia" yang ikut bermain.

Apakah sikap PT Trans Continent mundur dari Aceh bisa dinilai mempermalukan rakyat Aceh?.

Hal ini perlu dipertanyakan mengingat perusahaan ini sudah memiliki reputasi bisnis juga salah satu perusahaan bisnis transnational (internasional) yang memiliki jejaring luas dan tidak luput dari perhatian pasar dan bursa saham internasional.

Apakah ini akan memalukan dan mencoreng wajah Aceh sehingga menjadi penilaian negatif terhadap Aceh dimata internasional.

Keterangan Ismail Rasyid yang mengaku setiap bulannya dia rugi sebesar Rp 600 juta yang sudah berjalan selama 9 bulan.

"Nah, angka ini bukan jumlah nominal yang kecil, tentu harus dipertanggung jawabkan secara perhitungan bisnis dan juga hukum," kata Taufiq lagi.

Oleh karena itu, kewajiban serta keharusan DPRA untuk memanggil PT PEMA untuk diminta penjelasan dan klarifikasi.

"Jangan- jangan ada orang atau pihak dan kelompok yang ingin ikut bermain didalam momen bisnis ini dengan memanfaatkan program industrialisasi yang sedang diupayakan pemerintah," ujar Taufik.

Biasanya kata Taufiq, industrialisasi
dapat memberikan keuntungan materi dan uang dalam jangka pendek, dibandingkan sektor lainnya seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan perhotelan, juga yang lainnya.

Taufiq menyarankan DPRA untuk segera memanggil manajemen PT PEMA agar kedepannya perusahaan plat merah itu tidak lagi bermain-main dalam membangun Aceh.

"Jika ingin membangun Aceh, jangan abaikan aturan, ketentuan dan risiko ekonomi dan politik Aceh," cetusnya.

Konon peristiwa hengkangnya perusahaan Ismail Rasyid itu akan membuat malu Aceh dimata internasional ditengah wabah atau pandemi covid-19.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...