Dalam sepekan ini terlihat makin maraknya pengemis di berbagai persimpangan jalan dan warung kopi di Kota Banda Aceh. Lihat dan amatilah, ketika setiap duduk di Cafe dan saat anda berhenti di persimpangan lampu lalu lintas. Di warung kopi misalnya, setiap berselang setengah jam sekali sudah ada pengemis lain yang menghampiri para pengunjung. Tersayang jika dimalam hari banyak anak-anak dibawah umur yang melakukan aksi tersebut.

OJK Aceh Dukung CIMB Niaga Terapkan Prinsip Syariah

HT ANWAR IBRAHIMKepala Bagian Pengawasan LJK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh Adi Surahmat.
A A A

BANDA ACEH - Dunia perbankan di Aceh berkomitmen untuk mendukung menerapkan prinsip syariah bagi lembaga jasa keuangan yang telah diundangkan pertanggal 4 Januari 2019, terkait Qanun Lembaga Keuangan Syariah nomor 11 tahun 2018.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Kepala OJK Aceh Aulia Fadly melalui Kepala Bagian Pengawasan LJK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh Adi Surahmat.

Hal itu diungkapkan Adi Surahmat pada kegiatan Media Gathering atau diskusi dengan wartawan yang digelar CIMB Bank Niaga di Kyriad Muraya Hotel di kawasan Simpang Lima Banda Aceh, Senin (28/10/2019)

Dalam qanun tersebut kata Adi Surahmat, diamanahkan bahwa pada tahun 2022 semua lembaga keuangan yang beroperasi di Aceh harus menjalankan kegiatan operasionalnya dengan menggunakan prinsip syariah.

"Nah, saat ini total lembaga keuangan  di Aceh dibawah pengawasan OJK,i berjumlah 111 lembaga yang terdiri dari 41 Perbankan, dan 8 Pasar Modal," ungkap Adi Surahmat.

Namun selain itu ada 61 Industri Keuangan Non Bank (IKNB) yang terdiri dari Perusahaan Asuransi, Perusahaan Pembiayaan, Perusahaan Penjaminan, Pergadaian, Dana Pensiun, BPJS, Modal Ventura dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah.

Pihak OJK berharap, perbankan dan media serta semua elemen agar sama-sama mendukung ketetapan peraturan daerah atau qanun tersebut.

"Kita masih ada waktu yang lumayan panjang sampai dengan 4 Januari tahun 2022. Artinya kita masih ada masa untuk rekonsiliasi yang diberikan sampai nantinya di tahun 2022 nant lebih kurang 3 tahun lagi," ujarnya.

Dengan demikian pada tahun 2022 semua lembaga jasa keuangan yang ada di Aceh telah menjalankan kegiatan operasionalnya sesuai dengan prinsip syariah di tahun tersebut.

Bila dilihat perkembangan Perbankan Syariah saat ini, tentunya data-data perbankan syariah dapat diinformasikan sebagai berikut ;

Selisih data Konvensional dengan Syariah merupakan data potensi minimal pertumbuhan aset, pembiyaan dan DPK bagi Bank Syariah di Aceh,.

Nah, hal itu akan terjadi  setelah Qanun nanti diberlakukan secara penuh. "Tentunya, dalam proses menuju lembaga jasa keuangan syariah 2022 nantinya, ada beberapa tantangan yang akan dihadapi," kaya Adi Surahmat.

Adi Surahmat mengakui dalam banyak hal  masih ada  tantangan diantaranya: Sisi Kelembagaan, misalnya pembukaan jaringan kantor syariah dan penutupan jaringan kantor konvensional.

Pendirian UUS karena bank tidak memiliki Unit Usaha Syariah pengalihan/ penyelesaian NPL.

Produk yang belum ada di syariah dan Biaya dan waktu konversi akad dan pengikatan jaminan..

Sosialisasi kepada nasabah dan masyarakat serta Kemungkinan dibukanya layanan konvensional pada bank syariah.

Produk layanan terkait program pemerintah: Dana Desa, Bantuan Operasional Sekolah, Bantuan Stimulus Perumahan Swadaya, Kartu Indonesia Pintar, Jaring dan lain-lain.

"Kami dari OJK optimis bahwa tantangan yang menghadang  dapat diatasi perlahan karena seluruh Lembaga Jasa Keuangan (Perbankan, Pasar Modal dan IKNB) yang ada di Aceh juga komit dan mendukung, nantinya di Aceh menerapkan prinsip syariah bagi lembaga jasa keuangan," tegasnya

Adi Surahmat juga menegaskan OJK mendukung kegiatan Media Gathering yang dilakukan CIMB Niaga Syariah.

"Kegiatan diskusi semacam ini penting bagi media. Tentunya ini untuk menambah wawasan kepada wartawan dan masyarakat Aceh terkait dengan bisnis dan praktik Bank Syariah khususnya CIMB Niaga Syariah di Provinsi Aceh," katanya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...