Ketua Komisi V DPRA, M. Rizal Falevi Kirani, kembali menjadi narasumber peHTem edisi Kamis, 6 Oktober 2022 episode ke 14 Tahun ke 3 dengan tema: Peran Anggota DPRA dalam Memperjuangkan JKA yang dipandu oleh host Siti Aminah, S.IP, M.MLS, Jangan lupa like share comment and subsribe.

Provinsi Ujung Barat Indonesia

Nomor Satu Termiskin Di Pulau Sumatera

For acehimage.comData Grafik
A A A

Efesien yang dimaksud bagi penyelenggara pembangunan di Aceh adalah jangan tumbuhkan keadaan berbiaya tinggi, maknanya anggarkan sesuatu rencana itu dengan benar,

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

IBARAT kata pujangga bahwa tongkat dilempar tumbuh tanaman tak salah bila disematkan pada keadaan bumi di provinsi paling ujung barat negeri ini, tetapi muncul pertanyaan besar yang terasa sangat sulit dilogikakan “kenapa berbalik dari kenyataan masih saja tergolong paling miskin di pulau Sumatera?”.

Lantas ada yang mencoba membantah itu tidak benar bila Aceh dikatakan termiskin di Sumatera, buktinya setiap lampu merah terlihat antri kenderaan roda empat dan kenderaan roda dua, banyak juga orang-orang Aceh berakhir pekan ke provinsi tetangga dan lain sebagainya. Namun bantahan itu ada benarnya dan itu nyata, tetapi kesimpulan bahwa Aceh termiskin di Sumatera itu tak terbantahkan menurut data yang bisa dipercaya yang dikeluarkan oleh www.bps.go.id yang penulis coba ramu seperti pada gambar persentase kemiskinan di Sumatera tahun 2021-2022 berikut ini:

Berdasarkan gambar diatas jelas terlihat bahwa provinsi yang menerapkan hukum syariah itu berada pada rangking pertama untuk urusan kemiskinan.

Apakah dengan predikat ini kita sebagai orang Aceh harus merasa malu tentu jawabannya tidak harus malu, tetapi sangat perlu kiranya kita introspeksi secara menyeluruh tentang sikap dan perbuatan untuk semua unsur yang ada di Aceh terutama para pemangku kepentingan. Dalam teori ekonomi memang kemiskinan itu akan selalu ada selama dunia masih dihuni oleh manusia, tetapi meminalisir kemiskinan itu diberikan solusi untuk dijalankan agar kemiskinan bisa ditekan. Biasanya solusi yang diberikan oleh teori

ekonomi tersebut sembilan puluh persen harus dijalankan oleh pemangku kepentingan atau yang mengurusi pemerintahan di Aceh.

Apa solusi menurut ilmu ekonomi untuk menciptakan kemakmuran bersama dan menekan kemiskinan, yaitu diantaranya yang sangat penting adalah kehidupan publik harus diterapkan triple E (efesien, efektif dan ekonomisasi).

Data Grafik

Efesien yang dimaksud bagi penyelenggara pembangunan di Aceh adalah jangan tumbuhkan keadaan berbiaya tinggi, maknanya anggarkan sesuatu rencana itu dengan benar, efektif disini bisa kita ibaratkan adakan sesuatu itu memang dibutuhkan atau penting bagi kehidupan rakyat artinya jangan mengada-ada, dan ekonomisasi dapat dijabarkan bahwa rencanakan dan anggarkan anggaran secara tepat dengan penuh perhitungan dan lakukan pengawasan yang benar hingga tujuan dari sbeuah budget benar tercapai.

Selanjutnya, karena kita orang Aceh identik dengan Islam, maka tak salah kita juga mepraktekan nilai-nilai Islam dalam mengelola ekonomi demi hidup sejahtera didunia hingga diakhirat. Apa solusi menyangkut bagaimana menekan kemiskinan dalam pespektif Islam, menurut saya yang awam bahwa Islam menyerukan kehidupan yang adil dan halal nafkah.

Dua dimensi tersebut, yaitu adil dan halal nafkah akan bisa tercipta keadaan yang makmur bagi segenap rakyat Aceh. Adil disini bisa kita terjemahkan diantara rakyat itu dipandang sama baik secara kebutuhan maupun secara perlakuan, tidak ada perlakuan khusus bagi orang atau kelompok tertentu artinya seluruh rakyat itu mesti harus berada diatas garis kemiskinan, dan halal nafkah dapat dimaknai sebagai fungsi kontrol untuk selulu takluk pada hukum Allah dalam mencari nafkah, bila ini dipraktekkan maka di Aceh pasti tidak ada korupsi dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, apakah dengan berlaku adil dan halalkan nafkah itu bisa menjamin rakyat makmur. Jawabannya kita sebagai umat yang beriman pasti bisa makmur karena praktek adil dan halal nafkah itu bagian terpenting dalam mencapai ketakwaan, dan Allah sudah menjanjikan bahwa akan ditambah-tambah nikmatnya kepada hamba yang bertaqwa. Lalu kita bertanya bukankah kita di Aceh itu sudah taqwa, jawabannya secara fisik tak terbantahkan orang-orang Aceh adalah kelompok umat yang bertaqwa, tetapi bila kita sedikit mendalam melihat fenomena-fenomena ditengah-tengah masyarakat termasuk pemangku kepentingan itu sendiri barang kali kita menemukan bahwa perangai kita hampir sama dan bahkan sama saja dengan yang tidak menerapkan syariah Islam, ibarat kata “berbaju tetapi tidak tutup aurat dan bersembahyang tetapi tak bernilai”.

Dengan demikian, tulisan ini hanya sekedar meramaikan suasana untuk kita sadar diri bahwa kita bukan orang kaya tetapi orang miskin yang masih harus banyak belajar agar menjadi orang kaya. Banyak orang kaya di Aceh tetapi jauh lebih banyak orang yang masih miskin, maka tak salah bila rakyat menggantungkan harapan besarnya pada pemimpin yang memimpin sekarang untuk membawa kapal besar Aceh tidak lagi termiskin tetapi menjadi termakmur, insya Allah, aamiin.

*) Dr. Zainuddin, SE, M.Si
Dosen Fakultas Ekonomi Serambi Mekkah Banda Aceh

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...