Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) kembali medesak Plt Gubernur untuk mempublikasikan penggunaan anggaran hasil refocusing maupun BTT dalam APBA 2020. AMA mengaku tidak berhenti menyuarakan hal tersebut sebelum tuntuntan mareka terpenuhi. Aliansi Mahasiswa Aceh memandang ada hal urgensi saat ini yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah Aceh selama masa Pandemi COVID -19, seperti sektor kesehatan, pendidikan maupun sektor ekonomi.

Fajri, KULAM Kupi:

Ngopi di Aceh Tak Terbatas Pada Usia, Gender, Kaya dan Miskin

HT ANWAR IBRAHIMPemilik Kulam Kupi, Fajri
A A A

BANDA ACEH -Bumi Aceh memiliki kopi yang sudah diakui kenikmatannya oleh masyarakat. Sebut saja kopi Gayo. Kopi Gayo cukup terkenal tidak hanya di Aceh, daerah lain di Indonesia, bahkan juga sudah mendunia.

Hal itu diungkapkan oleh Fajri, salah seorang pengusaha Warung Kopi (Warkop) dengan brand KULAM Kupi di jalan Teungku Angkasa, Kuta Alam, Banda Aceh.

"Banyak yang suka karena Kopi Gayo memiliki aroma dan kenikmatan (rasa) yang khas," kata Fajri kepada acehimage.com, Selasa, (4/8/2020).

Menjawab soal cita rasa kopi Arabika gayo, kenapa aroma dan lebih nikmat dibandingkan dengan kopi daerah lain?

Fajri mengatakan, mungkin hal itu terpengaruh letak wilayah Gayo, dan beberapa unsur lingkungan sekitarnya seperti daratan tinggi dan hawa dingin.

Sebagian besar komoditas kopi arabika Gayo itu dikembangkan di tiga kabupaten yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

"Memang Kopi Sidikalang juga bagus kualitasnya. Tapi saya lebih memilih kopi Gayo, milik Aceh sendiri, sekaligus bisa membatu petani kopi. Apalagi kopi tanah Gayo sangat istimewa bahkan kerap disebut sebagai ikonnya kopi Sumatera," kata Fajri yang juga punya warkop di jalan Ali Hasyimi, Pango.

Fajri yang sudah belasan tahun menggeluti usaha Warkop ini menceritakan, mengapa dirinya tertarik membuka usaha warung kopi, pertama dia melihat prospek atau peluang dari kebiasaan orang Aceh.

Bagi masyarakat Aceh katanya, meminum kopi sudah menjadi tradisi secara turun temurun sejak puluhan tahun lalu.

Setiap warung kopi di Aceh selalu ramai dikunjungi dan tak mengenal batasan waktu untuk ngopi, baik waktu pagi, siang bahkan malam hari, pengunjung datang silih berganti dari berbagai kalangan masyarakat.

"Jadi kondisi ini adalah peluang usaha, apalagi yang minun kopi tak terbatas pada usia dan gender, kaya dan miskin, semuanya bisa menikmati lezatnya kopi disini," ungkap Fajri.

Di Aceh ini tuturnya, kopi menjadi minuman sehari-hari yang biasa dinikmati dan banyak varian dalam penyajian.

Nah, coba perhatikan, kata pemilik KULAM Kupi ini, kebanyakan orang kita sangat kecanduan kopi dan rasanya satu hari saja tidak ngopi bersama teman- teman, ada perasaan semacam ada yang kurang pada hari itu.

"Dan begitulah jika seorang sudah menjadi pecandu kopi, dia bersedia melakukan apa pun untuk merasakan kopi yang sedu KULAM Kupi," tutur Fajri.

Pantauan media ini, warkop KULAM Kupi ini setiap harinya dipenuhi oleh politisi dan pengusaha muda yang ngopi disini.

Membeli biji kopi untuk bisa bantu petani

Selain membuka Warkop, Fajri juga membeli biji kopi dari petani di kawasan daratan tinggi Gayo. Dengan membeli kopi dia berharap bisa membantu petani dan harga kopi bisa cepat stabil.

"Dengan demikian petani bisa merawat atau membersihkan kebun kopi dan membeli pupuk lagi, sehingga produksinya pun bisa meningkat," ujarnya.

"Selama ini, akibat harga turun, maka pendapatan petani kopi pun menjadi rendah," tuturnya.

Hal itu kata Fajri, tidak lepas dari adanya tengkulak yang selama ini memainkan harga. Sehingga menyebabkan harga kopi yang dijualnya lebih tinggi, ketimbang harga saat membeli langsung dari petani kopi.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...