Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sabang melakukan penggeledahan Dinas Perhubungan Sabang dan SPBU Bypass, Rabu (2/12/2020). Penggeledahan dimulai dari pukul 10.00-13.00 WIB itu dipimpin Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Sabang Muhammad Razi SH. Kegiatan penggeledahan tersebut dilakukan dalam rangka mencari barang bukti terkait kasus dugaan korupsi belanja BBM/Gas dan Pelumas serta suku cadang yang bersumber dari DPPA SKPD Dinas Perhubungan Sabang tahun anggaran (TA) 2019 sebesar Rp 1.567.456.331.

Nama Iwan Bule-Pramono Anung Muncul di Sidang Suap Nurhadi

ANTARANaman mantan Kapolda Metro Jaya yang kini menjabat Ketum PSSI, Iwan Bule muncul di sidang mantan Sekretaris MA, Nurhadi
A A A

JAKARTA- Nama mantan Kapolda Metro Jaya yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung muncul dalam persidangan mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrachman dan menantunya Rezky Herbiyono.

Hal itu disampaikan Komisaris PT Multitrans Logistic Indonesia Hengky Soenjoto dalam sidang Nurhadi dan Rezky di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (11/11). Ia mengaku diminta oleh adiknya Presiden Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto, tersangka suap Nurhadi dan Rezky, membantu menyelesaikan kasus yang ditangani Polda Metro Jaya.

Hengky menyebut Hiendra tersangkut masalah sengketa dengan seseorang Direktur Keuangan PT MIT Azhar Umar. Ia mengaku bahwa adiknya ketika itu telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Namun, Hengky tak tahu detail sengketa antara Hiendra dan Umar.

"Saya diminta sama Hiendra menghubungi beberapa orang termasuk ada yang namanya Pak Haji Bakrie, tokohnya orang Madura, Pak. Beliaunya kan dekat sama Iwan Bule, ya, sebagai Kapolda," kata Hengky di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (11/11).

Hengky mengaku diminta Hiendra mendekati Iwan Bule agar bisa dibebaskan dari penjara. Selain Iwan Bule, ia juga menuturkan diminta mendekati seseorang yang merupakan adik dari Budi Gunawan. Dalam sidang tidak diketahui secara pasti siapa Budi Gunawan yang dimaksud.

"Kemudian ada lagi saya minta tolong sama adiknya Pak BG, kemudian minta tolong sama Mas Rezky [Herbiyono] juga," ujarnya.

"Jadi, Pak Hiendra cerita kalau Pak Nurhadi kenal sama pak BG, Budi Gunawan, ya, pak. Jadi, saya suruh sampaikan saja," kata Hengky menambahkan.

Namun, Hengky menegaskan upaya mendekati sejumlah orang sebagaimana diinginkan Hiendra, termasuk mendekati Rezky yang merupakan menantu Nurhadi, tak membuat adiknya itu dibebaskan dari penjara.

"Setelah itu, ya, sudah enggak ada beritanya sampai akhirnya adik saya pelimpahan P21 di kejaksaan, divonis menjalani hukuman," ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Iwan Bule menyatakan kesaksian Hengky dalam persidangan tersebut ngawur. Dia pun mengaku tak tahu masalah yang menjerat Hiendra ketika di Polda Metro.

"Siapa itu? Saya tidak tahu dan tidak mengerti sama sekali dalam masalah apa. Ngarang itu," kata Iwan Bule kepada CNNIndonesia.com melalui keterangan tertulis, Rabu (11/11).

Dalam surat dakwaan, disebutkan bahwa Hiendra meminta bantuan Nurhadi melalui Rezky agar menang dalam sengketa melawan Azhar Umar.

Ada pun sengketa itu terkait akta nomor 116 tertanggal 25 Juni 2014 tentang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT MIT dan gugatan terkait akta Nomor 31 tertanggal 4 Juni 2014 tentang perubahan Komisaris PT MIT.

PN Jakarta Pusat menolak gugatan Azhar. Ketika yang bersangkutan mengajukan banding, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta justru menguatkan putusan pengadilan tingkat pertama.

"Dikarenakan perkara berlanjut pada tingkat kasasi, selanjutnya Hiendra meminta Hengky untuk menanyakan dan mendesak kembali Terdakwa I dan Terdakwa II agar Hiendra dimenangkan," demikian dikutip dari surat dakwaan Jaksa.

Lobi Pramono Anung

Selain ke Iwan Bule, Hengky mengakui dirinya juga diminta Hiendra untuk melobi Sekretaris Kabinet Pramono Anung lewat mantan Ketua DPR Marzuki Alie. Hiendra sendiri memiliki kedakatan dengan Marzuki. Pendekatan tersebut dilakukan agar penahanan Hiendra ditangguhkan.

Hal itu terungkap saat jaksa penuntut umum membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) nomor 52 milik Hengky.

"Saya pernah dimintai tolong oleh Hiendra agar disampaikan ke Marzuki Alie agar disampaikan ke Pramono Anung, Menteri Sekretaris Negara saat itu, agar penahanan Hiendra ditangguhkan. Hal itu disampaikan di kantor Hiendra di kompleks pergudangan saat pertemuan saya pertama dengan Marzuki Alie, namun pada saat itu Hiendra tidak bisa keluar tahanan juga," kata jaksa saat mengkonfirmasi BAP Hengky.

Hengky mengonfirmasi isi BAP tersebut. Ia menjelaskan bahwa Hiendra memiliki kedekatan dengan Marzuki. Hiendra, menurut Hengky, juga pernah meminta tolong kepada Marzuki agar membantu perusahaannya tak pailit. Marzuki lantas memberikan pinjaman sekitar kurang lebih Rp6 miliar.

Hengky mengaku menerima sebesar Rp1,5 miliar, sementara Hiendra menggunakan Rp1 miliar untuk menyewa lahan. "Sisanya lagi tidak tahu dipakai oleh Hiendra buat apa," ujarnya.

Perusahaan Hiendra, PT MIT tetap pailit. Hiendra lantas bersama Marzuki membentuk perusahaan Intercon. Kepemilikan saham 55 persen Hiendra dan 45 persen Marzuki Alie. Namun, karena Hiendra tak kunjung membayar utang, maka sahamnya diambil secara keseluruhan oleh Marzuki.

"Perusahaan Intercon sampai hari ini dimiliki Marzuki Alie karena Hiendra enggak bisa kembalikan utang ke Marzuki Alie," katanya.

Pramono Anung belum menjawab konfirmasi yang dilakukan CNNIndonesia.com terkait pengakuan Hengky dalam persidangan tersebut.

Dalam perkara ini, Nurhadi dan Rezky selaku terdakwa diduga menerima sejumlah uang dari Heindra untuk mengurus sejumlah perkara sebesar. Rp45,7 miliar. Total suap dan gratifikasi yang diterima Nurhadi dan Rezky senilai total Rp83 miliar terkait dengan pengaturan sejumlah perkara di lingkungan peradilan

Sumber:CNN Indonesia
Rubrik:NASIONAL

Komentar

Loading...