Teuku Raja Keumangan SH MH, Sekretaris Fraksi Partai Golkar narasumber peHTem edisi Kamis 29 Juli 2021 episode 60 dengan tema: DPRA Diminta Bentuk Pansus Dana Siluman, Kemana Mengalir Dana Apendiks? dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

COVID-19:

Muncul Rasa Takut Berlebihan Hingga Mencabik-Cabik dan Berlahan Menuju Hancur

ISTIMEWAIlustrasi COVID-19
A A A

Narasi ini tidak bertujuan menyerang dan menyalahkan siapa-siapa dan ini hanya sebuah tulisan pendek sebagai pencerahan untuk kebaikan kita semua

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

KEGELISAHAN dan kegundahan mulai tampak disetiap pemimpin dunia dalam menghadapi pandemic COVID-19, kelaparan dan huru-hara seakan akan semakin mendekat bagi kehidupan umat dan kalau boleh diibaratkan badai yang memorak-porandakan sendi-sendi kehidupan mulai tumbuh pada diri umat disebabkan akumulasi dari jalan buntu pencegahan penyebaran COVID-19 yang tidak akan ada jaminan apapun bakal tidak terpapar, walaupun setelah divaksin sekalipun. Terlebih dengan muncul rasa takut teramat sangat hingga terbuang logika keimanan bagi umat yang beriman, seakan-akan COVID-19 itu maut yang siap mencabut nyawa. Padahal keimanan umat yang beriman seyakin-yakinnya bahwa hidup dan matinya seseorang semata-mata taqdir dari yang kuasa dan semua kematian itu hanya semata-mata dengan sebab tertentu saja atas kehendak-Nya dan kita yakin bahwa semua kehidupan hingga kematian umat sudah tercatat.

Karena rasa takut yang amat sangat terhadap virus COVID-19 hingga membuat semua keputusan pemangku kepetingan seakan-akan yang perlu dihindari cuma virus itu sendiri dan mereka seakan-seakan tidak lagi berpegang pada kehendak dan taqdir yang maha kuasa. Mereka seakan terlihat tak lagi percaya dengan doa-doa, serta semua logika pengetahuan manusia diterima sebagai rujukan untuk menjauhkan umat dengan keimanan itu sendiri, seperti betapa dahsyatnya dengan alasan COVID-19 ibadah berhaji ditunda dan shaf-shaf shalat diobrak-abrik serta yang paling menyedihkan ada diantara umat tidak mau lagi berjamaah karena takut terpapar COVID-19.

Belum lagi akibat rasa takut sekali pada virus COVID-19 semua aktivitas ekonomi masyarakat dibatasi dan bila perlu dimatikan dengan alasan takut keterpaparan virus itu sendiri. Tindakan membatasi bisnis masyarakat untuk menghindari keterpaparan dapat dibenarkan sebagai sebuah ikhtiar, namun mematikan seperti merobohkan kios-kios dengan alasan tidak ada izin tanpa ada jalan keluar itu tidak bisa dibenarkan karena menyakut hak hidup ekonomi masyarakat yang harus dilindungi karena merupakan tujuan berbangsa dan bernegara adalah menjamin kehidupan seluruh rakyat itu sendiri.

Semakin kesini dampak rasa takut terhadap virus terlihat menyerang tanpa ampun kehidupan ekonomi masyarakat, banyak berita tentang ketidakberdayaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya karena tidak adalagi pendapatan dan mereka hanya bergantung pada bantuan pemerintah dalam bentuk bantuan tunai. Banyak para pedagang pasar tradisional hingga pasar modern turun drastis omzetnya akibat daya beli masyarakat semakin menurun. Imbas pasar dengan daya beli menurun akan berakibat keseluruh unit bisnis masyarakat, seperti ikut lesu juga usaha-usaha pertanian yang memproduksi kebutuhan hari-hari semisal sayur-sayuran, buah-buahan dan produk hewani untuk konsumsi serta banyak lainnya. Sehingga, benar-benar COVID-19 menjamah dan menghancurkan secara berlahan tapi pasti semua unit bisnis masyarakat hingga yang paling menakutkan akan terjadi, yaitu muncul huru-hara saling rampas karena kelaparan itu terjadi bila trend keterpurukan ekonomi terus-menerus terjadi tanpa bisa diperbaiki, walaupun itu sesuatu yang tidak diharapkan dan jangan pernah terjadi hendaknya.

Belum lagi pada saat ini ibarat dua sisi mata uang perlakuan yang terjadi dalam penanganan COVID-19 di dunia. Ada para pihak yang sudah tidak peduli lagi dengan pembatasan kerumunan, seperti yang dilihat pada apa yang dipertontonkan oleh orang-orang eropa dengan perhelatan kompetisi piala eropa Euro 2020  yang membolehkan orang berkerumun dan bergembira, dan disebagian lagi malah lagi gencar-gencarnya melarang kerumunan dan bahkan ada yang sangat membatasi aktivitas masyarakat itu sendiri.

Berdasarkan fenomena tersebut dapat dijelaskan bahwa ada sebagian manusia telah mendefinsikan COVID-19 sebagai ciptaan Tuhan yang perlu dihindari dengan ikhtiar tertentu tetapi tidak untuk ditakuti hingga menumbuhkan rasa takut berlebihan yang berakibat kehancuran untuk semua, mungkin pada bagian ini sudah sadar bahwa hidup dan mati bukan COVID-19 yang menentukan tetapi itu hanya sebab saja dan yang menentukan sang maha kuasa. Namun, ada sebagiannya lagi terlihat menempatkan COVID-19 sebagai sesuatu yang paling menakutkan hingga muncul kebijakan-kebijakan yang penting atas nama COVID-19 semua dapat dibenarkan dan bila perlu langgar Hak Azasi Manusia (HAM) itu sendiri dengan memaksa masyarakat untuk tunduk pada tindakannya, dan apakah itu sebuah tindakan yang salah? Itu tergantung sejauh mana bisa difilosofikan dengan menggabungkan logika pengetahuan dan keimanan kepada yang maha kuasa.

Narasi ini tidak bertujuan menyerang dan menyalahkan siapa-siapa dan ini hanya sebuah tulisan pendek sebagai pencerahan untuk kebaikan kita semua, jangan sampai bala yang diturunkan oleh Tuhan bisa menjeremuskan kita kepada kerusakan iman. Namun, ikhtiar untuk mencegah wabah jauh lebih baik dibandingkan dengan tidak peduli alias pasif. Hakul yakin pemangku kepentingan negeri ini yakin seyakinnya kepada kehendak Rabb yang maha kuasa, dan berikhtiar sekuat tenaga mencegah keterpaparan virus COVID-19 kepada penduduk negeri dan hendaknya juga yakin seyakinnya bahwa virus itu makhluk Tuhan dan Tuhan jualah yang dapat menghilangkanya.

*) Penulis: Dr. Zainuddin, SE, M.Si
[Akademisi Universitas Serambi Mekkah]

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...