Pimpinan Dayah Khamsatu Anwar Aceh Besar, Dr. Tgk Sirajuddin Saman, S.Pd.I, MA (Abi Doktor) menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 26 Mei 2022 episode ke 80 Tahun ke II dengan tema: Kadis Pariwisata Aceh Undang Wulan Guritno Pamer Aurat di Nanggroe Syariah?, yang dipandu oleh host Siti Aminah, Jangan lupa like share comment and subsribe.

Miskin Materi dan Miskin Hati

IlustrasiIlustrasi
A A A

Tidak perlu jauh-jauh untuk membuktikan bahwa ada praktik ketidakadilan dalam pendistribusian ekonomi tidak merata cukup kita amati disebuah desa saja akan kita temukan bahwa ada praktik-praktik yang mengkelompokan rakyat kedalam beberapa kelompok

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Pemerhati Sosial Ekonomi Masyarakat dan Akademisi Universitas Serambi Mekkah

DALAM pandangan ekonomi di ibaratkan kebutuhan merupakan perkara yang tidak terbatas dan barang atau jasa untuk pemenuhan kebutuhan terbatas. Atas dasar situasi seperti itu, maka kemudian ada kebutuhan yang bisa terpenuhi dan ada pula yang tertunda untuk bisa terpenuhi bila dalam keadaan normal terjadi keadilan pada pendistribusian pendapatan itu sendiri.

Namun, bisa saja tidak bisa terpenuhi apabila terjadi ketidakadilan pada pendistribusian pendapatan ditengah-tengah masyarakat, karena biasanya pada pada keadaan yang bersifat tidak adil pola pendistribusian pendapatan banyak melahirkan elit yang miskin hati dan terjadi kemiskinan materi permanen pada sebagian besar rakyat jelata hingga yang bersangkutan tidak bisa memenuhi kebutuhannya dalam limit waktu yang cukup lama, dan bahkan hingga berganti generasi sekalipun.
Selanjutnya, mari kita coba deskripsikan apa yang dimaksud dengan miskin hati dan apa pula yang terjadi dengan miskin materi.

Memang sering sekali kita mendengar kata-kata miskin langsung terpikirkan oleh kita bahwa yang bersangkutan kekurangan materi atau sumber daya dalam pemenuhan kebutuhannya, dan yang kekurangan materi dalam pemenuhan kebutuhan itu disebut miskin materi.

Miskin materi bisa saja disebabkan oleh banyak faktor, yaitu bisa karena alam yang tidak subur, bisa karena politik yang tidak stabil, bisa karena ketidak ahlian atau pengetahuan yang minimal, bisa karena ketidakadilan dalam pendistribusian pendapatan karena tindakan kaum penguasa dan lain sebagainya.

Pada daerah yang subur dan cukup banyak kandungan sumber daya alam biasanya kemiskinan terjadi banyak disebabkan oleh distribusi pendapatan yang tidak merata dan keadaan ini kadang-kadang tidak sadar terjadi ditengah-tengah masyarakat, sebagai contoh bahwa sering terjadi ditengah-tengah masyarakat tidak dipandang sama melainkan ada para pihak yang utama dan ada para pihak yang dianggap tidak utama dalam segala hal termasuk bagaimana diperlakukan dalam mendapatkan pekerjaan atau kesempatan untuk lainya dalam rangka memperoleh pendapatan.

Tidak perlu jauh-jauh untuk membuktikan bahwa ada praktik ketidakadilan dalam pendistribusian ekonomi tidak merata cukup kita amati di sebuah desa saja akan kita temukan bahwa ada praktik-praktik yang mengelompokkan rakyat kedalam beberapa kelompok, dan dalam tulisan ini kita kelompokan dua saya yaitu kelompok yang dekan dengan pemangku kepentingan dan kelompok yang tidak termasuk lingkaran pemangku kepentingan.
Pada dua kelompok tersebut akan terjadi sangat beda untuk mendapatkan kue ekonomi yang didapat oleh Pemerintah desa, dan pasti yang di lingkaran pemangku kepentingan sudah pasti akan cepat mendapat informasi hingga bagian yang lebih besar dan sebaliknya yang bukan lingkaran pemangku kepentingan akan sangat sulit memperoleh kue yang dimaksud.

Sehingga, yang terjadi akan terasa distribusi pendapatan sangat deras mengalir hanya pada lingkarang kerabat pemangku kepentingan itu sendiri dan akan tersumbat kepada kelompok yang bukan kerabat sang pemangku kepentingan.

Itu salah satu contoh kecil yang terjadi ditengah-tengah masyarakat kita, dan bisa jadi untuk level yang lebih besar juga tak jauh beda, buktinya ada istilah timses atau tim apalah yang pasti mereka yang termasuk dalam tim pasti alirannya cukup lancar dan yang tidak termasuk akan terlupakan.

Sudah pasti akibat ketidakadilan dalam pendistribusian pendapatan akan awetlah kemiskinan materi ditengah-tengah masyarakat walaupun sesungguhnya daerah yang yang didiami subur dan banyak kandungan sumber daya alam. Kemudian, kemiskinan hati.

Apa itu miskin hati, miskin hati adalah seperti ibarat kita minum air garam dimana semakin kita minum bukannya menghilang dahaga melainkan dahaganya bertambah-tambah.

Artinya secara materi sudah sangat banyak namun yang kenak penyakit miskin hati seperti sangat kekukarangan, sehingga yang bersangkutan sangat giat menumpuk-numpuk materi dan bila perlu semua ingin dirampasnya untuk dia miliki. Penyakit miskin hati banyak muncul di Negara yang subur praktik ketidakadilan pada pendistribusian pendapatan.

Miskin hati dalam mukaddimah kali ini kita ibaratkan suka menguasai materi yang bukan haknya, dan bila penyakit ini terjangkit di sebuah daerah atau Negara maka akibatnya sangat fatal, yaitu akan terbentuk masyarakat yang elit super kaya pada satu sisi dan banyak masyarakat yang hidup miskin dan bahkan dibawah garis kemiskinan untuk waktu yang lama hingga berganti generasi.

Dengan demikian, boleh saja menjadi kaya namun bukan seperti mengumpulkan harta seperti orang yang terpapar penyakit miskin hati, dan bila penyakit miskin hati bisa terobati maka kemudian akan terjadi pendistribusian pendapatan secara merata hingga secara berlahan dan pasti kemiskinan akan semakin terentaskan. Mohon tulisan ini tidak bermaksud menyakiti tapi hanya untuk menginspirasi kearah kebaikan. Atjeh loen sayang.[]

)* Dr. Zainuddin, SE, M.Si
(Pemerhati Sosial Ekonomi Masyarakat dan Akademisi Universitas Serambi Mekkah)

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...