Konselor Adiksi Yayasan Rumoh Geutanyoe Aceh, Firdaus, narasumber peHTem edisi Senin 26 Juli 2021 episode 59 dengan tema: Rehabilitasi Bagi Pecandu Narkoba, dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Emping Melinjo

Mengintip Produksi Si Pahit Renyah Banyak Penggemar

Merdeka.comPembuatan Emping Melinjo.
A A A

Acehimage.com - Mendengar kata emping melinjo mungkin sudah familiar bagi sebagian orang. Rasanya begitu khas, apapun campuran rasanya tak akan menghilangkan rasa pahit yang eksotis. Emping melinjo berasal dari biji buah melinjo yang hanya berukuran 1 centimeter. Siapa sangka, keripik biji buah kerdil ini mampu menembus pasar ekspor. Uni Emirat Arab, Denmark, hingga Malaysia kedapatan doyan dengan keripik pahit ini.

Memang jika tidak diberi bumbu, rasa otentik emping melinjo gurih renyah berpadu pahit yang memanjakan lidah. Untuk menyamarkan rasa pahit khasnya, emping melinjo dipadu dengan bumbu beraneka rasa. Jika dipadu dengan bumbu yang lezat, emping melinjo bakal menjadi camilan idaman. Namun tidak diperkenankan mengonsumsinya berlebihan.

Pohon melinjo tersebar dan tumbuh di sebagian besar Pulau Indonesia. Pohon melinjo dekat dengan tanaman Ginkgo di Jepang. Yang telah tumbuh selama 150-200 juta tahun.

Salah satu pembuatnya ialah Dalilah, puluhan tahun ia membuat emping melinjo. Tidak kurang 35 tahun ia telah mahir mengolah biji melinjo menjadi keripik unik. Tepatnya di Kelurahan Balekambang, Condet, Jakarta Timur. Ia menyelesaikan pembuatan keripik melinjo pesanan pelanggan secara tradisional.

Buah melinjo yang sudah masak akan berwarna merah cerah. Kulit buahnya harus dikupas untuk mendapatkan biji melinjo berwarna cokelat tua. Biji kerdil inilah di dalamnya terdapat daging biji yang sebenarnya merupakan buah dari pohon melinjo.

Seusai memisahkan kulit luar merah yang berdaging, biji segera disangrai. Proses sangrai tidak melibatkan minyak dalam pematangannya. Hanya menggunakan wajan yang diisi dengan pasir halus. Panas pasir akan melunakkan kulit hingga mudah mendapatkan daging buah.

Batu digunakan sebagai alas, sedangkan palu kecil sebagai pemukulnya. Kerasnya kulit luar seketika remuk, mengeluarkan daging buah berwarna putih kekuningan. Proses sangrai sebenarnya juga mematangkan daging buah melinjo. Melinjo yang matang akan mempermudah mencetaknya menjadi keripik melinjo setengah matang.

Cekatan tangan Dalilah memukul dengan lembut buah melinjo. Pasalnya jika terlalu keras memukul, ketebalan emping menjadi tipis bahkan hancur. Namun jika tidak keras, buah melinjo tidak akan menyatu menjadi adonan. Satu persatu butiran dipipihkan menjadi keripik berbentuk lingkaran.

Satu buah keripik emping melinjo setidaknya butuh 6 biji buah melinjo. Kesabaran menjadi kunci utama pembuatan emping melinjo. Prosesnya sama pada tiap butir melinjo yang diolah. Berbeda dengan bantuan mesin pengupas, dan pencetak emping yang jauh lebih mudah.

Keripik berbentuk bulat 10 cm ini masih basah, dan harus dijemur pada terik matahari. Disusunnya dengan rapi pada tampah bambu agar kering merata. Setidaknya butuh waktu 2 hari agar keripik benar-benar kering. Jika tidak kering merata, emping melinjo tidak akan renyah saat dikunyah.

Dengan tungku sederhana dari batu bata, api menyala dari kayu bakar. Keripik emping melinjo seiap dioreng. Tak butuh waktu lama menggoreng emping melinjo. Jika warna sudah berubah dari putih kekuningan pucat menjadi kuning kecokelatan pertanda emping melinjo siap ditiriskan. Aneka bumbu penyedap rasa siap ditaburkan atau disangrai dengan racikan bumbu mulai dari pedas, manis, gurih, dan aneka rasa lainnya.

Emping melinjo memiliki kandungan protein dan antioksidan yang tinggi. Namun jika berlebihan mengonsumsinya akan menyebabkan asam urat. Jangan khawatir, buah ini punya penangkalnya sendiri. Kulit buah melinjo punya khasiat menetralisir asam urat yang biasanya naik usai memakan emping melinjo.[]

Rubrik:TRAVEL

Komentar

Loading...