Konselor Adiksi Yayasan Rumoh Geutanyoe Aceh, Firdaus, narasumber peHTem edisi Senin 26 Juli 2021 episode 59 dengan tema: Rehabilitasi Bagi Pecandu Narkoba, dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Pandemi COVID-19

Menggerogoti Kehidupan yang Lalai dan Harus Bersemangat Menghilangkannya

Ilustrasi Ilustrasi COVID-19
A A A

Ada dalil yang menyatakan bahwa ujian diberikan tak mungkin melampui batas kemampuan, itu berlaku bagi yang beriman. Namun, ketika bala diturunkan tak bisa lagi dipilah antara yang beriman dengan yang tidak

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

SUDAH setahun lebih virus COVID-19 yang ditakuti oleh umat manusia berada dimuka bumi tak terkecuali singgah juga di Indonesia. Keberadaan COVID-19 membuat semua pemimpin Negara di dunia harus melakukan kajian ulang seluruh rencana-rencana pembangunan untuk diarahkan pada tindakan penanggulangan COVID-19. Bisa jadi banyak Negara membatalkan mata anggaran yang dianggapnya boleh ditunda dan bahkan walaupun tidak boleh ditundapun akan dibatalkan untuk diarahkan kepada penanggulangan COVID-19. Jika begitu adanya tentang upaya memperioritaskan penanggulangan COVID-19 itu merupakan tindakan yang sangat benar dan patut didukung karena menyangkut kesehatan dan nyawa para penduduk itu sendiri.

Seiring waktu terus berjalan ternyata COVID-19 makin menjadi-jadi dan memporak poranda seluruh  aktivitas masyarakat, baik yang bersifat besar maupun kecil. Akibat dahsyatnya dampak baik terhadap kesehatan maupun non kesehatan masyarakat, dan mengenai dampak kesehatan tentu sudah dapat kita lihat secara kasat mata betapa banyak keterpaparan COVID-19 hingga rumah sakit-rumah sakit penuh hingga habis sal tempat tidur dan bahkan sudah tidak tertampung lagi jenazah untuk dikubur di Tempat Pekuburan Umum (TPU) karena banyak yang meninggal dalam waktu bersamaan akibat COVID-19. Hal ini makin membuka alam fikir kita bahwa COVID-19 itu benar-benar wabah yang menakutkan dan mematikan yang bersifat seakan akan tiada namun resiko nyata ada ditengah-tengah umat, dan seyogyanyalah umat harus konsisten patuh pada kampanye pemerintah diseluruh bangsa terutama pemerintah Indonesia yang terus-menerus menghimbau agar mematuhi protokol kesehatan dalam kesehariannya sebagai ikhtiar mengendalikan keterpaparan si COVID-19 wajib dipatuhi.

Selanjutnya, selepas dampak pada sisi kesehatan ternyata jauh lebih dahsyat lagi dampak negative COVID-19 terhadap aktivitas ekonomi keseharian umat. Sudah menjadi terang benderang banyak unit bisnis yang harus mem-PHK-kan karyawan atau paling rendah merumahkan karyawan karena disebabkan oleh COVID-19, dan terlihat betapa daya beli masyarakat menurun drastis serta pasar-pasar sepi akibat COVID-19. Hal ini membuktikan kompleks lah sudah penderitaan umat dikarenakan Allah yang maha kuasa turunkan makhluknya berupa virus yang tak terlihat secara kasat mata, dan apakah musibah virus ini harus kita sesali dan kita marah kepada sang khaliq?. Dibalik itu semua mari kita coba terka menurut kacamata kita sebagai hamba bahwa mudah bagi yang maha kuasa untuk menciptakan sesuatu dan memusnahkan sesuatu dan itu tidak ada keraguan sedikitpun atas kemampuanNya. Jika begitu adanya dibalik keberadaan COVID-19 tersirat bahwa ilmu mu (manusia) tidak ada setetes airpun dibandingkan ilmu sang maha kuasa, maknanya yang terpesan dari keberadaan COVID-19 manusia sebagai hamba hiduplah menurut kadar yang telah dihalalkan (sesuai hukum syariah) dan jangan melampui batas jika ingin tenteram dan jauh dari wabah malapetaka.

Dengan demikian, dalam mukadimah ini terlihat keberadaan COVID-19 akibat kehidupan kebanyakan umat manusia sudah melampaui batas dan banyak yang mengingkari kekuasaan yang maha kuasa berupa petunjuk hidup, seperti contoh banyak yang memakan yang diharamkan, banyak yang bersenang-senang dengan riba, pergaulan bebas, penindasan, pelecehan terhadap agama, zalim dan munafik menjadi praktik sehari-hari ditengah-tengah umat serta praktik ria menjadi kebanggaan. Sehinga, apa solusinya agar yang maha kuasa mencabut bala yang dahsyat ini adalah dengan cara hidup dengan keadaan normal yang baru, yaitu hidup dengan menjauhkan seperti contoh yang telah disebutkan sembari ikhtiar yang dipolakan terus berjalan yang diikuti dengan doa-doa kapada yang maha kuasa.

Ada dalil yang menyatakan bahwa ujian diberikan tak mungkin melampui batas kemampuan, itu berlaku bagi yang beriman. Namun, ketika bala diturunkan tak lagi bisa dipilah antara yang beriman dengan yang tidak. Ada ungkapan tidak ada hujan yang tak reda, dan tidak ada perang yang tidak ada akhir, barangkali atas ungkapan ini bisa kita ambil hikmahnya pasti wabah COVID-19 akan ada akhirnya bila seluruh umat konsisten menjauhinya, Insya Allah.

*) Penulis: Dr. Zainuddin, SE, M.Si
[Akademisi Universitas Serambi Mekkah]

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...