Ketua Komisi VI DPR Aceh, Tgk. H. Irawan Abdullah, S.Ag menjadi narasumber peHTem edisi Senin 9 Agustus 2021 episode 63 dengan tema: Biaya Pendidikan Dayah MUQ Pagar Air Selangit, Kucuran Dana Dayah Aceh Kemana? yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Membangun Negeri (Aceh) Harus Seirama Antara Niat, Ucapan dan Tindakan

AK JailaniIlustrasi
A A A

hal ini begitu menjadi perhatian yang sangat luas atas kejadian rehab rumah para pejabat yang menelan biaya sangat fantastis yang jauh dari kepatutan dan kepantasan.

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

TERBUKTI pesan agama yang menyerukan kejujuran dalam segala hal, baik itu dalam memimpin untuk skala besar maupun untuk skala kecil atau keluarga akan berimplikasi pada kesejahteraan dan sebalikya bila tidak jujur akan berbuah pada kesengsaraan. Tentang kejujuran mengenai niat, ucapan dan tindakan sekarang ini lagi diuji dan dipertontonkan dibumi Iskandar Muda, hal ini begitu menjadi perhatian yang sangat luas atas kejadian rehab rumah para pejabat yang menelan biaya sangat fantastis yang jauh dari kepatutan dan kepantasan. Apalagi hal tersebut terjadi disaat rakyat sedang menghadapi wabah pandemi COVID-19 yang mengakibatkan kehidupan rakyat sangat memprihatinkan  sementara para pejabat publik dan yang dibiayai oleh dana publik  hidup dalam kemewahan.

Bila seperti itu kejadiaanya, maka secara logika sederhana masyarakat menilai bahwa para pejabat atau yang hidupnya dibiayai oleh anggara publik berprilaku tidak pantas dalam menghabiskan dana publik karena seyogyanya sebuah dana publik harus dihabiskan kepada kepentingan publik itu sendiri. Bila sekarang sedang dilanda wabah maka kemudian dana publik sebaiknya dihabiskan untuk kepentingan bagaimana agar masyarakat bisa diberdayakan secara ekonomi dan dijamin kesehatannya bukan lantas hidup mewah ditengah-tengah rakyat sedang gundah gulana akibat wabah yang tak tau kapan akhirnya.

Berpedoman apa yang terjadi diakhir-akhir ini, maka tak salah lagi bila ingin Aceh berada pada jalur yang benar dalam pembangunan untuk mencapai tingkat kemakmuran untuk semua mau tidak mau yang pertama yang harus di manage adalah menyeragamkan niat, ucapan dan tindakan harus satu irama, maknanya adalah janganlah ucapan diucapkan itu terpisah dari niat dan semua tindakan tidak lagi berdasarkan ucapan. Bila itu terjadi, maka kemudian apa yang didengungkan sebagai program itu hanya sebatas mercusuar saja sebagai lips service menarik perhatian agar disukai rakyat dan setelah itu apa-apa yang akan dilakukan tidak lagi mengikuti program yang pernah diucapakan melainkan diikuti pembisik yang kebanyakan dari bisikan kesesatan menjeremuskan kepada kehidupan yang tidak diridhoi Allah alias akan ada niat bagaimana caranya memperkaya diri dan nepotisnya serta hidup dalam keadaan ria dan mewah ditengah-tengah rakyat menderita.

Bagaimana cara agar bisa kita seragamkan niat, ucapan dan tindakan itu bisa terjadi?. Bagi umat di negeri Iskandar Muda hal seperti ini mudah dilakukan karena umat di sini memiliki pengetahuan agama yang kuat, dalam tuntutan agama kehidupan yang sangat baik dan benar adalah hidup yang sesuai dengan syariah itu sendiri, dan bagian terpenting dalam hidup bersyariah adalah kejujuran. Kejujuran pada prinsipnya mengandung nilai yang berarti niat, ucapan dan tindakan adalah sama, maknanya ucapan harus sama dengan niat dan tindakan harus sama dengan ucapan. Sepanjang hal-hal tersebut belum bisa dipraktekan ditengah-tengah kehidupan masyarakata dan para pemangku kepentingan, maka jangan harap roda perekonomian akan berjalan di role yang benar untuk melahirkan kesejahteraan bersama, artinya banyak praktik kemunafikan terjadi sehingga banyak doa-doa tertolak dikeranakan sumber rejeki tidak mencapai tingkat halal yang diridhoi Allah SWT.

Tidak mungkin pun terjadi niat, ucapan dan tindakan bisa sama bila dalam sebuah perencanaan banyak data-data fiktif dan banyak tangan-tangan yang menginginkan data fiktif sebagai dasar untuk sebuah perencanaan. Artinya bila bukan atas dasar data yang benar sebagai dasar perencanaan, maka kemudian hasilnya pun tidak bakal benar pula dan akhirnya terkesan program pembangunan itu seperti untuk aji mumpung alias “kuet pade rudok” berlomba-lomba memuaskan diri dan kerabatnya selagi masih menjabat. Oma sep sayang Aceh nyoe.[]

*) Penulis: Dr. Zainuddin, SE, M.Si
[Akademisi Universitas Serambi Mekkah]

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...