Literasi 4.0 Ditargetkan Merubah Midset Kaum Muda

SITI AISYAHPeserta pelatihan literasi bersama anggota BCS
A A A

ACEH BARAT - Di era revolusi industri 4.0 saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan literasi digital menjadi hal yang sangat penting untuk dibahas. Hal ini merupakan sebuah tuntutan bagi kaum millenial agar mampu memahami kondisi zaman dan mengikuti setiap perkembangan masa yang semakin maju.

Melihat hal tersebut, Basajan Creative Scholl (BCS) sebagai salah satu sekolah literasi yang saat ini terus berupaya merubah midset serta cara pandang pemuda milenial. Perkembangan teknologi hari ini harus bisa digunakan secara maksimal untuk menghasilkan konten kreative sebagai media mempromosikan diri.

Sebagai komunitas literasi pertama yang ada di Barat Selatan Aceh, BCS yang beralamat di Jalan Bungong Jaro, Desa Seneubok, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat itu memiliki tujuan menjadi wadah literasi media kreative bagi kalangan muda untuk terus berkreasi serta membina diri dalam hal literasi digital. Tepat 14 April mendatang usianya genap 3 tahun.

Sabtu, 29 Februari 2020, ada belasan anak muda, laki dan perempuan yang terdiri dari siswa, alumni, dan tamu undangan yang memenuhi ruangan seluas 5×8 meter. Mereka adalah peserta yang mengikuti kegiatan pembukaan kelas BCS pada pagi itu. Kali ini pembukaan kelas di barengi dengan diskusi yang mengusung tema " Millenial dan Tantangan Era Disrupsi"

Kepala Sekolah atau Pendiri BCS, Junaidi Mulieng mengatakan meskipun sebelumnya banyak komunitas literasi yang telah hadir, namun kegiatan yang dibuat hanya pada bidang baca, tulis dan diskusi. Sementara yang diterapkan di BCS bukan sekedar itu saja, tetapi juga mampu mengaplikasikan untuk media kreatif yang ada.

“Target utama merubah midset, cara fikir cara pandang dan paradigma anak muda yang ada di Barat Selatan khusunya," ujar laki-laki berkulit hitam manis tersebut.

Ia menjelaskan perkembangan teknologi hari ini harus bisa digunakan secara maksimal dan sepositif mungkin untuk menghasilkan konten kreative sebagai media untuk mempromosikan diri , daerah dan semua potensi yang ada di wilayah Barat Selatan Aceh dan Aceh umumnya. Karena menurutnya tidak mungkin suatu daerah maju jika hanya berharap dari pemerintah saja.

"Daerah kita sangat kaya, jadi yang harus diutamakan adalah pendidikan, karena tanpa ada pendidikan tidak mungkin suatu daerah bisa maju, dan tanpa ada keinginan dari kalangan muda untuk mengubah diri mustahil daerah kita akan maju," jelasnya.

Dirinya menambahkan, meskipun target capaian yang diinginkan belum maksimal, tetapi sudah hampir mendekati, karena beberapa lulusan yang sampai hari ini digunakan jasanya oleh pihak lain baik itu pemerintahan, swasta dan media.

Jadi, dalam hal memberi pendidikan kepada kader baru, kelas BCS di isi dengan Mentor utama yang dipakai dari Basajan sendiri. Dua angkatan jebolan basajan sebelumnya, ikut mementori BCS.

Bukan tak ada mentor dari luar, hanya saja dalam memilih pemateri perlu diterawang yang terpenting memiliki visi dan misi sesuai dengan yang ditargetkan komunitas literasi BCS. System belajar yang dipakai juga lebih interaktif.

“Bukan hanya mentor yang aktif tapi keaktifan siswa itu juga sangat menentukan, karena jika datang ke BCS hanya untuk duduk dengar diam itu tidak dibenarkan. Jadi orang-orang yang datang kemari memang orang-orang yang punya keinginan untuk melakukan pengembangan potensi diri. Jadi dari pesertanya yang aktif dan mentor mengarahkan sesuai potensi yang dimiliki siswa,” ungkap Junaidi.

Dirinya berharap, ini bisa terus berlanjut dan menjadi warisan bagi generasi akan datang. Tanpa ada Pendidikan tidak mungkin suatu daerah akan maju. “Juga untuk kalangan muda saya mengutip perkataan imam syafie, orang muda yang tidak mau belajar diusia mudanya maka bertakbirlah tiga kali kepadanya, karena sebenarnya dia sudah mati,” kutip Junaidi.

Firman Parlindungan, seorang Doctor jebolan universitas luar negeri ikut andil dalam kegiatan tersebut. Kepada peserta dirinya menyampaikan, bahwa di era teknologi saat ini, anak muda milenial dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju. Selain memahami, mereka juga harus menguasai perkembagan literasi digital sebagai sarana pendukung pengembangan kreativitas.

“Hal lainnya yang harus dimiliki generasi muda adalah tanggung jawab. Menurutnya, semua kecanggihan teknologi yang ada saat ini, untuk mempermudah kerja manusia. Karenanya, harus mampu digunakan secara bijak dan tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini kita hidup di era 4.0 yaitu menggabungkan empat generasi diantaranya, Baby Bomers yag lahir berkisar 1946 hingga 1964, yang kedua Gen X lahir berkisar 1965-1979, sementara yang ketiga dikelompokkan menjadi generasi millienal yang lahir kisaran antara 1980-1995, dan yang terakhir Gen Z yaitu anak- anak yang lahir 1996-2010.

”Empat generasi itu hidup berdampingan secara bersamaan, jadi kita harus pandai untuk menyesuaikan. Ada empat ciri yang melekat pada kelompok Millenial dan Gen Z yaitu, rasa ingin tahu, tidak bisa jauh dengan Teknologi, suka berkolaborasi dan tidak suka di dekte,” kata Firman.

Bukan hanya kaum milenial saja, BCS kini juga mensasar Panti Asuhan untuk bisa diberikan pemahaman serupa. Salah satunya pihak Basajan bekerjasama dengan SOS Choldren Vilage Meulaboh untuk lima tahun ke depan, agar bisa membina para anak anak disana dalam hal literasi media kreatif.

Kedua lembaga tersebut, melakukan penandatangann MoU di secretariat BCS. Nota kesepahaman itu ditanda tangani langsung oleh direktur SOS, Andi syaputra, dan pimpinan basajan.net Junaidi Mulieng serta didampingi Taufik Hidayatullah, iwan, Dedi Syaputra sebagai pembina SOS.

MoU BCS dengan Panti Asuhan SOS Meulaboh, merupakan bentuk pengabdian sekaligus kepedulian bagi generasi muda, khususnya anak-anak di Panti Asuhan agar mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama dengan anak-anak lainnya.

Andi sangat berterimakasih atas dibukanya kesempatan untuk bisa bekerjasama dengan pihak BCS untuk menularkan keilmuan yang dimiliki mereka kepada anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan.

“Terimakasih atas kerjasama yang terjalin dengan BCS untuk membina anak-anak di panti asuhan SOS, semoga kehadiran kawan-kawan BCS semakin memotivasi dan menginspirasi anak didik dalam mengasah skill dibidang literasi media creative,” ucap Andi.

Untuk tahun ini, pilihan kelas BCS ada empat focus, yakni Penulisan Jurnalistik, Penulisan Sastra, Videografi dan Web Desain dengan mentor lokal yang memiliki kemampuan dibidangnya.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...