Zikrayanti, MLIS, PhD (Cand) menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 23 September 2021 episode 10 Tahun ke II dengan tema: Terkait Vaksin Siswa, Wali Murid Minta Gubernur Pecat Kadisdik Aceh, yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Lestarikan Keberadaan Sawah Bentuk Ikhtiar Melestarikan Kehidupan

IlustrasiIlustrasi
A A A

Daerah maju tidak semata-mata diukur dengan keberadaan gedung yang besar diatas persawahan yang menjulang tinggi tetapi maju itu diukur bagaimana tingkat kemudahan mata pencarian rakyat dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Pemerhati Sosial Ekonomi Masyarakat

Ketidaktersediaan lahan pertanian menjadi sesuatu yang harus dihadapi oleh banyak Negara atau daerah didunia  dimulai sekarang abad ke 21 dan akan terus menjadi sangat sulit memperoleh lahan yang dimaksud dimasa-masa periode yang akan datang. Karena tak terbantahkan bahwa dalam teori ekonomi dikatakan pertumbuhan penduduk yang dinukilkan seperti deret ukur sedangkan ketersediaan lahan bersifat terus berkurang akibat eksploitasi atau penggunaan untuk keperluan manusia. Merupakan tanggungjawab pemangku kepentingan yang sekarang untuk memplanning bagaimana seharusnya akan dihidupkan dunia pertanian rakyat yang efektif dan efesien diregional-regional pertanian itu sendiri untuk masa depan agar konsistensi kehidupan itu sendiri terjamin. Sudah saatnya para pengambil kebijakan untuk memikirkan tentang eksistensi pertanian itu sendiri karena terbukti kemampuan menghasilkan kebutuhan pokok disentral-sentra produksi turun drastic hingga tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Sangat beralasan untuk memperioritaskan dunia pertanian yang secara spesifik pertanian bercocok tanam padi di sawah karena diakui atau tidak bahwa profesi yang memberi kehidupan dan penghidupan manusia di provinsi Aceh adalah profesi pertanian tani di sawah dan itu juga menjadi profesi kebayakan rakyat itu sendiri. Sebab itu, perhatian pemengku kepentingan pada dunia pertanian merupakan bentuk ikhtiar untuk mengangkat harkat kehidupan rakyat menuju tingkat kesejahteraan yang memadai alian terangkat dari kehidupan dibawah garis kemiskinan.

Bagaiman tindakan nyata pemangku kepentingan di Aceh, mulai di tingkat dua hingga tingkat satu adalah harus berupaya agar menghindari melakukan perubahan fungsi sawah itu sendiri. setiap pemangku kepentingan di tingkat dua memiliki kebijakan memihak kepada eksistensi keberadaan persawahan, maknanya adalah jika pun ada perubahan fungsi harus ada tindakan nyata pengganti (cetak sawah baru) sebesar area yang sudah diubah fungsi. Kenapa harus kita suarakan bahwa agar kita wajib menjaga keberadaan persawahan karena secara filosofi hidup masyarakat Aceh adalah pengkonsumsi beras (nasi) sebagai makanan pokok, dan beras itu tak lain tak bukan output dari bercocok tanam di sawah, menjadi tindakan pembangkangan terhadap nilai-nilai kehidupan itu sendiri ketika area sawah diubah fungsinya dengan menimbun untuk pembangunan fisik dan lain sebaginya.

Dengan demikian, sekali lagi tanggung jawab dari melestarikan keberadaan area sawah ada dipemangku kepentingan yang sekarang dengan mudah sebenarnya bisa dilakukan tindakan dengan melahirkan suatu kebijakan melarang membangun pembangunan yang bersifat privat di area sawah produktif dan bila pun harus dibangun tertentu yang sifat keperluannya mendesak dan bersifat publik. Namun, yang terlihat secara kasat mata malah ada gedung-gedung besar sebagai kantor pemerintah yang dengan bangganya dibangun diatas area sawah produktif. Ketika seperti itu yang terlihat, maka kemudian rakyat mempertanyakan tingkat kemampuan pengetahuan pengambil keputusan tentang perencanaan kehidupan ekonomi rakyat dimasa depan, dan hal seperti ini sebenarnya yang menjadi pertanyaan besar dari rakyat tentang keberadaan badan perencanaan pembangunan itu sendiri.

Daerah maju tidak semata-mata diukur dengan keberadaan gedung yang besar diatas persawahan yang menjulang tinggi tetapi maju itu diukur bagaimana tingkat kemudahan mata pencarian rakyat dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Dikarenakan mata pencarian rata-rata rakyat Aceh pertanian terutama bercocok tanam di sawah, maka menjadi paradok ketika pemangku kepentingan tidak mengindahkan keberdaan area sawah itu sendiri. Saran dari penulis bahwa untuk saat sekarang hingga kedepan dalam membangun pembangunan fisik sepertinya boleh mengadopsi teori lokasi dan semestinya para pengambil keputusan untuk bisa mematangkan suatu keputusan dengan berdiskusi dengan intelektual-intelektual yang ada dikampus-kampuas yang sudah banyak ada di Aceh.

Agar jangan terkesan “gue punya kekuasaan dan modal apa urusan ente, mau gue timbun kan sawah gue bukan sawah ente”. Hidup sementara dan jangan menjadi karena kita rusak tatanan kehidupan generasi muda, maka jalani hidup dengan taqwakal bukan dengan eforia menampakan kesombongan yang cendrung ria dan takabur. Mari lestarikan kebiasaan endatu yang nyata-nyata memberikan keberkahan dan  tidak perlu dikatakan hebat didunia ini dengan membangun gedongan karena tidak dibawa kekuburan, sederhana saja didunia ini agar terwarisi kepada genarasi selanjutnya. Aceh lon sayang.

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...