Selamat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Mari jadikan momentum ini sebagai bentuk memperbaiki diri serta mengikuti jejak baginda Rasul untuk kebaikan dunia dan akhirat, Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad.

Mantan Wartawan Konflik

Kirim Surat Terbuka Untuk Kapolda Aceh

for acehimage.comMantan Wartawan Konflik, Andi Firdhaus
A A A

Salah satu harapan saya adalah mengusut tuntas indikasi dan dugaaan korupsi yang merugikan negara puluhan miliar di Aceh dengan beragam modus. Seperti kasus pada Dinas Pendidikan Aceh tahun anggaran 2020 atas pengadaan 400 paket tempat cuci tangan/ wastafel portabel dengan nilai Rp41,2 miliar

Andi Firdhaus Mantan Wartawan Konflik

BANDA ACEH - Setelah 16 tahun perjanjian damai Aceh atau lebih dikenal dengan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki di Finlandia, 15 Agustus 2005 silam.

Sejak kesepakatan bersama mengakhiri konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Republik Indonesia.

Namun Ironisnya, saat ini Aceh menjadi sebagai daerah termiskin di Sumatera, belum lagi persoalan bidang pendidikan yang masih terbelakang dan kesenjangan yang semakin mengental. Ini merupakan bukti bahwa indikasi dugaan korupsi sangat tinggi di Bumi Serambi Mekah.

Hal itu disampaikan langsung Mantan Wartawan Konflik, Andi Firdhaus Lancok kepada acehImange.com melalui surat terbukanya untuk Kapolda Aceh Inspektur Jendral Ahmad Haydar. Kamis, (23/09/2021).

kedua persoalan itu sangat kompleks dan problematis. Oleh sebab itu, Andi meminta Polda Aceh untuk mengusut tuntas segala dugaan tindak korupsi yang ada di tanah Rencong ini.

"Salah satu harapan saya adalah mengusut tuntas indikasi dan dugaaan korupsi yang merugikan negara puluhan miliar di Aceh dengan beragam modus. Seperti kasus pada Dinas Pendidikan Aceh tahun anggaran 2020 atas pengadaan 400 paket tempat cuci tangan/ wastafel portabel dengan nilai Rp41,2 miliar," ungkapnya.

Bukan hanya itu, lanjutnya, Polda Aceh juga harus mengusut kasus beasiswa dan dana hibah untuk OKP yang nilainya miliaran juga masih ditunggu-tunggu oleh rakyat Aceh, sudah sejauh mana proses penyelidikan dan penyidikannya.

"Sebenarnya rakyat Aceh tidak sepenuhnya mengerti proses dan alur penegakan hukum secara detail, sehingga kerap tidak sabar menunggu hasil akhir yang memuaskan.

Sehingga dengan hadirnya Kapolda baru ini, rakyat Aceh menaruh harapan besar pada upaya pengusutan berbagai kasus korupsi yang terjadi di Aceh," ujarnya.

Hal tersebut, menurutnya bisa menjadi "obat" penenang bagi rakyat Aceh yang sudah lama sakit hati pada upaya pemberantasan korupsi, dan transparansi menjadi pil kedua untuk itu.

"Saya hakkul yakin bahwa korupsi menjadi penyakit untuk realitas di atas. Jika pun tidak mampu diamputasi, maka sebagai rakyat Aceh berharap segera diobati," pungkasnya.[]

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...