Zikrayanti, MLIS, PhD (Cand) menjadi narasumber peHTem edisi Kamis 23 September 2021 episode 10 Tahun ke II dengan tema: Terkait Vaksin Siswa, Wali Murid Minta Gubernur Pecat Kadisdik Aceh, yang dipandu oleh host Indah Rastika Sari. Jangan lupa subsribe like share dan comment.

Menerka-nerka (Ala Uloen)

Kinerja Ekonomi Sebagai Indikator Keberhasilan Pembangunan di Aceh

IstimewaIlustrasi
A A A

Selama masih ada keluarga yang hidup dengan rumah reok (alias lantainya bumi dan atapnya terlihat langit serta didingnya pelupah rumbia), maka selama itu kinerja ekonomi kepemimpinan rejim belum bisa dikatakan baik

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

DALAM sebuah perekonomian harus ada indikator atau pengukuran untuk dapat dikatakan sudah tercapai kinerjanya atau berkinerja baik. Dalam banyak analisis sering ditempatkan variabel pertumbuhan ekonomi sangat dominan sebagai sebuah indikator kinerja ekonomi, baik untuk tingkat daerah maupun untuk sebuah Negara. Dimana, bila terjadi pertumbuhan mendekati target atau melampui target akan dikatakan bahwa kinerja ekonominya baik atau bagus. Padahal bila kita sedikit lebih dalam menelusuri tentang pertumbuhan ekonomi akan memberikan jawaban semu terhadap kinerja ekonomi itu sendiri karena dalam pengukuran pertumbuhan ekonomi hanya melihatnya pada tataran totalitas atau secara agregat (komposit) tanpa peduli pada sisi pemerataan. Sehingga, bisa saja terjadi pertumbuhan ekonominya bagus tetapi kehidupan rakyat jelata tetap tidak berubah karena untuk sebuah pertumbuhan ekonomi yang penting nilai total dari ekonomi itu sendiri dalam suatu periode tertentu dan bisa saja yang menyumbangkan pertumbuhan itu sendiri dari korporasi-korporasi atau bisnis-bisnis besar. Jadi bila kita berazaskan pertumbuhan secara merata, maka kinerja ekonomi hanya melihat pertumbuhan ekonomi tidak lah tepat karena mengabaikan pemerataan.

Kemudian, ada yang melihat kinerja ekonomi sebuah rejim tentang banyaknya pembangunan fisik terutama ketersediaan barang-barang publik dan bisa diakses oleh semua rakyat serta tercipta efesiensi dan efektivitas pada kegiatan masyarakat, dan hal ini bisa juga dikatakan sebuah keberhasilan dalam kinerja ekonomi itu sendiri. Tetapi apabila pembangunan fisik berupa barang-barang publik yang hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu (masyarakat kaya) itu termasuk berkinerja setengah baik karena tidak mengubah keadaan kehidupan dari kaum papa itu sendiri. Artinya tetap saja tidak memiliki azas pemerataan. Sehingga, terlihat banyak pembangunan berdiri dan megah namun kehidupan rakyat jelata tak beranjak dari sebelumya. Artinya fasilitas yang terbangun hanya bisa diakses oleh kaum kaya saja dan yang miskin tetap saja tidak bisa mengakseskannya. Dan lagi-lagi indikator ini tetap juga baik dipandang mata tetapi tidak baik pada kenyataannya karena tidak bisa merata dampaknya.

Selanjutnya, mengukur kinerja ekonomi dengan melihat pertumbuhan ekonomi keluarga-keluarga yang ada melalui cara pengamatan langsung, baik secara sensus atau dengan cara sampling yang terwakili kelas keluarga. Bila dalam amatan ini membuktikan adanya peningkatan yang signifikan terutama pada keluarga-keluarga pra sejahtera, maka yang seperti ini jauh lebih baik dan bisa dikatakan kepemimpinan rejim dalam suatu darah atau negera berkinerja ekonomi bagus dan malah bisa dikatakan amat bagus. Kenapa model ini yang lebih baik mengukur kinerja ekonomi dari sebuah kepemimpinan karena pada indikator ini memiliki azas pemerataan untuk sebuah tindakan ekonomi yang dirasakan oleh semua masyarakat yang ada, artinya apa-apa yang dilakukan oleh rejim memiliki dampak positif bagi seluruh rakyat bukan hanya bagi sebagian rakyat. Memang untuk analisis atau melihat indikator semacam ini perlu tim yang mau dan mampu berkerja, tidak bisa dianalisis data dari laporan bersifat asal bapak senang.

Berdasarkan tiga model mengukur kinerja ekonomi, sepertinya untuk provinsi Aceh bila kita lihat pada pertumbuhan ekonomi apa termasuk baik atau buruk?, jawaban atas itu bisa kita akses di badan statistik dan biasanya itu akan memberikan jawaban bahwa ekonomi Aceh terjadi pertumbuhan bla-bla dan bla. Kemuadian, pada pengukuran model kedua bagaimana dengan Aceh?, lagi–lagi jawabannya ada di badan statistik atau humas  pemerintah Aceh dan kabupaten /kota bahwa kita sudah berhasil membangun ini dan itu, dan biasanya dengan bangga mempublisnya saat peresmian dan atau bisa kita temukan papan pengumuman proyek dengan besar budgetnya sekian. Nah, bagaimana dengan model yang terakhir mengenai kehidupan ekonomi rumah tangga-rumah tangga yang ada di provinsi Aceh, maka jawabannya harus melalui survey (melihat, memantau dan mendokumentasi) secara langsung baru kita menemukan jawabannya. Selama masih ada keluarga yang hidup dengan rumah reok (alias lantainya bumi dan atapnya terlihat langit serta didingnya pelupah rumbia), maka selama itu kinerja ekonomi kepemimpinan rejim belum bisa dikatakan baik.

Akhirnya mengubah suatu ekonomi menjadi lebih baik tidak bisa dibangun hanya dengan cara publisitas saja melainkan harus dengan sungguh-sungguh dan dengan menempatkan sumber daya yang kualifiaksi yang memadai, artinya penting mempersiapkan sumber daya yang memiliki kemampuan dan keahlian dibidangnya. Memang untuk sebuah peradaban banyak diukur dengan lahirnya bukti fisik sebagai bukti yang akan dilihat dimasa depan, tetapi jangan lupa mengubah ekonomi keluarga-keluarga menjadi lebih baik jauh lebih bernilai dan akan menghasilkan momentum mengukir peradaban indah pada waktunya. Artinya dengan ekonomi keluarga-keluarga yang ada di provinsi Aceh lebih baik, maka dengan sendirinya anggota keluarga akan memiliki kehidupan yang lebih maju dan pada akhirnya akan ikut juga memnculkan pembangunan-pembangunan yang menjadi bukti peradaban masyarakat Aceh lebih maju dari waktu ke waktu. Salam hormat untuk semua, tulisan ini hanya sebuah bacaan mungkin bisa diambil hikmah pengetahuannya, semoga Aceh lekas bebas dari pandemi COVID-19 agar masyarakat bebas menuangkan ide kreativitasnya demi lebih baik dimasa mendatang. Aceh loen sayang.

*) Penulis: Dr. Zainuddin, SE, M.Si
[Akademisi Universitas Serambi Mekkah]

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...