Diduga Membuat Surat Bodong

Keuchik Krueng Batu Dilaporkan ke Polisi

MUHAMMAD THAISIRMakdunsyah dan M Nurdin di PWI Aceh Selatan, Senin (18/11/2019) mengajak wartawan untuk meliput dugaan penipuan oleh Keuchik Krueng Batu yang dilaporkan ke Polres Aceh Selatan
A A A

ACEH SELATAN- Keuchik Krueng Batu Kecamatan Kluet Utara Aceh Selatan dilaporkan ke Polres Aceh Selatan di Tapaktuan terkait dugaan penipuan/manipulasi data yang pernah di layangkan ke Dinas PU c/q Perkim Provinsi Aceh pada tanggal 26 Oktober 2019.

Makdunsyah selaku pelapor mengatakan pada wartawan di Kantor PWI Aceh Selatan di Tapaktuan, Senin (18/11/2019). Pihaknya sudah merasa pecemaran nama baik terkait bunyi surat Keuchik tersebut yang menyatakan bahwa Makdunsyah sudah meninggal dunia dan tidak memiliki ahli waris. “Gara- gara laporan palsu Keuchik, akhirnya saya tidak dapat rumah bantuan,”sebut Makdunsyah.

Menurut Makdunsyah Keuchik Krueng Batu telah menyalahgunakan hak wewenang dengan dasar pada tanggal 25 Oktober 2019  Perkim Provinsi telah melakukan pemutakiran data 5 calon penerima bantuan rumah untuk warga kurang mampu di Krueng Batu atas nama Asni, Martunis, M.Nurdin, Nurfida dan Makdunsyah.

“Tetapi pada saat itu oleh Keuchik telah menolak langsung bantuan tersebut atas nama M Nurdin dan Nursida dengan alasan tidak diketaui dan bukan warganya”.  Papar Makdunsyah.

Menurut pengakuat Makdunsyah M Nurdin dan Nusida adalah memang betul warga Krueng Batu dan sampai sekarang masih ada orangnya tetapi entah mengapa keuchiknya mengatakan itu bukan warganya.

Surat perihal penolakan/pembatalan dan peralihan calon penerima rumah bantuan yang diduga surat bodong

“Seterusnya Keuchik Krueng Batu juga menyurati perkim, menyatakan saya sudah meninggal dan tidak mempunyai ahli waris dengan tujuan rumah bantuan jatah saya bisa dialihkan untuk Leo Saputra anggota Tuha Peut Gampong, maka  hari ini lah saya melaporkan Keuchik Krueng Batu itu ke Polres,”terang Makdunsyah.

Pemalsuan laporan dan pengalihan rumah  tersebut, menurut Makdunsyah itu disebabkan karena pihaknya tidak mampu memberikan uang ke Keucik  yang pernah diminta sebanyak Rp10 Juta rupiah.

Pada saat yang sama secara terpisah PPTK RLH Wilayah II Kabupaten Aceh Selatan dan Simeulue Arif Khairullah membenarkan pada acehimage.com melaui  sambungan selular (Hp) bahwa Keuchik Krueng Batu telah melakukan penolakan 2 unit rumah bantuan dan juga telah melayangkan surat penolakan, pembatalan dan peralihan calon penerima rumah atas nama makdunsyah Menjadi Leo Saputra. Tetapi pihak perkim tidak mengakomodir nama penggati yang diajukan oleh Keuchik.

“Dengan dasar penolakan Keuchik itu lah dari pihak Perkim Provinsi memberikan rumah bantuan di Krueng Batu cuma 2 unit saja atas nama Asni dan Martunis.

PPTK ini juga mengakui Keuchik Krueng Batu ternyata memberikan informasi bodong ke Perkim, tetapi karena program sudah berjalan maka tidak bisa juga diakamodir lagi.

“Sehingga tim dari Bapepda Provinsi sudah berumbuk untuk menaikkan kembali atas nama M Nurdin, Nursida dan Makdunsyah di tahun 2020”. Sebut Arif Khairullah.

“Keuchik ini sudah memanipulasi informasi baik melalui surat maupun lisan. Jadi tergantung pihak korban, jika mau dilaporkan ke hukum itu lebih baik untuk menjadi pelajaran dan bukan ini saja persoalan yang saya hadapi tetapi ada juga beberapa Keuchik lagi mempersulit persoalan di Aceh Selatan,”tambah PPTK  ini.

Secara terpisah Keuchik Krueng Batu  Arbet Banta membenar bahwa pihaknya melakukan penolakan, pembatalan dan peralihan calon penerima rumah ke Perkim, tapi atas nama Badunsyah bukam Makdunsyah, salah seorang warga Krung Batu yang sudah meninggal dunia.

“Karna Badunsyah sudah meninggal, makanya saya membuat laporan dan saya alihkan pula untuk Leo Saputra,” Papar Keuchik Arbet.

Dan terkait uang Rp 10 Juta yang diminta kepada Makdunsyah, Keuchik Arbet Banta menyanggah bahwa pihaknya cuma meminta biaya pengurusan saja untuk mengalihkan bantuan tersebut atas nama Badunsyah menjadi Makdunsyah.

“Saya cuma meminta beberapa ikhlas saja, karna dia  tidak mau memberi makanya saya alihkan kepada Leo Saputra”. Ungkap Arbet.

Sementara Kabid Perkim Aceh Selatan di Tapaktuan Muchsin mengtakan persoalan itu adalah ranah di Provinsi jadi Perkim Aceh Selatan tidak bisa mencampuri urusan kalau tidak melaui Perkim Provinsi.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...