Ketua Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A), Dr. Samsuardi, MA, menjadi narasumber peHTem edisi Senin, 3 Oktober 2022 episode ke 13 Tahun ke 3 dengan tema: Benarkah di Bawah Tangan Alhudri Pendidikan Aceh Terpuruk? yang dipandu oleh host Siti Aminah, S.IP, M.MLS, Jangan lupa like share comment and subsribe.

Keterpurukan Ekonomi Sebagai Pendongkrak Stunting di Aceh

IstimewaData BPS
A A A

Bila tindakan pemberian subsidi langsung bisa direalisasi, maka kemudian pemerintah perlu membuat kebijakan terhadap pembebasan tugas lainnya bagi ibu-ibu yang memiliki bayi hingga 59 bulan lamanya, artinya tugas ibu-ibu tersebut cuma merawat bayi dan menyusuinya selama masa subsidi.

Dr. Zainuddin, SE, M.Si Akademisi Universitas Serambi Mekkah

SEBUAH artikel berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ramadhan & Ramadhan dari Litbang Kemenkes Aceh menyimpulkan bahwa faktor determinan penyebab stunting yang utama di Provinsi Aceh adalah disebabkan oleh rendahnya pemberian ASI eksklusif terhadap balita (0 sampai 59 bulan), selain itu ASI tidak diberikan secara sempurna oleh ibu bayi.

Faktor kedua adalah pengangguran yang masih tinggi sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Kasus stuting yang terjadi di Aceh menurut amatan penulis semua bermuara dari keterpurukan ekonomi masyarakat itu sendiri.

Seperti halnya bagaimana seorang ibu harus menyusui dengan benar tentu sangat ditentukan oleh kemampuan ekonomi keluarga, bila kemampuan ekonominya tergolong cukup pasti seorang ibu akan menyesui bayinya dengan benar dan bila sebaliknya keadaan ekonomi keluarga senen kemis, maka pasti seorang ibu tak bisa dipaksakan untuk menyesui bayinya secara sempurna.

Selanjutnya, bagaimana jalan keluar tindakan nyata oleh pemangku kepentingan untuk case tentang keadaan ekonomi keluarga yang memiliki anak bayi agar disusui atau menyesui secara sempurna adalah dengan cara harus memiliki data konkrit tentang ibu-ibu yang melahirkan dan dilakukan subsidi langsung kepada setiap ibu yang menyusui hingga 59 bulan.

Tugas mendata ibu-ibu yang memiliki bayi bisa dilakukan dengan menggerakan kemampuan organisasi pemerintahan hingga ke desa-desa dan dibawah tanggung jawab departemen kesehatan yang ada disetiap desa berupa pustu (puskesmas pembatu) yang langsung bertindak sebagai penyuluhan sembari memberi subsidi setiap bulannya.

Sepertinya pemangku kepentingan di Aceh akan lebih nyata kinerjanya dan bernilai untuk menganggarkan dana untuk subsidi khusus ibu-ibu yang menyusui bayi untuk periode lima tahun kedepan sambil secara sungguh-sungguh memperbaiki keadaaan ekonomi Aceh secara totalitas hingga rakyat tidak lagi ada yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Bila tindakan pemberian subsidi langsung bisa direalisasi, maka kemudian pemerintah perlu membuat kebijakan terhadap pembebasan tugas lainnya bagi ibu-ibu yang memiliki bayi hingga 59 bulan lamanya, artinya tugas ibu-ibu tersebut cuma merawat bayi dan menyusuinya selama masa subsidi.

Kemudian, dilain sisi faktor pengangguran juga mempengaruhi tingkat stunting di Aceh, berikut data tingkat pengangguran terbuka di Aceh dari tahun 2018–2020.

Berdasarkan gambar diatas dapat kita lihat adanya peningkatan pengangguran terbuka di Aceh pada tahun 2020 sebesar 6,59% dari total penduduk Aceh. Jika diasumsikan jumlah penduduk Aceh pada tahun 2020 lebih kurang 5 juta, maka yang menganggur mencapai 329.500 orang dan kita asumsikan angka ini sama hingga tahun 2022.

Berarti jika setengah dari pengangguran terbuka ini berkeluarga dan memiliki bayi, maka dapat dipastikan bahwa ada 164.750 bayi yang disusui oleh keluarga penganguran. Tentu pengangguran ini memiliki situasi yang serba kurang dalam segala hal, terutama pasti akan kekurangan gizi itu sendiri dan gizi tersebut sebagai dasar untuk tercipta susu ibu bayi yang berkualitas dan kemudian dapat dipastikan ada 164.750 bayi yang tidak memiliki gizi yang sesuai standar setiap tahunnya di Aceh, bila asumsi tadi konstan.

Dengan demikian, saran penulis untuk memformulasikan subsidi langsung kepada ibu-ibu yang sedang menyesui sesuatu yang realistis demi generasi penerus negeri di kemudian hari. Jika pemangku kepentingan yang ada di Aceh memiliki kepedulian, maka tidak susah untuk menganggarkan dana tersebut dan bisa dengan macam cara sumber yang bisa dilakukan. Keberlanjutan kehidupan masa depan ditentukan oleh kualitas generasi penerus hari ini, maka bila bendera merah putih ingin berkibar hingga sangkal kala ditiupkan mau tidak mau kepedulian terhadap genearasi penerus sesuatu yang mutlak dilakukan. Salam ureung Atjeh untuk Indonesia.[]

Rubrik:OPINI

Komentar

Loading...