Satu unit rumah warga di Kampung Jungke Kecamatan Permata, Bener Meriah hangus dilalap sijago merah, Jumat ( 29/5/2020) sekira pukul 14:30 WIB. Peristiwa tersebut diduga akibat arus pendek listrik (Korsleting listrik).

Anak Gajah Mati dan Membusuk

Kawanan Gajah Liar ‘Bermukim’ di Gampong Baroh

SITI AISYAHTim Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyelidiki penyebab kematian anak gajah.
A A A

ACEH BARAT – Sudah lima hari diperkirakan, puluhan ekor kawanan gajah liar bermukim di kawasan hutan Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya. Sesekali sekelompok hewan dilindungi itu turun ke desa di daerah sekitar untuk mencari makan.

Meski setiap tahunnya, daerah hutan tepatnya di Gampong Baroh sudah menjadi lintasan gajah, warga disana sudah tak heran lagi jika sesekali mendapati ada kelompok gajah liar yang berkeliaran di dalam hutan.

Namun, kali ini sedikit lebih lama hewan dilindungi itu bertahan disana. Hal itu disebabkan, anak gajah yang menjadi bagian dari kawanan ditemukan mati. Kelompoknya diyakini berlama disana karena menjaga bangkai anak gajah tersebut.

Usianya sekitar satu tahun, ditemukan mati dan telah membusuk didalam hutan, lokasi tempat tergeletaknya bangkai anak gajah itu juga terlihat bersih dan rapi. Masyarakat disana meyakini hewan tersebut yang telah membersihkan agar tidak lagi menjadi semak belukar.

Warga sekitar sebelumnya telah mengetahui keberadaan anak gajah liar dalam keadaan sakit disana. Sempat berniat untuk diobati, namun tidak bisa mendekat lantaran dijaga oleh indukannya.

Lalu, pada Rabu (29/4/2020) siang tadi. Tim Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Kepolisian, pihak kecamatan dan perangkat desa turun ke lokasi untuk menyelidiki penyebab kematian hewan dilindungi itu. Bangkai anak gajah itu kemudian dibedah dan diambil beberapa sample untuk diuji lab nantinya.

“Ini adalah salah satu anak gajah liar berjenis kelamin jantan yang kita perkirakan umurnya sekitar satu tahun. Kita sudah melakukan uji nekropsi atau mengambil alat alat vital di dalam tubuh gajah, jantung, hati, isi dalam, ginjal dan lainnya untuk dikirimkan ke lab kita agar dapat menemukan penyebab kematian,” kata dokter hewan BKSDA Aceh, drh Rosa Rika Wahid,

Ia menuturkan, gajah tersebut diperkirakan masih berkeliaran disekitar hutan, dibuktikan dengan jejak indukan yang masih baru, bahkan kawanan tersebut diyakini akan lebih lama bertahan disana karena menemani bagian kawanan mereka yang sudah mati.

“Tadi jejak di sekitar hutan ini memang gajah kawanan, ada jejak gajah indukan yang memang, dan sampai ada bagian dari kawanan (anak gajah) yang mati pun mereka tetap disini menemani,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil dugaan sementara setelah melihat kondisi bangkai gajah, pihak tim medis hewan tidak menemukan adanya tanda kekerasan fisik ataupun luka jerat yang mengakibatkan kematian gajah tersebut. “Untuk sementara dugaan kita gajah ini mati karena factor penyakit internal,” sebutnya.

Diperkirakan ada 30 ekor kawanan gajah masih bertahan disekitar hutan, terkadang sesekali turun ke perkebunan warga. Tak lain, bertahannya mereka disana hanya untuk menamani anak gajah yang sudah mati dan membusuk itu.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...