Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memberikan kewenangan kepada 14 kabupaten/kota di Aceh bersama 88 Kabupaten/Kota lainnya yang berstatus zona hijau atau belum terdampak Covid-19, untuk membolehkan masyarakat melaksanakan kegiatan yang produktif.

Juliandi Djalil Raih Doktor Ilmu Manajemen Unsyiah

ISTIMEWADr. Yuliandi Djalil
A A A

BANDA ACEH - Yuliandi Djalil, dikenal sebagai pria yang memiliki integritas, Inovatif dan kreatif dalam bekerja melayani masyarakat. Dia banyak meraih keberhasilan dalam karier sebagai PNS.

Saat ini Yuliandi Djalil, menjabat sebagai kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Timur.

Dia meniti karir diawali dengan keterlibatnya dalam penanganan pertanahan pasca Tsunami sehingga melahirkan 3 Inovasi pelayanan yang menyentuh kepentingan umum terutama Gampong Agraria, Peradilan Adat Pertanahan dan Kafe Agraria.

Kini Yuliandi pun kembali membuktikan jika dirinya mampu meraih gelar tertinggi di bidang pendidikan, dia mampu menamatkan S3 dan meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Manajemen pada Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Yuliandi dinyatakan lulus dalam ujian (sidang) promosi doktor yang diselenggarakan di Ruang Balai Senat Lt.2 Universitas Syiah Kuala, pada Senin (18/5/2020).

Sidang terbuka promosi doktor untuk Yuliandi diketuai langsung oleh Rektor Universitas Syiah Kuala Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng.

Sedangkan co promotor untuk Yuliandi adalah: Prof Dr Nasir Azis MBA, Dr Mukhlis Yunus SE.MS dan Prof Dr Muhammad Adam, SE MBA

Dengan pertimbangan pencegahan penyebaran pandemi covid-19 sidang terbuka ini terpaksa dilakukan secara daring.

Yuliandi menyelesaikan studi doktornya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan mengangkat disertasi berjudul Disiplin Kerja, Kompetensi, Pemberdayaan, Kepuasan Kerja dan Kinerja Pegawai (Studi pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional di Indonesia).

Ditanya mengapa ia tertarik meneliti judul yang dinilai cukup menantang ini, Yuliandi
pun menjelaskan bahwa kinerja pegawai merupakan inti persoalan yang dapat memperbaiki pelayanan publik yang selama ini dirasakan masih bermasalah tidak hanya di BPN, tetapi juga di jajaran ASN (PNS) di Indonesia.

"Sebagai ASN di jajaran BPN RI saya merasa lega, karena pengetahuan yang saya peroleh dapat saya aplikasikan langsung ditempat bekerja dan semoga menjadi amal ibadah baginya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat," kata Yuliandi.

Selama ini yang dia rasakan banyak kendala dalam penyelengaraan fungsi pelayanan pemerintahan dan pembangunan di unit atau tempat ia bekerja.

"Saya yakin ditempat atau satuan kerja pada segala jenjang atau tingkatan, baik pusat atau daerah, kota maupupun desa masih banyak masalah," ungkapnya.

Berbekal pengetahuan dasar dibidang hukum ternyata kata Yuliandi, ia belum mampu menyelesaikan banyak persoalan manajemen yang dia hadapi terutama untuk membenahi kinerja pribadi dan juga teman sejawat kerja yang lain.

Manajemen itu adalah solutif dan problem solving yang urgen pada di segala era dan dimanapun jua seseorang bekerja.

Meraih doktor tertatih-tatih

Dia menuturkan, berbekal pengalaman kerja dan motivasi, terutama dukungan teman-teman sekerja , pimpinan, dan juga keluarga, sehingga dia memutuskan dengan bismillah memulai kuliah di program doktor ilmu manajemen.

"Memang berat, dengan tertatih -tatih saya mencoba mengenali pengetahuan baru yang sangat strategis itu, kemudian saya dapatkan format belajar tentang manajerial ini yang ternyata sangat luas," tuturnya.

Namun lama kelamaan dirinya fokus dan tertarik pada SDM dan perilaku organisasi yang memang mempunyai relevansi dengan tugasnya selama ini.

Karena itu penelitian yang akan dia buat diarahkan untuk problem solving research dan mempunyai implikasi operasional, baik bagi manajemen maupun bagi pembuat kebijakan.

"Jadi implikasi terutama di operasional kepegawaian di lingkungan kementerian agraria dan tata ruang BPN RI," ujarnya.

Diceritakan, penelitian yang dia lakukan memiliki tujuan untuk mendeskripsikan kinerja pegawai di Kantor Kementerian ATR/BPN. Sumber pemikiran penelitian merujuk kepada pemikiran deduktif (teori) dan induktif (penelitian sampel).

Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara kualititaif dan kuantitatif dengan dukungan statistik deskriptif dan inferensial (induktif).

"Kita ingin melihat apakah mau menguji teori yang dirujuk terkait dengan kondisi pegawai BPN atau melakukan pengujian verifikatif," kata Yuliandi.

Ada yang unik dalam penelitian ini

Namun dengan segala keterbatasan, penelitian yang dia lakukan fokus tentang kinerja pegawai dengan hanya mengidentifikasi variabel kompetensi, pemberdayaan, dan kepuasan kerja PNS di lingkup organisasi verikal BPN.

Ada yang unik dari penelitian ini, lazimnya
pemberdayaan itu langsung atau tidak langsung mempengaruhi kinerja pegawai. Tapi ini unik, yang terjadi dalam penelitai ini justru pemberdayaan yang menjadi aspek penting bagi pengembangan SDM pegawai tanpa dimediasi oleh kepuasan kerja tidak memberikan dampak pada kinerja.

Keunikan ini perlu dicermati dan dicari solusinya dengan terlbih dahulu memahami kondisi sikap mental pegawainya juga manusia biasa.

Hal yang harus dilakukan adalah yakinkan pegawai yang bekerja untuk mengubah perilaku dengan menggunakan data, fakta, angka dan statistik, tidak dengan asumsi dan prasangka, apalagi gosip.

Kita perlu membangkitkan pengalaman positif pada individu yang bekerja jika kita berharap untuk mengubah perilaku di tempat kerja, ungkap yuliandi.

"Selamat kepada Dr. YULIANDI, S.SiT.,MH
Semoga gelar dan ilmu yang di dapat berguna bagi penguatan lembaga dalam mewujudkan Reformasi Birokrasi," ucap Rektor Universitas Syiah Kuala Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...