Pengamat Politik dan pembangunan dari Universitas Muhammadiyah Aceh Dr Taufik A Rahim menyampaikan dari seratus kelompok penerima dana hibah COVID-19 ada diantaranya merupakan underbow Partai Politik. Hal tersebut disampaikan Dr Taufik dalam wawancara peHTem, Kamis (14/1/2021) kemarin. peHTem merupakan salah satu program Poadcash acehimage.com.

Jika Salah Pilih Wakil Gubernur Aceh Runyam, Peran “Broker” politik?

ISTIMEWAAkademisi Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh, Dr Taufiq Abdul Rahim
A A A

BANDA ACEH - Kontestasi pengusulan Calon Wakil Gubernur (Wagub) Aceh, secara tidak resmi semakin meluas dan sudah santer terdengar.

Menurut akademisi Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh, Dr Taufiq Abdul Rahim, Partai politik di luar partai pengusung kini demikian gencar mengincar posisi Wagub Aceh.

Meskipun katanya, secara aturan dan undang-undang (Undang-Undang Pemerintahan Aceh/UUPA Nomor 11 Tahun 2006) tidak secara eksplisit menyatakan mesti dari partai politik pengusung.

"Jadi posisi Wagub semakin "seksi" dan menjadi incaran orang-orang ataupun individu yang memiliki ambisi besar ingin menduduki kursi panas tersebut," kata pengamat politik dan ekonomi pembangunan yang berdomisili di Banda Aceh ini, Sabtu (5/12/2020).

Bukan alang- kepalang, moment menentukan calon Wagub ini semakin banyak para "broker" politik dan para "agen" yang bergentayangan
untuk mencoba melakukan lobby, menghubungkan antar partai dan para politisi, stakeholder guna memperjuangkan calonnya agar dapat dimasukkan menjadi salah seorang dari dua calon yang akan diusulkan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah kepada DPRA.

Tentu saja para "agen" sangat berharap gubernur sudi memasukkan jagoan mareka menjadi salah seorang jadi calon wagub sisa masa jabatan 2017-2022 yang mesti masuk ke Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

"Calon wagub tersebut paling lambat sudah masuk ke DPRA pada 5 Januari 2021," tutur Taufiq.

Taufiq juga melihat, ternyata dikala masih ada calon yang gamang, namun ada juga sosok calon ambisius (sudah) berani menghabiskan uang milyaran rupiah. Sosok tersebut berusaha secara "irrational politics" dengan cara yang tidak patut yaitu menggunakan "money politics".

Konsekwensinya, pragmatisme dan transaksional politik ini akan berdampak kepada kapitalisasi politik, ia akan menarik kembali uangnya dalam jangka waktu dua tahun tersisa, agar uang yang sudah dia keluarkan kembali- pulang modal atau untung dalam jangka waktu singkat sebelum habis masa jabatan 2022.

"Dapat dibayangkan runyam Aceh dan "rakusnya" orang seperti ini untuk mendapatkan jabatan hingga dia bersedia mengeluarkan uang.

"Jika dari awal sudah berani keluarkan uang, tentu bukan tanpa kompensasi, tidak bebas sedekah. Apalagi sudah menjual harta, tanah, rumah dan lain sebagainya," ujar Taufiq.

Sosok seperti ini pasti sudah memperkirakan bila sukses menduduki jabatan Wagub Aceh masa jabatan tersisa, akan menjadi "gladiator politik anggaran" merambah segala proyek publik serta menguasai kebijakan politik anggaran.

Menurut Taufiq, bukan tidak mungkin ia menggunakan kekuasaan politik tertentu untuk dapat menguasai kebijakan anggaran publik dan etika politik Aceh akan semakin runyam terutama perpolitikan anggaran publik dan rakyat akan tetap menjadi korban karena mareka tak akan pernah merasakan perubahan hidup ataupun kesejahteraan.

Dalam istilah Bahasa Inggris "no free lunch", tidak ada makan siang yang gratis, maka dapat dipastikan jika terpilih menjadi Wagub Aceh, maka dia harus mengejar cepat " break event point" (pulang pokok/balancing) dalam jangka waktu singkat.

Kemudian hingga akhir masa jabatan orang ini akan terus berusaha untuk mendapatkan keuntungan material dari modal (uang) yang sudah dia keluarkan.

"Didepan efek "money politics" memiliki target yang tidak mungkin kita analisis secara "rational politics". ujarnya.

Karena itu data dan fakta berbicara (evident based analysis), kondisi serta fenomena ini sudah diketahui masyarakat luas.

"Nah, makanya Pak Gubernur jangan salah pilih calon wagub untuk diusulkan kepada DPRA. Jika keliru, maka konsekwensi politik-ekonomi akan menjadikan Aceh semakin runyam untuk dua (2) tahun ke depan atau setelahnya (jangka panjang), akibatnya moto "Aceh Hebat" menjadi tidak "Hebat","ungkap Taufiq Abdul Rahim.

Rubrik:ACEH

Komentar

Loading...